Puisi Oleh : Caca
Setiap kali kucoba menenangkan diri,
aku selalu dikalahkan oleh rasa takut—
seolah ia lebih dahulu mengenal rapuhku
daripada aku mengenal diriku sendiri.
Selalu ada kata andai
yang berjalan pelan di samping langkahku,
berbisik lirih,
namun tak pernah benar-benar pergi.
Di hadapanku terbentang jalan yang sunyi dan kosong.
Aku hanya mampu menatapnya dengan ragu,
menimbang kemungkinan-kemungkinan
yang tak pernah menjanjikan kepastian.
Dalam diam, pertanyaan datang tanpa jeda:
akankah kutemukan terang di ujung jalan?
Akankah senyum yang tulus menungguku
setelah semua ini berlalu?
Kepalaku penuh oleh tanya
yang berputar seperti angin tak kasatmata,
menahanku tetap di tempat yang sama—
diam bersama waktu
yang terus berjalan tanpa menoleh.
Sesekali angin menggoyahkan tubuhku,
seakan mengingatkan
bahwa aku masih berdiri,
meski langkah terasa begitu berat.
Rasa takut itu menetap dalam diriku;
bukan sekadar singgah,
melainkan tumbuh dan berakar,
menjadikan setiap langkah
sebagai perjuangan yang tak terlihat.
Orang-orang mengenalku sebagai sosok yang kuat,
yang selalu berani dan tak pernah ragu.
Tak seorang pun menyangka
ada kegelisahan yang diam-diam hidup di dalam dada.
Mereka tak tahu,
di balik segala yang tampak teguh,
akulah yang paling sering kalah
oleh pikiranku sendiri.
Aku kalah pada keadaan,
kalah pada risiko yang menghantui,
kalah pada penyesalan
yang tak kunjung usai.
Dan pada akhirnya,
aku hanya mampu diam,
membeku di tempat yang sama,
menjadi saksi bagi diriku sendiri—
yang tak pernah benar-benar melangkah.




