Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Menguji Demokrasi di Indonesia

Semua korban atas buruknya demokrasi harus bersatu, mereka harus bersolidaritas. Mengubur sifat korup dan bebal para penguasa, juga mempertegas bahwa dalam demokrasi tidak ada raja yang berkuasa secara penuh.

Faisal Basri by Faisal Basri
3 Oktober 2024
in Opini
0
Ni3fkvhqmfecajveogef

Sumber Ilustrasi Google

Oleh: Elang


Apakah kita akan menangis ketika suara yang kita lepaskan seharusnya merambat di udara, justru menjadi sebab kita terpenjara dan tidak menghirup udara bebas?

Kita hidup di zaman manusia mengenal hukum, manusia juga telah mengenal bentuk negara sebagai sebuah sistem sosial. Dalam lingkup yang lebih kecil, Indonesia. Para pembuka (founding father) bersepakat menjadikan Indonesia sebagai negara hukum. Ketetapan negara hukum dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, yang menyebutkan: “Negara Indonesia adalah negara hukum.” Hal ini menggarisbawahi bahwa Indonesia tidak tunduk pada satu atau dua orang, tetapi oleh aturan hukum yang harus ditaati oleh semua pihak, termasuk penguasa.

Konstitusi Indonesia juga menegaskan prinsip-prinsip demokrasi yang mendasari sistem pemerintahan Indonesia, termasuk kedaulatan rakyat, pemisahan kekuasaan, dan jaminan hak- hak asasi manusia. Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.”

Dalam demokrasi, keputusan-keputusan penting yang mempengaruhi kehidupan publik dibuat oleh mayoritas, baik secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum atau secara tidak langsung melalui wakil-wakil yang dipilih.

Secara tegas, suara yang kita lepaskan seharusnya merambat di udara. Tidak untuk dipenjarakan.

Lantas, jika suara kita disenyapkan melalui surat atau bahkan dipenjarakan. Bisakah kita marah dan mengamuk atau hanya berdiam?

Saya teringat sepenggal kalimat Kahlil Gibran dalam buku The Prophet. “Dari banyaknya kamu berbicara, setengah dari pikiranmu terbunuh. Karena pikiran adalah seekor burung angkasa, yang di dalam sangkar kata-kata mungkin membuka sayapnya tetapi tidak dapat terbang”.

Suatu saat, jika saya bertemu Gibran. Saya ingin memberitahunya, bahwa kita bukan burung. Kita tidak punya sayap. Tapi, benar bahwa dengan pikiran kita dapat terbang bebas di angkasa. Dan negara, seharusnya membiarkan pikiran itu terbang kemana saja.

Jika suara kita disenyapkan atau dipenjarakan secara tidak adil, kita punya hak untuk marah.

Siapa yang bertanggung jawab atas terpenjaranya suara kita?

Negara kapitalis, oligarki yang rakus, birokrat yang korup adalah kombinasi sempurna untuk membunuh suara suara yang malang dari orang orang itu.

Seorang anak, datang dari negeri nun jauh disana. Anak itu tiba di Kota Metropolitan, tujuannya adalah belajar dan mendapat pendidikan yang layak. Meminjam pemikiran Paulo Freire, pendidikan merupakan proses humanisasi, yakni proses untuk memanusiakan manusia. Prinsip kemanusiaan harus selalu dijunjung tinggi.

Freire berpendapat bahwa pendidikan membawa manusia dari kesadaran naif ke kesadaran kritis. Untuk mencapai usaha tersebut, penting melakukan proses demokrasi. Bahwa setiap manusia punya hak bersuara dan berpikir yang sama. Hal tersebut yang berusaha dilakukan oleh anak dari negeri jauh tersebut.

Sialnya, sang anak tiba di suatu tatanan yang melakukan dehumanisasi. Dehumanisasi merupakan upaya membawa manusia ke kesadaran naif, upaya ini seringkali dilakukan oleh penguasa yang korup. Tujuannya, agar mereka dapat leluasa merampok rakyatnya.

Sang anak mencoba memprotes, dia bersama ratusan lain melakukan demonstrasi. Di berbagai waktu, berbagai tempat, bekerjasama dengan berbagai elemen manusia. Wajah korup dan beringas lawannya lebih nampak, sang anak dipenjarakan oleh Ksatria Bodoh, sesekali ia dipukuli bersama 27 kawannya.

Beberapa pekan berselang, Sang Anak bersama 30 kawannya mendapat Surat Cinta. Sial, Surat Cinta itu bahkan tidak mencabut upaya dehumanisasi penguasa. Malah, namanya terterang dalam surat cinta. Isinya, mereka dicabut hak pendidikannya.

Tatanan dehumanisasi bernama Kampus UIN Alauddin, birokrat itu adalah Rektor dan jajarannya, mereka adalah antitesa terhadap proses memanusiakan manusia. Mereka adalah lawan dari demokrasi.

Bagaimana membayangkan negara jika gagal demokrasi gagal?

Proses terbunuhnya demokrasi tidak hanya terjadi di UIN saja. Di berbagai sektor pendidikan, para penguasa bertindak korup dan mengabaikan hak bicara mahasiswa. Alasannya, agar mereka dapat menjadi kaya dan kekayaannya tidak terganggu.

Kita bahkan tidak peduli sekaya apa mereka, tapi yang kita pedulikan adalah nasib kita di kemudian hari. Mereka kaya dengan menghisap hak dan harta kita.

Bukan saja di sektor pendidikan, di sektor pertanian misalnya. Penguasa berniat membunuh petani, Para Petani direbut tanahnya secara paksa (lihat di Takalar, Soppeng, Luwu dan berbagai daerah di Sulawesi).

Di sektor perikanan, mereka merusak laut para nelayan. Alasan bobroknya adalah pembangunan demi kesejahteraan. Padahal kita tau, yang dibutuhkan nelayan adalah laut yang sehat. Bukan mengubur laut dan menggantinya dengan pabrik pembuat limbah, mereka merusak laut.

Di perburuhan, mereka menganulir hak hak buruh. Buruh dilarang mogok kerja ketika upahnya tidak dibayarkan. Mereka lebih senang berpihak kepada perusahaan, mereka abai terhadap hak buruh.

Semua korban atas buruknya demokrasi harus bersatu, mereka harus bersolidaritas. Mengubur sifat korup dan bebal para penguasa, juga mempertegas bahwa dalam demokrasi tidak ada raja yang berkuasa secara penuh.

 

*Penulis Pernah Mendaki Bawakaraeng
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 10 27 At 21 44
Opini

Refleksi Sumpah Pemuda serta giat Harapan ke Depan

28 Oktober 2025
53
Whatsapp Image 2025 11 28 At 10 54
Opini

DUNIA SEMAKIN MAJU, AKHLAK SEMAKIN MUNDUR?

1 Desember 2025
71
Screenshot
Opini

Desaku Berdaya : Tak Butuh MBG Menyapa

29 November 2025
117
Img 20250818 Wa0017
Opini

Tanah Air Yang Berumur 80 Tahun

20 Agustus 2025
110

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi