Pataka Eja – Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,26 persen ke level Rp18.009 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (27/7/2026). Pelemahan tersebut membuat rupiah kembali berada di atas Rp18.000 per dolar AS di tengah pengumuman pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 9 poin ke level Rp17.972 per dolar AS sebelum terus bergerak di zona merah hingga akhirnya ditutup di level Rp18.009 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang di kawasan Asia justru mencatat penguatan terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,17 persen, yuan China naik 0,08 persen, ringgit Malaysia menguat 0,13 persen, baht Thailand menguat 0,41 persen, dan peso Filipina naik 0,26 persen. Sementara itu, won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang ikut melemah terhadap dolar AS, yakni sebesar 0,68 persen.
Di tengah pelemahan rupiah, pemerintah mengumumkan pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Pengumuman tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta.
Untuk mengisi kekosongan jabatan, Bank Indonesia menunjuk Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI. Destry telah menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior sejak 2019 dan sebelumnya dikenal sebagai Chief Economist Mandiri Sekuritas.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergantian pimpinan Bank Indonesia tidak serta-merta akan mampu menguatkan nilai tukar rupiah.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi bank sentral saat ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar pergantian figur pemimpin.
Ia menilai Perry Warjiyo selama ini telah berupaya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan ekonomi global yang terus berlanjut.
“Perry Warjiyo sudah bekerja keras untuk menahan agar rupiah ini mengalami penguatan, tapi kita lihat sampai saat ini belum bisa mengangkat nilai rupiah,” kata Ibrahim dilansir dari fajar.co.id, Senin (27/7/2026).
Menurut Ibrahim, siapa pun yang nantinya memimpin Bank Indonesia akan menghadapi tantangan yang sama beratnya dalam menjaga stabilitas rupiah.
“Ini adalah sesuatu yang luar biasa bagi Gubernur BI. Kita lihat, siapa pun yang memimpin BI sangat sulit membuat penguatan rupiah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah menginginkan nilai tukar rupiah kembali menguat ke kisaran Rp16.500 per dolar AS. Namun, target tersebut dinilai tidak dapat dicapai hanya melalui pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia.
“Pemerintah itu mau rupiah kembali menguat ke Rp16.500, tapi yang kita lihat tidak serta merta mengalami penguatan,” pungkasnya.




