Pataka Eja – Paradigma masyarakat terhadap jurusan peternakan dinilai perlu diubah. Jika selama ini jurusan tersebut kerap dipandang sebelah mata dan hanya identik dengan pekerjaan memelihara ternak, kini ilmu peternakan telah berkembang menjadi disiplin ilmu modern yang mengintegrasikan sains, teknologi, bisnis, hingga inovasi digital.
Lulusan jurusan peternakan juga disebut memiliki prospek kerja yang jauh lebih luas dibanding anggapan masyarakat selama ini. Peluang karier terbuka di berbagai sektor, mulai dari industri pakan ternak, perusahaan pembibitan (breeding), manajemen peternakan (farm management), konsultan nutrisi ternak, peneliti, akademisi, instansi pemerintah, hingga menjadi wirausahawan yang mengembangkan usaha peternakan berbasis teknologi.
Menurut alumnus Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa, Imran Satria, S. Tr.Pt, sektor peternakan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional yang kini menjadi salah satu fokus pemerintah.
Ia menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi meningkatkan permintaan terhadap komoditas peternakan seperti telur, daging ayam, susu, dan berbagai produk protein hewani lainnya. Kondisi tersebut dinilai dapat membuka peluang usaha sekaligus memperluas lapangan kerja di sektor peternakan.
“Peternakan adalah sektor strategis yang akan terus dibutuhkan. Ketahanan pangan tidak akan tercapai tanpa didukung sumber daya manusia yang berkualitas di bidang peternakan. Karena itu, sudah saatnya masyarakat memandang jurusan peternakan sebagai pilihan masa depan, bukan pilihan terakhir,” kata Imran.
Ia menjelaskan, perkembangan ilmu peternakan saat ini jauh lebih maju dibanding persepsi masyarakat pada masa lalu. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teknik budidaya ternak, tetapi juga dibekali ilmu genetika, reproduksi, nutrisi, kesehatan hewan, manajemen usaha, pengolahan hasil ternak, hingga penerapan teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan sistem kandang modern closed house yang mampu meningkatkan efisiensi produksi.
Selain pembelajaran di kelas, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman praktik lapangan sehingga memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Meski demikian, Imran mengakui stigma negatif terhadap jurusan peternakan masih menjadi tantangan. Tidak sedikit siswa maupun orang tua yang masih menganggap peternakan sebagai pilihan kedua setelah bidang kesehatan atau teknik.
Padahal, menurutnya, meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pangan berbasis protein hewani seiring pertumbuhan jumlah penduduk menjadikan sektor peternakan sebagai salah satu bidang yang memiliki prospek menjanjikan.
Ia menilai edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting untuk mengubah cara pandang tersebut. Sebab, peternakan saat ini bukan sekadar aktivitas memelihara ayam, sapi, atau kambing, melainkan telah berkembang menjadi industri bernilai besar yang membutuhkan tenaga profesional, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Dengan meningkatnya investasi, dukungan pemerintah, serta perkembangan teknologi di sektor peternakan, Imran optimistis jurusan peternakan akan semakin diminati generasi muda.
Ia berharap lulusan peternakan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru serta menjadi motor penggerak pembangunan sektor peternakan nasional.
Menurutnya, perubahan cara pandang masyarakat terhadap jurusan peternakan merupakan salah satu langkah penting dalam mewujudkan ketahanan pangan Indonesia. Sebab, di balik setiap produk pangan asal ternak yang dikonsumsi masyarakat, terdapat peran besar para insan peternakan dalam menjaga kualitas, produktivitas, dan keberlanjutan pasokan pangan nasional.




