Oleh: Adryan Noval
Alam semesta diciptakan untuk kemuliaan tuhan, dan manusia adalah bagian dari alam semesta; manusia ada untuk kemuliaan tuhan, dan alam semesta materi ada untuk manusia” Thomas Aquinas. Agama adalah kompas moral manusia yang selalu dicerminkan dengan kemuliaan tuhan, memberi tempat pada keyakinan tuhan sebagai penggerak alam semesta adalah upaya manusia mencari hakikat relasi manusia dan alam semesta.
Pengetahuan yang semakin bergerak maju membuat jangkauan dan batas dimensi satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya semakin tipis dan plural, sehingga dalam perkembangan pengetahuan semua gejala alam itu mampu dijelaskan secara ilmiah empiris yang kemudian berkonsekuensi pula pada pengingkaran terhadap hal hal yang metafisis. Penyangkalan tersebut menjadi dasar pijakan thomas aquinas untuk menerangkan kita pada konsepsi tuhan dan batasan manusia dalam menalarnya.
Pengalaman spiritual bagi thomas aquinas juga banyak mempengaruhi pondasi kita dalam meyakini keberadaan tuhan, seperti yang dia katakan bagi mereka yang mempunyai iman tidak memerlukan penjelasan bahwa tuhan itu ada, karena pengalaman spiritual yang tiap manusia alami adalah hal yang misterius dan bukan sekedar gejala ilmiah, begitupun sebaliknya bagi Aquinas mereka yang tidak memiliki iman tidak akan meyakini penjelasan apapun terkait pembuktian Tuhan itu ada, bagi Aquinas mereka sudah tidak memberi tempat pada hal-hal metafisik untuk menerangkan bahwa realitas itu tidak semata mata gejala ilmiah.
Penulis dalam beberapa kesempatannya juga sering mempertanyakan apakah Tuhan itu ada ketika sains semakin canggih? Yang segala hal dianggap diluar nalar manusia mampu diciptakan oleh sains, misalkan dalam eksperimen sains ada upaya menghidupkan kembali organisme kecil sampai organisme besar dan kompleks seperti hewan, jika upaya itu terbukti apakah itu bukti bahwa jiwa itu juga adalah gejala sains, karena kalaupun bukan merupakan gejala sains, apakah itu artinya Tuhan tunduk pada kehendak bebas manusia.
Argumentasi-argumentasi teologis akan runtuh dengan sendirinya karena jika Tuhan itu maha, maka dia tidak dideterminasi oleh apapun termasuk kehendak bebas manusia, karya karya Thomas Aquinas sedikit banyaknya menerangkan pada penulis bahwa sejauh manusia merefleksikan semesta tidak akan mampu menerangkan Tuhan seterang menerangkan diri manusia, dari segala keterbatasan manusia untuk menjelaskan tuhan thomas aquinas menawarkan konsep yang dikenal dengan analogia.
Tradisi Skolastik dan Identitas Aquinas
Tradisi skolastik merupakan sebuah periode intelektual yang berlangsung pada Abad Pertengahan Akhir di Eropa, mulai sekitar abad ke-12 hingga ke-17. Periode ini dicirikan oleh upaya para cendekiawan untuk mengintegrasikan warisan filsafat Yunani klasik, terutama dari Aristoteles, dengan ajaran agama Kristen, terutama teologi Katolik. Proses integrasi ini menghasilkan kerangka pemikiran yang kompleks dan sistematis yang dikenal sebagai skolastisisme.
Latar belakang tradisi skolastik sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, periode ini merupakan masa di mana terjadi pertemuan budaya antara dunia Kristen Eropa dan pengetahuan klasik Yunani dan Romawi yang baru-baru ini ditemukan kembali. Karya-karya filsuf seperti Aristoteles, Plato, dan Seneca diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi tersedia bagi para sarjana Kristen. Selain itu, munculnya universitas di Eropa, seperti Universitas Paris dan Oxford, memberikan wadah bagi perkembangan intelektualitas dan pendidikan yang sistematis.
