Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Resensi

Jagal dan Senyap: Menguak Parade Pembantaian Manusia pasca 65

Jagal – The Act of Killing dan Senyap – The Look of Silence merupakan dua film dokumenter yang mencoba merekonstruksi ulang parade pembantaian orang-orang yang dituduh komunis. Film ini disutradarai oleh Joshua Oppenheimer.

Renaldy Pratama by Renaldy Pratama
10 Juli 2024
in Resensi
0
Jadi Jagal 1000 Nyawa Inilah Sosok Anwar Congo Yang Namanya Sangat Ditakuti Di Indonesia

Cara Anwar Congo Membunuh Korbannya

Oleh: Ditootid

“Komunis Itu kejam. Komunis itu semacam tidak memilkii Tuhan. Para pemberontak G30S/PKI untuk melakukan perubahan sistem mereka melakukan penculikan terhadap Dewan Jenderal”, 

Seorang Guru SD – Senyap

 

Salah satu adegan di dalam Film berjudul Senyap – The Look of Silence, cerita warisan kebiadaban komunis di atas coba diceritakan oleh seorang guru dihadapan para murid yang lagi lucu-lucunya dengan seragam merah putih membungkus tubuh mungilnya.

Dengan tutur kata penuh kegetiran, mimik wajah penuh kecemasan, ia mencoba mengajak murid untuk mengimajiasikan betapa kafir, biadab dan tidak nasionalisnya orang-orang komunis. Kafir karena tidak percaya Tuhan, biadab karena telah membunuh enam jenderal dan satu perwira menengah, serta tidak nasionalis karena ingin melakukan kudeta dan mengganti Pancasila sebagai dasar negara.

Seperti itulah narasi sejarah yang seragam tersaji di atas bangku sekolah sejak pertama kali orde baru berkuasa hingga orde paling baru sekarang ini – sebuah orde yang tak beda jauh dengan orde baru.

Partai Komunis Indonesia (PKI) dituduh sebagai dalang tunggal dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Tak boleh yang lain, harus PKI!

Lantas, apa yang terjadi pasca peristiwa yang menewaskan tujuh orang pahlawan revolusi tersebut? PKI dibubarkan melalui TAP MPRS dan Bung Karno didepak dari tampuk kekuasaan tertinggi negeri ini. Setelah itu, Pak Soeharto yang telah berjasa besar dalam upaya mengembalikan kesaktian Pancasila naik tahta sebagai Presiden RI dan siap memimpin Indonesia menyongsong kegemilangan dengan tetap istiqamah pada lima sila Pancasila.

Para pembaca yang beriman, nasionalis lagi anti komunis sekalian. Ternyata ada yang absen selama ini dalam narasi sejarah yang senantiasi dijejali pada tiap isi kepala anak bangsa. Propaganda demi proganda dilakukan negara bahwa PKI adalah pihak yang paling berdosa hingga kita buta melihat apa akibat dari dakwaan terhadap si dalang tunggal PKI.

Dakwaan terhadap PKI sebagai dalang tunggal atas terbunuhnya Dewan Jenderal di dalam lubang buaya adalah awal dari peristiwa paling berdarah yang pernah dialami bangsa ini pasca memproklamirkan kemerdekaan 17 Agustus 1945 silam. Tanpa proses pengadilan, tanpa tedeng aling-aling, PKI lantas dijatuhi hukuman: PKI WAJIB MATI!

Atas nama tegaknya ideologi Pancasila, parade pembantaian ratusan bahkan jutaan orang-orang yang dituduh sebagai anggota dan simpatisan PKI pun dilancarkan.

Jagal – The Act of Killing dan Senyap – The Look of Silence merupakan dua film dokumenter yang mencoba merekonstruksi ulang parade pembantaian orang-orang yang dituduh komunis. Film ini disutradarai oleh Joshua Oppenheimer.

Melalui kedua film ini, kita diajak menziarahi periode berdarah pasca 65 dan menggugat pengetahuan dogmatis kita selama ini.

Dalam Jagal – The Act of Killing, kita diajak untuk melihat peristiwa tersebut dari perspektif pelaku jagal (eksekutor pembantaian). Para jagal diajak untuk membuat sendiri sebuah film yang menceritakan pengalaman ‘heroik’ mereka dalam menghabisi nyawa korbannya.

Anwar  Congo, salah satu jagal yang paling banyak menceritakan pengalamannya dalam menghabisi nyawa orang-orang yang disinyalir mengalir deras darah komunis di dalam tubuhnya.

Alasan awal kebencian Congo terhadap anggota PKI sederhana; komunis melarang pemutaran film-film Amerika yang membuat bioskop menjadi sepi pengunjung. Sebagai seorang preman yang menggantungkan hidupnya pada tindakan premanisme di lingkungan bioskop, sepinya bioskop juga berarti sepinya pundi-pundi rupiah dalam dompet Congo.

