Oleh: Tina Marlina
Langit hari ini biru seperti matamu, Yah.
Dan awan itu berarak, mirip selendang yang Ibu kenakan dulu.
Aku di sini, mencoba menyetel senyum seperti yang kalian ajarkan.
Tapi kok, berat sekali.
Teman-temanku masih bisa menelepon untuk mengeluh hal sepele.
“Aduh, papaku cerewet banget.”
atau, “Ibuku bawain nasi kebuli, nih.”
Aku cuma bisa diam.
Lalu mengingat bau minyak wangi dan wangi gorengan pisang
yang dulu selalu menempel di bajumu.
Tuhan,
Aku tidak bisa bohong.
Hari ini aku lelah.
Lelah karena harus jadi orang kuat yang kalian tinggalkan.
Lelah karena langkahku berisik sendiri di teras rumah.
Aku rindu pada cekikan pelan di pundak dari Ayah,
dan usapan yang tak pernah salah tempat dari Ibu.
Tapi,
di dalam laci kamarku, masih tersimpan koper kecil berisi:
selembar kaus oblong Ayah yang sudah bolong,
dan satu botol minyak wangi Ibu yang tinggal seperempat.
Itulah bintang-bintangku.
Mereka masih bersinar di sana, meski redup.
Dan di senja yang mulai menelan pepohonan ini,
aku berjanji pada bau-bau itu,
pada bayang-bayang di dinding,
bahwa langkah ini akan tetap kupaksakan.
Bukan untuk jadi pahlawan,
tapi agar kalian, di mana pun, tidak malu
pernah menyebutku “anak kami”.




