Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Menyemai Martabat Bahasa di Tengah Arus Digital

Pataka Eja by Pataka Eja
9 Desember 2025
in Opini
0
Gemini Generated Image Dv8xlbdv8xlbdv8x

Oleh: Gizza Febryana


Bahasa adalah cermin dari cara berpikir dan wajah dari kepribadian bangsa. Melalui bahasa, manusia membangun makna, menyampaikan gagasan, dan menumbuhkan peradaban. Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga simbol persatuan dan jati diri nasional. Namun, di tengah arus digital yang deras dan dinamis, bahasa Indonesia menghadapi tantangan baru dalam menjaga martabatnya.

Fenomena digitalisasi telah mengubah wajah bahasa yang kini hidup dan berdenyut di ruang maya: dari kolom komentar, pesan singkat, hingga unggahan media sosial. Seperti yang dikatakan Kridalaksana (2011), bahasa senantiasa berkembang mengikuti kebutuhan dan zaman. Kini, perkembangan itu berlangsung dalam kecepatan algoritma dan arus informasi global.

Media sosial telah membuka ruang tanpa batas bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri. Munculnya istilah baru seperti “fyp”, “scrolling”, “mantul”, hingga “ngepost” menunjukkan bagaimana bahasa Indonesia beradaptasi dengan budaya digital. Hal ini sejalan dengan pendapat Chaer (2012) Bahwa bahasa bersifat dinamis dan akan terus berubah selama masyarakat penuturnya hidup. Namun, perubahan ini bukan tanpa konsekuensi.

Bahasa digital yang serampangan, penuh emosi, dan sering kali mengabaikan etika berbahasa menunjukkan bahwa literasi kita masih perlu dibina secara serius. Di sinilah letak pentingnya pembinaan bahasa yang tidak hanya menekankan aspek tata bahasa, tetapi juga kesadaran etis dan moral dalam berkomunikasi di ruang digital.

Karena itu, upaya menyemai martabat bahasa menjadi penting supaya di tengah derasnya perubahan, bahasa Indonesia tetap tumbuh sebagai bahasa yang beradab, beridentitas, dan mencerminkan bangsa yang cerdas. Tetapi, kemudahan itu membawa konsekuensi besar terhadap cara kita berbahasa, berpikir, dan berinteraksi.

Banyak pengguna media sosial yang menggunakan bahasa secara serampangan, tidak memperhatikan kaidah, bahkan menulis dengan emosi tanpa mempertimbangkan dampaknya. Ruang digital yang semestinya menjadi wadah komunikasi yang sehat justru sering dipenuhi ujaran kebencian, hoax, dan kata-kata kasar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia masih perlu ditingkatkan bukan hanya dalam hal kemampuan teknis mengoperasikan gawai dan platform digital, tetapi juga dalam hal literasi berbahasa, yaitu kemampuan menggunakan bahasa secara bijak, etis, dan bertanggung jawab. Bahasa mencerminkan moral, karakter, dan tingkat berpikir seseorang. Oleh sebab itu, cara kita berbahasa di media sosial sejatinya menggambarkan wajah budaya dan kepribadian bangsa.

Dalam konteks inilah, pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia di era digital menjadi semakin penting dan mendesak. Pengembangan bahasa Indonesia berarti upaya menjadikan bahasa ini tetap hidup, dinamis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bahasa nasional.

Pengembangan mencakup perluasan kosakata, adaptasi istilah asing, serta pembaruan kaidah yang menyesuaikan dengan konteks komunikasi modern. Misalnya, dengan lahirnya banyak istilah baru dalam bidang teknologi informasi, media sosial, dan sains, bahasa Indonesia perlu mengakomodasi istilah-istilah tersebut agar tetap relevan digunakan oleh masyarakat luas.