Malam-malam yang mengerikan bagi para korban menanti datangnya maut menjemput adalah panggung teatrikal ‘kepahlawanan’ bagi Congo. Bak seorang malaikat pencabut nyawa, ia menghabisi nyawa korban tanpa belas kasih.

Congo selalu punya cara agar tetap ‘happy’ dan menikmati pertunjukan hilangnya nyawa  orang yang ia tuduh sebagai komunis. Diiringi musik sambil menari cha-cha, menenggak alkohol, dan menghisap ganja adalah fantasi liar Congo agar bisa tetap ‘enjoy’ meski harus membunuh banyak nyawa dengan cara yang sangat tidak manusiawi.

Bagi Congo, membunuh korban dengan cara memukul dan menyembelih membuatnya kerepotan sebab banjir darah dari korban mengotori lantai. Congo mungkin orang yang sangat kreatif sebab ia mampu menemukan sebuah sistem pembataian yang lebih ‘efektif-efisien lagi manusiawi’ baginya.

Pada seutas kawatlah ia mengantar korban menjemput ajalnya. Korban dibelit lehernya, lalu ditarik sekuat tenaga hingga mati kehabisan nafas. Sungguh cara yang ‘efektif-efisien lagi manusiawi’ dari seorang jagal kreatif bernama Anwar Congo.

Congo sama sekali tak merasa bersalah sebab telah banyak menghabisi nyawa orang-orang yang dianggap tidak beragama itu. Bahkan ia berlagak seakan telah berjasa besar telah mengambil peran dalam sebuah babak sejarah bangsa ini dalam mempertahankan ideologi Pancasila.

Kebesaran nama dan kekuasaan yang kemudian Congo raih pasca berperan sebagai jagal ia anggap sebuah keniscayaan dari sikap dan tindakan ‘patriotiknya’ di masa silam.

Pada film dokumenter kedua, Senyap – The Look of Silence, perspektif yang dipilih adalah perspektif penyintas dan keluarga korban.

Adi Rukun, tokoh utama dalam film ini, merupakan adik dari salah satu korban yang dibunuh bernama Ramli. Bersama Joshua Oppenheimer, Adi mencoba menulusuri jejak-jejak peristiwa pembantaian kakaknya secara langsung dengan mengunjungi tempat pembantaian dan menemui langsung si jagal pembunuh Ramli.

Karakter jagal yang ditemui sama halnya dengan apa yang ia tonton di dalam film Jagal – The Act of Killing  , yaitu tidak ada rasa penyesalan bahkan menganggap dirinya sebagai pahlawan pembela negara. Salah satu yang ia temui adalah Inong, Pimpinan Pasukan Pembunuh Tingkat Desa.

Inong adalah jagal yang sadis dan ditakuti orang-orang di desanya. Salah seorang ibu pernah ia bunuh dengan cara memotong payudaranya.

Inong adalah jagal yang membunuh Ramli. Dalam salah satu rekaman video yang diperlihatkan Joshua Oppenheimer kepada Adi Rukun, Inong dan Amir Hasan mencoba merekonstruksi ulang proses pembunuhan para korban, termasuk Ramli.

Amir Hasan bahkan pernah menulis sebuah buku berjudul Embun Berdarah yang menggambarkan secara rinci proses pembunuhan 32 orang yang menjadi korbannya.

Ada sebuah kepercayaan aneh yang dianut para jagal. Agar tidak berada dalam bayang-bayang rasa bersalah telah membantai manusia yang kemudian akan membuatnya ‘gila’ (gangguan kejiwaan),  para jagal lantas meminum darah manusia yang telah ia bantai. “Kalau kita tidak minum darah bisa gila”, ujar Inong.

Bung Karno pernah berkata, “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Lantas, beranikah bangsa ini bersikap adil terdahap para korban pembantaian pasca 65 serta mengadili para pelaku yang masih berkuasa hingga saat ini?

Sebelum jauh sampai pada pembahasan di atas, ada baiknya negara terlebih dahulu harus berani menguak fakta sejarah secara objektif. Serta negara tidak lagi memberikan ruang, apalagi memelihara, organisasi-organisasi masyarakat yang bersikap militer dalam menyikapi orang-orang yang mencoba mendiskusikan ulang tentang periode paling berdarah bangsa ini.

 

 

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

209187186
Resensi

Menelisik Bisikan Tumbuhan dalam Jejak Fantasi

5 Maret 2026
53
Aihsdioahsd
Resensi

Luka-luka Kecil di Bawah Telapak Kaki Ibu.

23 Desember 2025
96
As
Resensi

Resensi Buku: Filosofi Teras

14 November 2024
224
Andreas1 202502102011081739193068 Crop
Resensi

Mencari Arti Hidup di Tengah Rasa Sakit

6 Desember 2025
97

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi