Gowa, Pataka Eja — Gerakan patungan untuk perlindungan hutan yang digagas pegiat media sosial Ferry Irwandi mencatat lebih dari 100 ribu partisipasi masyarakat.
Hingga Rabu (23/9/2026), tercatat 100.007 orang telah ikut berdonasi dengan total dana yang terkumpul mencapai Rp8.605.769.731.
Ferry menyampaikan perkembangan tersebut melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, @irwandiferry, Rabu (23/9/2026).
Menurut Ferry, capaian tersebut menunjukkan besarnya partisipasi masyarakat sekaligus perhatian publik terhadap persoalan lingkungan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
“Hal ini menunjukkan betapa besarnya partisipasi masyarakat, betapa besarnya keinginan masyarakat untuk membantu saudara-saudaranya dan betapa concern-nya masyarakat kita semua atas apa yang terjadi di Kalimantan, Papua dan Sumatera, terlebih urusan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Ferry.
Ferry menilai 100 ribu orang yang telah berpartisipasi tidak semestinya hanya dipandang sebagai sebuah angka.
Menurutnya, capaian tersebut juga perlu dilihat sebagai bentuk keterlibatan masyarakat dalam memperhatikan dan mengawasi persoalan kebakaran hutan yang terjadi di berbagai daerah.
Ia mengatakan selama ini dirinya kerap menerima pesan dari masyarakat mengenai informasi kebakaran hutan yang berlangsung dalam waktu singkat dan kemudian tidak lagi mendapatkan perhatian publik secara luas.
Namun, menurut Ferry, gerakan patungan tersebut membuat masyarakat tidak hanya berkontribusi melalui donasi, tetapi juga ikut menyampaikan informasi mengenai kondisi yang terjadi.
“Kalau sekarang itu lebih ketat, masyarakat juga melihat, orang-orang juga mikir kalau melakukan tindakan negatif atau yang berdampak buruk pada lingkungan,” katanya.
Ferry juga menilai perhatian terhadap pemberitaan mengenai kebakaran hutan di Kalimantan, Papua, dan Sumatera masih terus terlihat di media sosial.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari peran aktif masyarakat, baik mereka yang ikut berdonasi maupun yang membantu menyebarkan informasi.
“Dan, sampai hari ini pemberitaan tentang kebakaran hutan di Kalimantan ataupun di Papua dan Sumatera masih tetap kita lihat di media sosial,” ujarnya.
Sebelumnya, Ferry menjelaskan bahwa upaya menggalang pendanaan untuk perlindungan hutan bukan perkara sederhana.
Ia mengatakan diperlukan riset mendalam, dialog dengan berbagai pihak, pemahaman terhadap aturan dan hukum yang berlaku, hingga keterlibatan langsung di lapangan untuk memahami persoalan secara menyeluruh.
“Patungan untuk hutan, nggak gampang, rumit, dan njelimet. Itulah kenapa ide ini nggak pernah benar-benar terealisasi dalam skala yang masif,” kata Ferry sebagaimana dikutip dari akun Instagram pribadinya, Jumat (4/9/2026).
Menurut Ferry, seluruh proses tersebut telah dilakukan hingga akhirnya ditemukan solusi untuk merealisasikan gagasan pendanaan kolektif tersebut.
Ia kemudian mengajak masyarakat kembali menunjukkan kekuatan gotong royong melalui pendanaan bersama untuk membantu perlindungan hutan di Kalimantan.
“Berita baiknya, kawan-kawan, semuanya udah gue lakukan, dan syukurnya, solusinya sudah kita temukan. Jadi ya, kalau dalam waktu singkat kita bisa bersama-sama mengumpulkan Rp10,3 miliar untuk Sumatra, Rp9 miliar untuk Flores, maka kali ini mari kita lakukan yang terbaik untuk melindungi hutan Kalimantan,” ujar Ferry.
Ferry menegaskan gerakan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada jumlah dana yang berhasil dihimpun.
Ia menyebut patungan untuk hutan sebagai gerakan jangka panjang yang diharapkan dapat memberikan pesan lebih luas mengenai kepedulian masyarakat terhadap persoalan lingkungan.
“Gerakan patungan untuk hutan ini adalah gerakan jangka panjang. Gerakan ini bukan cuma soal nominal dan kebutuhannya. Tapi soal pesan yang ingin kita sampaikan kepada seluruh dunia dan semoga ini bisa memberikan dampak positif untuk banyak orang,” pungkasnya.




