Judul: Perang Makassar 1669
Penulis: S.M. Noor
Cetakan: –
ISBN: 978-979-709-696-0
Ketika membaca buku ini, kita seakan diajak menilik kembali suatu prahara kerajaan Gowa di masa-masa keemasannya. Kisah di dalamnya banyak menyajikan peristiwa-peristiwa penting salah satunya ketika beberapa perundingan yang dilakukan antara kerajaan gowa dan kompeni belanda yang ditanda tangani langsung oleh raja Gowa I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape yang bergelar Sultan Hasanuddin terus saja dikhianati oleh Kompeni Belanda.
Hal inilah yang melatar belakangi tafsiran dari Karaeng Bira untuk memutus segala aktivitas kapal-kapal VOC di laut Bonerate setelah datang pesan dari utusan Karaeng Somba (raja gowa) bahwa perlawanan terhadap Kompeni kembali diberlakukan. Karaeng Bira menugaskan putranya I Makkuruni yang berperan penting dalam menumps 5 kapal kompeni di perairan bonerate untuk memutus jalur-jalur pelayaran VOC tersebut.
Bukan cuman Kompeni Belanda yang mengkhianati berbagai macam perundingan dengan kerajaan Gowa, kerajaan Buton dan kerajaan Bone yang awalnya memiliki hubungan baik dengan raja Gowa, belakangan berkhianat dengan berkolaisi bersama kompeni Belanda untuk meruntuhkan kerajaan Gowa.
Sultan Hasanuddin bersama dengan istrinya yang bernama I Lokmo Tobo mempunyai 4 orang putra dan seorang putri. Anak pertamanya bernama I Mappasomba Daeng Nguranga Karaeng Katangka. Dia sering menggantikan ayahnya untuk menjalankan tugas-tugas kenegaraan.
Anak yang kedua bernama I Mappadulung Daeng Mattimang Karaeng Sanrobone. berkat jasanya banyak perjanjian-perjanjian perdamaian yang di bangun dengan pihak Belanda, walaupun banyak diantaranya yang dikhianati oleh Belanda dikemudian hari. Anak yang ketiga bernama I Mappasossong Daeng Mangewai Karaeng Bissei.
Dalam buku ini sangat banyak di ceritakan sosoknya, baik itu dalam perang menghadang pasukan Kolonel Van Den Lubbers di laut Massalembo maupun dalam perang di laut Banda untuk menghadang pasukan gabungan antara Kompeni Belanda, kerajaan Buton, dan kerajaan Bugis yang sedang menempuh perjalanan menuju Fort Rotterdam.
Saat berada di Rotterdam mereka akan mempersiapkan serangan ke Somba Opu. Serangan itu dirancang untuk menjadi serangan balasan atas gugurnya Van Den Lubbers di tangan anak Raja Mandar I Riolo Daeng Rioso dan disitanya ratusan amunisi perang serta ditawannya sisa prajurit Kompeni di perang laut Massalembo.
Anak yang ke empat yang merupakan putri satu-satunya sang raja bernama I Patimang Daenta Daeng Tukontu Karaeng Campagayya. I Patimang diam-diam menaruh hati kepada I Makkuruni karena kagum akan sifarnya yang sopan santun, menghargai sesama, tetapi memiliki keberanian yang luar biasa disetiap medan pertempuran.
Dari tokoh-tokoh tersebut yang paling menarik perhatian saya dari semua anak Sultan Hasanuddin adalah keberanian si bungsu I Maninrorie Karek Tojeng. Bagaimana tidak, saat kapal induk Karaenta yang ditumpangi oleh I Mappasossong dan panglima perang angkatan laut Gowa Intanrawa Daeng Riujung Karaeng Bontomaranu berpisah dengan kapal Tunipallangga yang ditumpanginya bersama I Makkuruni bersama dengan I Daeng Rioso ditengah perjalanan menuju ke laut banda untuk menghadang Kompeni Belanda, pasukan Bugis dan Buton, tiba-tiba I Maninrorie keluar dari persembunyiannya disalah satu ruangan di kapal Tunipallangga.
Sontak saja keberadaannya membuat seisi kapal beserta rombongannya kaget, karena sebentar lagi rombongan mereka akan bersabung nyawa diatas kapal-kapal musuh. Namun dia bersikukuh untuk ikut dalam penyerbuan langsung ke kapal-kapal Kompeni.
Perang yang terjadi dilaut banda tersebut, kapal induk yang ditumpangi oleh Karaeng Bontomarannu bersama putra raja I Mappasossong, juga disertakan meriam “Anak Makassar” yang merupakan meriam kebanggaan para prajurit kerajaan Gowa yang dibuat di zaman pemerintahan Sultan Malikussaid dengan menggunakan tenaga ahli pembuat meriam yang di datangkan langsung dari Prancis.
Setelah beberapa kali tembakan meriam Anak Makassar berhasil menenggelamkan puluhan kapal Kompeni, akhirnya membuat nyali dari Admiral Johan Van Dam yang memimpin pasukan gabungan kompeni tersebut menciut karena tidak menyangka bahwa meriam yang mengawal Benteng Somba Opu tersebut akan diikutsertakan dalam peperangan dilaut Banda.
Lewat peperangan yang sedang berlangsung tak kurang dari 60 kapal Kompeni yang telah tenggelam karena gempuran meriam. Keadaan ini memaksa Johan Van Dam menerima usul dari Kolonel Fridtz De Poleman untuk mundur ke Benteng Walio yang berada di Buton. Bukan cuman Van Dam saja yang mundur dalam pertempuran yang sedang berkecamuk, tetapi beberapa perwira Bone dan Buton juga tak ketinggalan Raja Bone Aruppalaka beserta dengan panglima perang raja Bone yang bernama Latenrisau Puang Mare.
Atas usulan dari Mayor Marco De Bosh, akhirnya Fridtz De Poleman juga ikut mundur bersama Admiral Van Dam. Kini tinggallah Marco De Bosh yang mengambil alih komando operasi pertempuran dilaut Banda tersebut. Akhirnya ia pun gugur dalam pertarungan melawan I Riolo Daeng Rioso yang merupakan seorang prajurit yang ketika dalam peperangan selalu mencari pimpinan pasukan musuh untuk dilawannya.




