Opini Oleh : Rezky Triananda Sofyan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program yang paling banyak dibicarakan dalam beberapa waktu terakhir. Di satu sisi, program ini disambut sebagai langkah besar negara dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak sekolah.
Namun di sisi lain, berbagai kritik dan evaluasi mulai bermunculan, mulai dari kualitas makanan, distribusi, hingga efektivitas penggunaan anggaran negara yang sangat besar. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah MBG benar-benar menjadi Makanan Bergizi Gratis, atau perlahan berubah menjadi Makanan Bersyukur Gratis?
Istilah “Makanan Bersyukur Gratis” mungkin terdengar satir, tetapi istilah ini muncul dari realitas yang terjadi di lapangan. Ketika masyarakat menerima makanan yang kualitasnya dipertanyakan, porsi yang tidak sesuai kebutuhan gizi, atau menu yang kurang layak, sering kali respons yang muncul adalah, “Sudah gratis, disyukuri saja.” Kalimat tersebut seolah menjadi tameng yang membuat kritik terhadap kualitas program dianggap sebagai bentuk ketidakbersyukuran.
Padahal, dalam konteks kebijakan publik, masyarakat tentunya mempunyai hak mengkritisi program yang dibiayai oleh uang negara. Program MBG bukanlah bantuan dari kantong pribadi pejabat atau pemerintah, melainkan berasal dari anggaran dari pajak dan sumber pendapatan negara lainnya.
Karena itu, masyarakat berhak menuntut agar program tersebut memenuhi tujuan awalnya, yakni menyediakan makanan yang benar-benar bergizi, aman, dan layak dikonsumsi.
Tujuan utama MBG sebenarnya sangat bagus. Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai persoalan gizi, mulai dari stunting, anemia pada remaja putri, hingga ketimpangan akses pangan bergizi di berbagai daerah.
Kehadiran MBG diharapkan mampu menjadi salah satu intervensi untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini. Dalam jangka panjang, investasi pada gizi anak akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, produktivitas kerja, hingga daya saing bangsa.
Namun, tujuan yang baik tidak mampu menjamin penyelenggaraan program yang baik. Dalam berbagai laporan, banyak ditemukan permasalahan dalam penerapan program seperti, makanan tidak layak konsumsi, menu yang menonton, bahkan tidak memiliki standar gizi yang jelas. Situasi seperti ini memunculkan kekhawatiran bahwa fokus program bergeser dari “bergizi” menjadi sekadar “ada makanan yang dibagikan.”
Kata “bergizi” harusnya menjadi inti dari program ini. MBG bukan hanya tentang membuat anak kenyang, tetapi memiliki kandungan gizi yang layak seperti karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Sayangnya, dalam praktiknya, keberhasilan program seringkali diukur berdasarkan jumlah penerima manfaat atau banyaknya porsi yang berhasil dibagikan.
Ukuran kuantitas memang penting, tetapi tidak boleh mengabaikan kualitas. Tidak ada gunanya jutaan porsi makanan dibagikan jika kandungan gizinya tidak sesuai standar atau bahkan berpotensi membahayakan kesehatan penerima. Bahkan di beberapa SPPG, kandungan gizi pada makanan yang dibagikan seakan dilebih-lebihkan, tentunya ini menjadi pertanyaan besar terkait dengan urgensi adanya MBG ini.
MBG harusnya menjadi program kesehatan masyarakat, bukan hanya program pembagian makanan. Dalam perspektif kesehatan masyarakat, keberhasilan suatu intervensi tidak diukur dari seberapa banyak bantuan yang diberikan, melainkan dari dampak yang dihasilkan.
Apakah angka stunting menurun? Apakah status gizi anak membaik? Apakah konsentrasi belajar siswa meningkat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah kotak makanan yang telah dibagikan.
Kritik pada program MBG juga seharusnya tidak dianggap sebagai usaha menjatuhkan pemerintah. Justru kritik yang dilontarkan adalah bentuk kepedulian masyarakat terhadap kebijakan publik.
Jika yang ditemukan adalah kekurangan, maka sudah seharusnya monitoring dan evaluasi serta perbaikan dilaksanakan, bukan malah membungkam kritik dengan pernyataan “kurang bersyukur”.
Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak boleh hanya berhenti pada label “gratis.” Kata yang lebih penting justru terletak pada kata “bergizi.” Sebab yang dibutuhkan anak-anak Indonesia bukan sekadar masakan tanpa biaya, melainkan makanan yang mampu mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.
Jika kualitas makanan tidak menjadi prioritas utama, maka tujuan besar meningkatkan kualitas generasi bangsa akan sulit tercapai.
Karena itu, pertanyaan “MBG, Makanan Bersyukur Gratis atau Makanan Bergizi Gratis?” seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pihak bahwa keberhasilan program ini tidak ditentukan oleh seberapa banyak makanan yang dibagikan, melainkan oleh seberapa besar manfaat kesehatan dan gizi yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Program ini akan layak diapresiasi bukan karena gratisnya, tetapi karena kualitas yang disediakan. Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan makanan yang hanya membuat mereka bersyukur telah menerima bantuan, melainkan makanan yang benar-benar bergizi dan mampu menjadi investasi bagi masa depan bangsa.