Pengaruh kekristenan juga sangat kuat dalam tradisi skolastik. Para sarjana skolastik percaya bahwa pengetahuan alam semesta dapat disatukan dengan kebenaran iman Kristen. Mereka berusaha untuk menyelaraskan doktrin-doktrin agama dengan penemuan-penemuan filsafat. Dalam upaya ini, karya-karya para teolog seperti Santo Agustinus dari Hippo dan Santo Anselmus dari Canterbury menjadi sangat penting dalam membentuk kerangka pemikiran skolastik.
Salah satu tokoh paling terkenal dalam tradisi skolastik adalah Santo Thomas Aquinas. Aquinas sangat dipengaruhi oleh filsafat Aristoteles, terutama dalam karyanya yang monumental, “Summa Theologica”. Dalam karyanya, Aquinas mencoba untuk menyatukan ajaran Aristotelian tentang metafisika, etika, dan epistemologi dengan ajaran-ajaran agama Kristen. Pendekatan ini dikenal sebagai sintesis Thomistik, yang menempatkan Aquinas sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam tradisi skolastik.
Yuris Aquinas Menerima Gugatan
Upaya memadukan pandangan filosofis dengan tradisi-tradisi kegerejaan mengalami polemik, gugatan akan peniadaan Tuhan menjadi hal pertama yang mesti di terangkan oleh thomas aquinas, argumentasi bahwa jika tuhan ada dan kuasa dengan segala kebaikannya, maka cukup sederhana untuk membuktikan keberadaan Tuhan.
Yakni seberapa banyak kebaikan yang terhitung bukan semakin banyak kejahatan yang terjadi di dunia, Aquinas tentu punya jawaban akan pernyataan pernyataan tersebut, baginya tuhan tidak menghendaki kejahatan melainkan membiarkan kejahatan itu terjadi, sebab menurut Aquinas kebaikan itu akan tumbuh setelah banyaknya kejahatan atau secara sederhana tuhan ini menuntun moralitas manusia secara sadar untuk memahami arti kebaikan dibalik kejahatan.
Keraguan akan keberadaan Tuhan juga tidak berhenti sampai disitu, kemajuan pengetahuan menjadi salah satu alasan manusia skeptis terhadap keberadaan Tuhan, sebab segala gejala realitas mampu dijelaskan secara ilmiah melalui sains yang kemudian hari melemahkan ketergantungan manusia terhadap dalil dalil agama, penulis menjadi teringat dengan perjalanan spiritual jurgen habermas yang setidaknya mengalami tiga fase perubahan spiritual yang awalnya skeptis dengan posisi agama di tengah kemajuan sains hingga meyakini agama sebagai satu satunya supremasi moral manusia.
Thomas Aquinas tentu memahami bahwa membuktikan tuhan itu ada secara scientific dengan rumus yang rigid itu mustahil sebab Tuhan itu lebih besar dari manusia dan tuhan bersifat metafisik sehingga pembuktian seperti itu mustahil untuk diterangkan, thomas aquinas memiliki metode tersendiri untuk membuktikan keberadaan tuhan dengan keterbatasan yang dimiliki manusia.
Ada tiga jalan analogi (ungkapan bahasa) Pertama, Via Positiva argumentasi yang berangkat dengan kesimpulan bahwa keserupaan pencipta dan yang diciptakan, argumentasi ini ingin menjelaskan bahwa manusia sebagai ciptaan memiliki sifat yang merupakan manifestasi Tuhan, adanya sifat pada manusia adalah bentuk afirmasi keberadaan Tuhan. Kedua, Via Negativa dengan argumentasi bahwa sekalipun manusia dan tuhan itu serupa tetapi Tuhan Lebih Jauh dari manusia, tuhan tidak begitu sama dengan manusia dijelaskan oleh Thomas Aquinas dengan pernyataan Ketiga, Via Eminens Tuhan lebih tinggi dengan kata maha, bentuk perbedaan jarak keserupaan tuhan dengan manusia dalam arti hirarki dengan tuhan sebagai wujud moralitas tertinggi itu sendiri, dan manusia adalah manifestasinya sehingga manusia akan terus bergerak menuju kesempurnaan tuhan.
