Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Dari Sawah ke Gedung; Jejak Mahasiswa Perantau

Pada akhirnya, dari sawah ke gedung bukanlah sekadar perpindahan lokasi, melainkan perjalanan pembentukan jati diri. Mahasiswa perantau yang mampu menjaga jejaknya dengan baik akan pulang bukan hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa perubahan positif untuk kampung halaman.

Muhammad Sahran by Muhammad Sahran
8 Agustus 2025
in Opini
0
Img

Dokumen Pribadi Muhammad irfan sukram

Oleh: Muhammad irfan sukram


Merantau demi menuntut ilmu adalah cerita klasik banyak mahasiswa dari kampung. Dari hamparan sawah yang menenangkan jiwa ke gedung – gedung tinggi yang hiruk pikuk hingga trotoar kota yang sibuk, perjalanan ini bukan hanya memindahkan tubuh, tetapi juga mengguncang pola pikir, sikap, karakter, dan kehidupan. Perpindahan mahasiswa dari kampung ke kota adalah titik balik pembentukan karakter. Lingkungan kampung yang sederhana dan penuh kebersamaan membentuk nilai-nilai seperti kejujuran, kesederhanaan, dan gotong royong. Namun, ketika tiba di kota, mahasiswa dihadapkan pada tantangan baru: budaya individualis, persaingan ketat, dan godaan gaya hidup konsumtif.

Di kampung, kehidupan berjalan lebih lambat. Sawah, ladang, dan lingkungan yang akrab mengajarkan kesederhanaan, saling peduli, dan gotong royong. Seorang mahasiswa yang tumbuh di sana biasanya punya rasa hormat yang tinggi terhadap orang lain, tidak mudah mengeluh, dan terbiasa hidup hemat.Sawah dan ladang menjadi saksi kerja keras setiap orang tua yang tak kenal lelah demi menyekolahkan anaknya. Mereka rela berpanas-panasan di bawah teriknya matahari, menabung sedikit demi sedikit, bahkan mengorbankan keinginan pribadi demi pendidikan sang anak.  Bekal moral inilah yang mereka bawa saat melangkah ke kota.

Namun, kota punya bahasa sendiri. Gedung-gedung kampus yang megah, teknologi yang serba cepat, dan ragam pergaulan menuntut adaptasi yang lebih cepat. Mahasiswa belajar berbicara dengan percaya diri, mengatur waktu secara mandiri, dan menatap masa depan dengan pandangan yang lebih luas. Bagi sebagian orang, ini adalah lompatan besar menuju kematangan diri.

Tetapi tidak semua perubahan mengarah ke hal yang baik. Kota juga membawa godaan: gaya hidup konsumtif, kompetisi yang keras, dan budaya individualistik yang bisa mengikis nilai-nilai kehidupan. Ada yang mulai mengukur harga diri dari barang yang dipakai, atau sibuk mengejar tren hingga lupa tujuan utama kuliah. Tak sedikit pula yang terjerumus dalam pergaulan bebas, termasuk perilaku seks bebas yang mengabaikan norma dan nilai moral. Jejak yang tadinya lurus terkadang mulai berkelok, bahkan terperosok, ketika godaan mulai menjadi arah hidup.

Di sinilah peran orang tua tetap menjadi penopang dari jauh. Meski jarak memisahkan, mereka hadir lewat nasihat sederhana, kiriman uang seadanya, dan doa yang tak pernah putus. Banyak mahasiswa perantau mengaku, mengingat wajah lelah orang tua yang tetap tersenyum adalah kekuatan terbesar untuk bertahan di tengah badai godaan kota.

Di sisi lain, ada mahasiswa perantau yang justru tumbuh kuat. Mereka memadukan akar kehidupan dari kampung dengan kecakapan yang diasah di kota. Mereka sadar bahwa kampung bukan sekadar titik awal, melainkan sumber identitas dan arah pulang. Kota membentuk sayap, kampung menguatkan akar—dua hal yang dibutuhkan untuk terbang setinggi mungkin tanpa lupa tempat berpijak.

“Setiap langkah mahasiswa dari desa  adalah janji untuk pulang membawa kebanggaan, bukan penyesalan.

Jejak mahasiswa perantau seharusnya menjadi catatan perjalanan yang membanggakan—menggabungkan kekuatan akar kehidupan dari  kampung dengan kecakapan kota. Nilai kesederhanaan, kerja keras, dan kepedulian sosial perlu tetap terjaga di tengah arus modernisasi. Sebab, kampung yang mereka tinggalkan bukan hanya tempat asal, tetapi sumber identitas yang akan memandu langkah ke masa depan.

Pada akhirnya, dari sawah ke gedung bukanlah sekadar perpindahan lokasi, melainkan perjalanan pembentukan jati diri. Mahasiswa perantau yang mampu menjaga jejaknya dengan baik akan pulang bukan hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa perubahan positif untuk kampung halaman.

Kuncinya adalah menjaga keseimbangan; mempertahankan akar budaya sambil beradaptasi dengan dunia modern. Mahasiswa yang berhasil memadukan keduanya akan menjadi pribadi tangguh dan bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus menjadi kebanggaan terbesar bagi orang tua yang telah mengantarkan mereka dari jalan becek di desa  hingga ke gedung gedung ilmu yang megah.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 06 01 At 15 58 01
Opini

Angngaru (ᨕᨂᨑᨘ᨞) : Jejak Ikrar Politik dan Sumpah Setia Bangsa Makassar Sejak 1320

1 Juni 2026
102
Foto Elma wahyuni patakaeja.id
Opini

Jangan Tanya Mengapa Ia Tidak Kabur, Tanya Mengapa Ia Disekap: Membongkar Budaya Menyalahkan Korban Kekerasan terhadap Perempuan.

23 Juni 2026
53
Whatsapp Image 2026 01 12 At 22 13
Opini

Psikologi perempuan: Perempuan, Emosi, dan Kepemimpinan

12 Januari 2026
86
Aksi Kamisan Bandung Peringati September Hitam Pengingat Peristiwa Pelanggaran Ham 1
Opini

September Hitam, Indonesia Semakin Gelap

26 September 2025
123

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi