Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

KOPRI: Dari Ruang Emansipasi ke Ruang Kosong Tanpa Suara

Pataka Eja by Pataka Eja
3 Oktober 2025
in Opini
0
Img 20251003

Oleh: Caca

KOPRI (Korps PMII Putri) lahir bukan sekadar pelengkap struktur organisasi, tetapi sebagai ruang khusus perempuan untuk membangun kesadaran, menyuarakan keadilan, dan memperjuangkan kesetaraan gender. Dalam sejarahnya, KOPRI adalah simbol perlawanan perempuan terhadap dominasi patriarki, bahkan di dalam tubuh organisasi sendiri.

Namun, realitas di lapangan sering kali tidak seindah teori. Di beberapa cabang, termasuk di cabang Gowa, KOPRI hari ini tak ubahnya seperti nama tanpa makna, ruang tanpa ruh, wadah tanpa kerja nyata. Kajian feminisme yang dulu sempat menjadi ruh gerakan kini hilang. Aksi advokasi atas diskriminasi pun tidak terdengar. Bahkan, diskusi kecil tentang hak-hak perempuan sudah jarang sekali dilakukan.

Ironisnya, KOPRI yang seharusnya menjadi ruang aman justru kerap menjadi ruang sepi. Perempuan di PMII lebih sering ditempatkan pada peran “pelengkap” — konsumsi, dokumentasi, atau sekadar simbol formalitas dalam acara. Suara kritisnya tenggelam, keberaniannya hilang, dan fungsinya melemah.

Apakah ini yang kita sebut gerakan perempuan?
Jika KOPRI hanya sekadar struktur, tanpa gagasan dan tanpa keberanian, maka ia tidak lagi menjadi ruang emansipasi, melainkan sekadar hiasan dalam tubuh organisasi.

Padahal, diskriminasi terhadap perempuan masih nyata, baik di kampus, di organisasi, maupun di masyarakat. Kekerasan seksual, marginalisasi, dan bias gender masih terjadi di sekitar kita. Dan di saat seperti ini, suara KOPRI seharusnya lantang. Tapi apa jadinya jika KOPRI justru memilih diam?

Membangkitkan Kembali Ruh KOPRI

Kritik tanpa solusi hanyalah keluhan. Maka jika KOPRI di cabang ingin kembali hidup, ada beberapa jalan yang harus ditempuh:

1. Revitalisasi Kaderisasi Gender
Perspektif feminisme Islam dan keadilan gender harus kembali dihidupkan dalam setiap jenjang kaderisasi. Diskusi kecil, kelas bacaan, atau forum kajian bisa menjadi titik awal.

2. Membangun Ruang Aman
KOPRI harus menyediakan ruang aman bagi kader perempuan untuk berbicara bebas, menyampaikan keresahan, dan menemukan kekuatan bersama.

3. Gerakan Nyata dan Advokasi
Mulai dari hal kecil: diskusi publik, kampanye media sosial, hingga keberanian bersikap pada kasus diskriminasi atau pelecehan di kampus. Dari aksi sederhana, wibawa KOPRI akan tumbuh kembali.

4. Kemandirian Program
KOPRI harus punya program kerja sendiri, bukan sekadar menempel pada cabang. Misalnya Sekolah Kepemimpinan Perempuan, Kelas Feminisme Islam, atau Pelatihan Advokasi Kekerasan Seksual.

5. Penguatan Jaringan
Berjejaring dengan organisasi perempuan lain seperti Fatayat NU, IPPNU, atau komunitas feminis kampus akan memperluas daya juang KOPRI.

6. Pemimpin yang Berani
Semua ini mustahil tanpa keberanian figur KOPRI itu sendiri. Dibutuhkan pemimpin yang mau bersuara, meski harus melawan arus dan menghadapi risiko.

KOPRI tidak boleh dibiarkan mati suri. Ia harus kembali pada jati dirinya sebagai ruang kaderisasi, ruang intelektual, ruang advokasi, dan ruang aman bagi perempuan untuk berdaya.

Kalau KOPRI terus dibiarkan hanya menjadi “hiasan struktural”, maka ia tidak akan pernah berguna. Tapi kalau ada segelintir kader yang mau menghidupkan api perjuangan, sekecil apa pun langkahnya, maka KOPRI bisa kembali bernyawa.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 12 16 At 14 15
Opini

Mikroplastik, Jokes, dan Sirkel yang Terlalu Akrab untuk Sok Serius

15 Desember 2025
189
Whatsapp Image 2026 07 19 At 19 56
Opini

Ketika Cangkul Bertemu Teknologi: Masa Depan Pertanian Ada di Tangan Generasi Berani

20 Juli 2026
46
Whatsapp Image 2026 01 18 At 23 01 51dnjsfb
Opini

Wacana Pilkada oleh DPRD: Rakyat Hanya Pajangan Demokrasi?

19 Januari 2026
98
Whatsapp Image 2026 05 02 At 19 36
Opini

Hari Pendidikan Nasional 2026: Saatnya Pendidikan bukan hanya Sekedar Ajang Seremonial

2 Mei 2026
204

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi