Makassar, Pataka Eja — Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Makassar dalam beberapa hari terakhir mendapat sorotan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Alih-alih menyebut kelangkaan sebagai penyebab utama, Bahlil justru menyoroti perilaku masyarakat yang mengantre untuk mendapatkan BBM subsidi. Ia bahkan mengungkap adanya indikasi kendaraan sengaja mengantre meski tangki BBM belum dalam kondisi kosong.
Dilansir dari finance.detik.com, Bahlil mengatakan sebagian pengendara disebut tetap mengantre meski masih memiliki BBM di dalam tangki. Menurutnya, ada kendaraan yang hanya mengisi sekitar 10 hingga 20 liter.
“Bahkan ada beberapa indikasi sengaja motor dan mobil itu antre, tangkinya belum kosong sudah antre. Isinya ada yang cuma 15 liter, 10 liter, 20 liter,” kata Bahlil.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil ketika menjelaskan penyebab antrean BBM subsidi yang terjadi di Makassar.
Bahlil membantah antrean tersebut disebabkan oleh kelangkaan BBM subsidi. Ia menyebut cadangan BBM nasional masih berada di atas standar minimum, yakni sekitar 20 hari.
Menurut Bahlil, antrean salah satunya dipicu fenomena peralihan atau shifting masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi. Peralihan itu disebut terjadi karena adanya perbedaan harga yang cukup tinggi.
“Masalahnya sekarang, adalah banyak orang awalnya tidak memakai subsidi, kemudian shifting ke subsidi, ini karena harganya melonjak. Itulah yang terjadi sebagian di Makassar,” ujarnya.
Bukan hanya pengendara yang disebut beralih ke BBM subsidi, Bahlil juga menyinggung dugaan penyalahgunaan BBM subsidi oleh kendaraan tertentu.
Ia menyebut terdapat mobil Pajero dan truk yang diduga telah dimodifikasi dengan tangki berkapasitas sangat besar untuk mengisi BBM subsidi. Kapasitas tangki tersebut bahkan disebut dapat mencapai 700 liter hingga 1 ton.
“Dan ternyata Bapak, Ibu semua, saya minta tolong kerja sama sama Kepolisian, itu adalah ada sebagian shifting, tapi jauh lebih dari itu adalah ada mobil-mobil Pajero, mobil-mobil truk, bikin tangki gede, besar, sampai 700 liter 1 ton, isi minyak di situ,” kata Bahlil.
Atas dugaan tersebut, Bahlil meminta dukungan Kepolisian untuk menindak kendaraan yang diduga menyalahgunakan BBM subsidi.
Bahlil juga mempertanyakan mengapa antrean tetap terjadi jika stok BBM nasional masih mencukupi.
“Aku sudah cek, apa ini masalahnya, karena cadangan nasional kita 20 hari. Harusnya enggak logic masa terjadi antre?” ujarnya.
Rangkaian pernyataan tersebut menunjukkan Bahlil lebih banyak menyoroti perilaku konsumen sebagai salah satu penyebab antrean, mulai dari peralihan pengguna BBM nonsubsidi ke subsidi, kendaraan dengan tangki modifikasi, hingga pengendara yang disebut tetap mengantre meski tangki belum kosong.
Di sisi lain, antrean panjang tetap menjadi persoalan yang dirasakan langsung masyarakat di SPBU. Karena itu, persoalan tersebut tidak hanya menyisakan pertanyaan mengenai perilaku konsumen, tetapi juga bagaimana pemerintah memastikan stok, distribusi, pengawasan, dan penyaluran BBM subsidi berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Sebab, ketika antrean panjang terjadi dan masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam di SPBU, persoalannya tidak berhenti pada siapa yang mengantre, tetapi juga bagaimana sistem distribusi BBM subsidi mampu mencegah kondisi tersebut berulang.