Pembinaan bahasa mencakup pendidikan, pelatihan, kampanye literasi, serta pengawasan terhadap penggunaan bahasa di ruang publik dan media massa. Pemerintah melalui berbagai program, seperti Gerakan Literasi Nasional (GLN) dan Literasi Bahasa di Media Digital, telah berupaya memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya etika dan kaidah berbahasa di dunia maya.

Akan tetapi, tanggung jawab pembinaan bahasa tidak hanya berada di pundak pemerintah. Ia adalah tanggung jawab kolektif seluruh komponen bangsa dari pendidik, jurnalis, kreator konten, hingga masyarakat umum sebagai pengguna bahasa. Lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam pembinaan bahasa sejak usia dini. Sekolah dan universitas perlu menyesuaikan kurikulum pengajaran bahasa Indonesia dengan realitas komunikasi digital.

Pendidikan bahasa tidak seharusnya hanya berfokus pada tata bahasa, diksi, atau ejaan semata, tetapi juga mengajarkan konteks komunikasi yang sesuai dengan etika digital. Siswa dan mahasiswa perlu dibekali kemampuan menulis di media sosial secara efektif dan santun, menyampaikan pendapat secara argumentatif tanpa menyerang, serta memahami tanggung jawab moral dalam setiap kata yang mereka tulis. Dengan begitu, pembinaan bahasa akan menjadi proses hidup yang berjalan seiring perkembangan teknologi.

Selain pendidikan, media massa dan para kreator konten juga memainkan peran penting dalam menjaga mutu bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan di media memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat berpikir dan berbicara.

Penggunaan bahasa yang informatif, jernih, dan tidak provokatif akan membentuk budaya komunikasi publik yang sehat. Sebaliknya, jika media menggunakan bahasa yang sensasional, tendensius, atau penuh ujaran negatif, maka hal itu akan menurunkan kualitas berpikir publik dan menormalisasi penggunaan bahasa yang kasar. Oleh sebab itu, jurnalis dan kreator konten perlu memiliki kesadaran etis berbahasa: menulis bukan hanya untuk menarik perhatian, tetapi juga untuk mendidik, menginspirasi, dan memperluas wawasan pembacanya.

Lebih jauh, masyarakat umum juga memiliki peran penting dalam pengembangan budaya berbahasa yang sehat di dunia digital. Sikap cinta terhadap bahasa Indonesia dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, seperti menggunakan bahasa Indonesia yang baik di media sosial, menghindari kata-kata kasar, serta menghargai perbedaan pendapat. Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik tidak berarti tidak modern atau tidak gaul justru menunjukkan kecerdasan dan kepribadian yang beradab.

Bahasa yang dijaga dengan cinta akan bertahan melintasi zaman. Pada akhirnya, di era ketika komunikasi terjadi hanya dengan ujung jari, pembinaan bahasa tidak bisa lagi bergantung pada seminar, buku panduan, atau kampanye formal semata. Pembinaan bahasa harus hadir di ruang digital: di setiap unggahan, komentar, pesan, dan percakapan yang kita lakukan setiap hari. Bahasa adalah cermin bangsa dan apa yang kita tulis di layar mencerminkan siapa kita sesungguhnya.

Oleh karena itu, mari jadikan ruang digital sebagai medan baru pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Gunakan bahasa dengan hormat, tulislah dengan santun, dan bicaralah dengan hati. Sebab di era ini, masa depan bahasa Indonesia bahkan martabat bangsa  benar-benar ada di ujung jari kita.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20240119 Wa0072
Opini

Mikroplastik: Running Joke yang Mencerminkan Ketergantungan Kita

15 Desember 2025
181
68c94a5ddae18
Opini

Buku jadi Alat Bukti: Pameran Kebodohan Polisi!

20 September 2025
111
Foto Muhammad Lutfi Hasrah 1
Opini

Dana Zakat dan Program Makan Bergizi: Antara Etika, Logika, dan Spiritualitas

26 Januari 2025
59
Img 20250818 Wa0017
Opini

Tanah Air Yang Berumur 80 Tahun

20 Agustus 2025
101

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi