Oleh: Hajrawati
Selain kopi gula aren yang sering saya anggap sebagai simbol kecil “self-reward”, saya juga punya kebiasaan lain yang jauh lebih sunyi yaitu merayakan hari gajian dengan mie ayam hehe. Mungkin karena hampir semua orang punya relasi dengan mie ayam, entah sebagai makanan favorit, pengganjal lapar, atau sekadar teman hari biasa.
Tidak ada antrian panjang, jarang di tempat yang estetik yang biasanya suka dikunjungi sama gen-z, yang katanya bisa jadi tempat healing. Bagi saya mie ayam itu rasanya sudah bisa ditebak bahkan sebelum mangkuknya datang. Dan justru disitu letak perayaannya.
Dalam dunia yang seolah pencapaian harus dirayakan dengan sesuatu yang terlihat naik kelas, pilihan saya mungkin terdengar sedikit ironis. Kopi gula aren memberi ilusi perayaan kekiniaan (tapi sering tidak bisa berkompromi dengan lambung), selain itu menurut saya mie ayam lebih menawarkan kejujuran. Ia tidak menjanjikan gaya hidup, hanya rasa cukup, dan mungkin itu sebabnya disukai banyak orang.
Kebiasaan semacam ini , psikologi menyebutnya sebagai reward sederhana atau penghargaan kecil yang realistis, terjangkau, dan konsisten, agar manusia tidak kelelahan mengejar validasi yang terlalu besar. Perayaan tidak selalu tentang kemewahan, tapi tentang keberlanjutan, bagaimana seseorang menjaga dirinya tetap waras dari satu bulan ke bulan berikutnya.
Bahkan Brian Khrisna, dalam Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, tidak menempatkan mie ayam sebagai makanan heroik. Ia menjadikannya simbol dari sesuatu yang cukup. Cukup untuk menunda keinginan menyerah.
Cukup untuk berkata, “hari ini berat, tapi belum selesai.” Judulnya terdengar sarkastik, namun jujur, seperti mie ayam itu sendiri. Barangkali karena itulah buku itu jadi terasa dekat, ia berbicara tentang sesuatu yang hampir semua orang kenal.
Secara sosial, mie ayam selalu hadir di ruang-ruang transisi. Ia menemani hari gajian sekaligus akhir bulan. Menyapa mereka yang baru menerima upah, juga mereka yang sedang menghitung sisa receh, apalagi anak kos di perantauan.
Dari orang-orang yang saya temui di warung-warung mie ayam, dan teman-teman saya yang juga suka mie ayam saya bisa menyimpulkan bahwa mie ayam jadi pengalaman bersama lintas kelas yang tidak menuntut status, dan karena itu mudah diterima oleh hampir siapa saja.
Sejarahnya pun mencerminkan hal tersebut. Mie ayam merupakan adaptasi kuliner Tionghoa khususnya bakmi, yang kemudian disesuaikan dengan lidah lokal, budaya halal, dan ekonomi rakyat. Ia lahir bukan dari meja bangsawan, melainkan dari gerobak, perantauan, dan kota yang terus bergerak. Ia bertahan karena fleksibel, murah, dan tidak eksklusif membuatnya disukai secara luas.
Secara tidak sadar, mie ayam mengajarkan hal yang jarang dibicarakan dalam narasi kesuksesan bahwa bertahan tidak selalu membutuhkan strategi besar. Kadang cukup ritual kecil yang bisa diulang. Duduk, makan, pulang. Besok lanjut lagi. Ritual semacam ini terasa akrab karena dialami oleh banyak orang.
Mungkin itu sebabnya mie ayam tidak pernah benar-benar hilang. Ia tidak menjanjikan kebahagiaan, tidak menawarkan transformasi hidup. Tapi ia konsisten hadir, sebagai pengingat sunyi bahwa hidup tidak harus spektakuler untuk layak dijalani, dan bahwa hal yang disukai hampir semua orang seringkali justru yang paling bertahan lama.
Dan mungkin, merayakan gajian dengan mie ayam bukan tanda kurang ambisi. Bisa jadi justru tanda seseorang tahu kapan harus berhenti sejenak agar tidak habis sebelum waktunya.
Barangkali, karena hampir semua orang punya ceritanya sendiri dengan mie ayam, tidak berlebihan jika makanan ini terus hadir di banyak kehidupan, termasuk di hidup saya hari ini. Sekarang, saya tidak hanya merayakan gajian dengan mie ayam. Saya juga menjualnya. Bukan sebagai simbol besar apapun, hanya sebagai seporsi kecil yang mungkin bisa menemani hari orang lain bertahan sedikit lebih lama atau kata Brian Krishna “seporsi mie ayam sebelum mati”
Saya jual mie ayam, teman-teman. Maaf kalau tulisan ini mengandung iklan.