Lima Jalan Pembuktian Eksistensi Tuhan
Argumen Gerak Pertama, dalam summa contra gentiles Thomas Aquinas menyebutnya sebagai manifestor via dalam pengertian ini setiap hal yang digerakkan adalah digerakkan oleh yang lain, jika yang itu sendiri dipindahkan, itu harus dipindahkan oleh agen yang lain, bayangkan bola di atas meja. Jika bola itu bergerak, ada sesuatu yang membuatnya bergerak, misalnya tangan yang mendorongnya.
Namun, tangan itu sendiri bergerak karena ototnya diberi perintah oleh otak. Ini mengarah pada pertanyaan: apa yang memulai gerakan pertama? Aquinas berargumen bahwa harus ada penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh sesuatu yang lain, dan inilah yang kita sebut sebagai Tuhan.
Argumen Sebab Pertama, penyebab yang efisien, tidak ada yang bisa menjadi penyebabnya sendiri karena untuk menjadi seperti ini, dia harus ada sebelum dirinya sendiri, disisi lain tidak mungkin melanjutkan hingga tak terbatas dalam rangkaian penyebab efisien, oleh karena itu harus ada penyebab efisien pertama yang semua orang sebut tuhan, menjadi penyebab suatu hal.
Misalnya, kenapa ada bunga? Karena ada benih yang tumbuh menjadi bunga. Tapi benih itu sendiri berasal dari bunga lain. Lalu, dari mana bunga pertama berasal? Aquinas mengatakan bahwa harus ada sebab pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun, dan itulah Tuhan.
Argumen Ketergantungan memulai dari fakta bahwa beberapa makhluk muncul dan binasa, yang menunjukkan bahwa mereka tidak dapat dan dapat menjadi, bahwa mereka bergantung (kontingen). Ketika Anda melihat di sekitar, Anda menyadari bahwa banyak hal bergantung pada hal lain untuk eksistensinya. Misalnya, tumbuhan bergantung pada air dan matahari untuk tumbuh.
Namun, air dan matahari juga bergantung pada sesuatu yang lain untuk eksistensinya. Aquinas berpendapat bahwa jika semua hal bergantung pada yang lain, harus ada sesuatu yang tidak bergantung pada apa pun untuk eksistensinya, yaitu Tuhan.
Argumen Tingkat Keburukan kita bisa melihat bahwa ada tingkat-tingkat kualitas di dunia ini, seperti kebaikan dan keindahan. Misalnya, ada makanan yang enak dan ada yang tidak enak. Aquinas mengatakan bahwa harus ada “yang paling baik” yang menjadi patokan untuk semua kebaikan dan keindahan lainnya, dan itulah Tuhan.
Argumen Tujuan Akhir: ketika anda melihat ke sekitar Anda, anda mungkin menyadari bahwa banyak hal tampaknya dirancang untuk tujuan tertentu. Misalnya, mata dirancang untuk melihat, dan daun-daun di pohon dirancang untuk menangkap cahaya matahari. Aquinas berpendapat bahwa untuk ada tujuan di alam semesta, harus ada Intelek yang merancangnya, yaitu Tuhan.
Penutup
Konsep lima jalan menuju Tuhan yang dirumuskan oleh Santo Thomas Aquinas merupakan bagian dari tradisi skolastik yang berkembang pada Abad Pertengahan di Eropa. Dalam tradisi ini, logika dan penalaran rasional menjadi sangat penting dalam memahami teologi Kristen. Aquinas menggunakan pemikiran filosofis dan pengamatan alam semesta untuk membuktikan keberadaan Tuhan.
Ia menggabungkan ajaran agama Kristen dengan filsafat Yunani klasik, terutama Aristoteles. Konsep lima jalan Aquinas adalah upaya untuk merumuskan argumen-argumen yang mendukung keyakinan Kristen secara sistematis dan rasional. Dia menggunakan metode dialektis, yang melibatkan pemikiran kritis, debat, dan sintesis, dalam menyusun argumennya. Dengan menggunakan logika dan penalaran rasional, Aquinas berusaha memperkuat keyakinan Kristen dengan membuktikan keberadaan Tuhan melalui argumen-argumen filosofis yang kokoh. Ini merupakan contoh bagaimana tradisi skolastik mempengaruhi pemikiran teologis dan filsafat pada Abad Pertengahan.



