Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Ijazah Menjadi Tiket Kemiskinan: Krisis Pengangguran Sarjana di Gerbang Timur Menuju Titik Nadir

Pataka Eja by Pataka Eja
24 Desember 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 12 19 At 20 16

Oleh: A.n Rahim

Makassar, 19 Desember 2025, Gema prosesi wisuda di aula-aula megah seperti Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Makassar (UNM), hingga UIN Alauddin Makassar kini tidak lagi terdengar sebagai simfoni kemenangan intelektual, melainkan lonceng peringatan bagi runtuhnya harapan masa depan. Di balik jubah toga yang mentereng, ribuan sarjana di Sulawesi Selatan menghadapi kenyataan pahit ini tidak bisa dinafikkan : melangkah langsung menuju jurang ketidakpastian akibat pengabaian sistemik negara terhadap aset intelektual daerah.

Tragedi di Makassar ini bukanlah fenomena terisolasi, melainkan mikrokosmos dari retaknya panggung masa depan yang juga menghantui lulusan universitas elit nasional seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), hingga Institut Teknologi Bandung (ITB). Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi anomali yang meresahkan di mana Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) justru didominasi oleh kelompok berpendidikan tinggi. Lulusan universitas mencatatkan angka pengangguran yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya mengecap pendidikan dasar. 

Kondisi ini membuktikan adanya kegagalan struktural berskala nasional: semakin tinggi pendidikan seseorang di negeri ini, semakin besar peluangnya untuk menjadi pengangguran terdidik. Pendidikan, yang seharusnya menjadi eskalator sosial, kini berubah menjadi perangkap ekonomi.

Paradoks Pertumbuhan dan Kegagalan Hilirisasi

Sulawesi Selatan, yang selama ini diagungkan sebagai Hub Indonesia Timur dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas rata-rata nasional, menyimpan paradoks kelam yang meresahkan. Krisis ini berakar pada absennya hilirisasi industri yang nyata dan kegagalan transformasi ekonomi nasional.

Struktur ekonomi kita masih terjebak pada sektor primer dan eksploitasi bahan mentah tanpa nilai tambah. Meski sektor pertanian menyumbang lebih dari 20 persen PDRB regional, teknologi yang diterapkan masih tradisional dan gagal menyerap tenaga ahli lokal.

Akibatnya, sarjana teknik dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) atau ahli agribisnis dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar hanya menjadi penonton berijazah di tengah masifnya pengerukan kekayaan alam Celebes. Kondisi ini memicu eksodus intelektual ke tanah Jawa, di mana mereka terpaksa bertarung memperebutkan posisi staf administratif rendah atau menjadi pengemudi ojek daring bersama lulusan Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

Gelar sarjana yang diraih dengan peluh dan biaya mahal kini hanya menjadi syarat administratif bagi pekerjaan yang mengubur martabat akademik dan menyia-nyiakan investasi besar keluarga.

Refleksi Keadilan: Kritik dari Kasus Rahim

Ketimpangan ini memicu refleksi kritis dari para akademisi dan mahasiswa seperti Rahim di Makassar. Dalam risetnya mengenai kebijakan nasional, Rahim menemukan kontradiksi filosofis yang menohok: ketika negara mampu mengerahkan sumber daya teknologi tinggi demi kepentingan politik dan birokrasi di pusat kekuasaan, di saat yang sama negara justru membiarkan intelektual daerah gugur sebelum berkembang. 

Fenomena underemployment atau pengangguran terselubung ini bukan sekadar statistik ekonomi, melainkan penghinaan terhadap akal budi manusia. Ketiadaan ekosistem kerja yang layak membuat sarjana lokal dipaksa bertahan hidup di sektor informal yang tidak linear dengan keahlian mereka.

Menuntut Bukti Nyata Menuju 2045

Masyarakat terdidik Indonesia kini menuntut bukti nyata, bukan sekadar janji manis Indonesia Emas 2045 yang terasa utopis. Pemerintah Pusat dan Daerah didesak untuk segera mengambil langkah konkret mewujudkan Hilirisasi Industri Nyata di pusat-pusat pertumbuhan daerah agar mampu menyerap tenaga ahli lokal secara langsung dan menghentikan ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Sinkronisasi Kurikulum Nasional yang memastikan institusi pendidikan tidak sekadar mencetak buruh administratif, melainkan inovator yang memiliki ruang di pasar kerja modern.

Reorientasi Modal Manusia dengan berhenti memposisikan sarjana sebagai beban statistik dan mulai memperlakukan mereka sebagai prioritas investasi kedaulatan bangsa.

Tanpa jembatan yang kokoh antara ruang kelas di Makassar hingga Depok dengan dunia kerja, wisuda hanya akan menjadi seremoni perpisahan dengan harapan. Negara harus hadir memperbaiki panggung yang telah remuk sebelum seluruh generasi ini habis dimakan pengabaian. Jika ijazah hanya menjadi tiket menuju kemiskinan baru, maka kita sedang menuju kebangkrutan peradaban yang nyata.

 

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 01 20 At Ioh
Opini

Broken Strings: Grooming dan Kekerasan Sunyi dalam Bayang-Bayang Patriarki

20 Januari 2026
55
Whatsapp Image 2025 10 13 At 12 21 52
Opini

Panduan Spiritual untuk Para Senior

14 Oktober 2025
423
Nur Arifah
Opini

Menemukan Suara: Menyelami Perjalanan Menuju Pemulihan bagi Korban Kekerasan Seksual

29 Juli 2024
144
Whatsapp Image 2025 09 04 At 08 17
Opini

17+8 Tuntutan: Alarm Reformasi Demokrasi dari jalanan

4 September 2025
84

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi