Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Liputan Khusus

Petani Takalar dan Gowa Gelar Panggung Rakyat, Tegaskan Kehendak Merdeka dengan Berdaulat atas Tanahnya

Pataka Eja by Pataka Eja
17 Agustus 2024
in Liputan Khusus
0
Whatsapp Image 2024 08 16 At 22 03

[Siaran Pers]

Petani Takalar dan Gowa Gelar Panggung Rakyat, Tegaskan Kehendak Merdeka dengan Berdaulat atas Tanahnya

Takalar, 16 Agustus 2024. Ratusan Petani Takalar-Gowa bersama solidaritas Gerakan Rakyat Anti Monopoli Tanah (GRAMT) menggelar Panggung Rakyat di Posko Perjuangan Petani, Dusun Sunggumanai, Desa Pa’bentengang, Gowa. Kegiatan ini dilakukan untuk memperkuat gerakan tani dan solidaritas gerakan rakyat. 79 tahun pasca kemerdekaan tidak membuat Petani dapat merasa aman untuk menggarap tanahnya. Tanah mereka dapat serta merta diambil oleh Pemerintah dengan dalih, Petani yang telah menggarap tanah tidak memiliki bukti kepemilikan atas tanah.

Panggung rakyat ini dimulai dengan mendengar kesaksian Petani yang mengalami ancaman perampasan tanah dari Pemerintah Kabupaten Gowa, untuk perluasan Bumi Perkemahan Caddika. Selanjutnya perwakilan petani dari 7 Desa di Polongbangkeng Takalar menyampaikan kesaksiannya terkait dengan Tanah mereka yang dirampas oleh Pemerintah untuk Perkebunan di Pabrik Gula Takalar.

“Nakke mi inne korban rinne ri Gowa, ero nialle buttaku, eroni gusur, mingka kukana, langkahi dulu mayatku,” mama Ati, pemilik lahan.

Arti: “Saya ini korban di Gowa, mau diambil tanahku, mau digusur, tapi saya bilang langkahi dulu mayat saya”

Salasari Dg Ati merupakan salah seorang dari 9 KK petani yang memiliki lahan di Dusun Sunggumanai Desa Pa’bentengang, Bajeng, Gowa. Padahal mereka telah memiliki dan menguasai lahan di wilayah tersebut secara turun-temurun sejak tahun 1930-an jauh sebelum Indonesia merdeka yang diwariskan dari orang tuanya. Selain itu dalam Panggung Ekspresi ini didengarkan juga kesaksian dari perwakilan Petani di Polongbangkeng Takalar yang lahannya di rampas oleh PTPN- Pabrik Gula Takalar.

“Insya Allah besok tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia yang ke 79, tapi kita sebagai Petani sampai sekarang belum merasakan kemerdekaan. Kita masih terjajah, yang menjajah kita bukan bangsa Belanda, bukan bangsa Jepang, tapi bangsa kita sendiri. Padahal petani itu penyangga tatanan negara Indonesia, negara ini akan hancur tanpa petani, tapi kenapa petani tidak diperhatikan oleh pemerintah, jangankan dikasih tanah untuk bercocok tanam, tanah kita saja dirampas,” Idris Dg Nyaling, Petani dari Ko’mara.

Setelah semua warga menyampaikan kesaksian yang mereka alami. Kesaksian tersebut kemudian ditanggapi dari beragam perspektif. Salah satu penanggap adalah Taufik Kasaming dari Perserikatan Petani Sulawesi Selatan. Pentingnya solidaritas dan penguatan Petani yang sadar akan persoalan yang dihadapinya sembari memulai tanggapannya dengan metode memperdengarkan lagu Desa.

“Penting untuk setiap petani yang hadir untuk memperluas solidaritas, menggalang dukungan sesama kaum tani yang mengalami penderitaan yang sama, hanya dengan jalan solidaritas dan menguatnya gerakan tani, maka Petani dapat berdaulat atas tanahnya,” Ujar Taufik Kasaming

Secara hukum, menurut Melisa Ervina Anwar, Koordinator Bidang Hak Ekosob YLBHI-LBH Makassar, baik Petani di Takalar yang berhadapan dengan PTPN, maupun Petani di Panjo’jo yang berhadapan dengan Pemerintah Kabupaten Gowa, memiliki hak untuk mempertahankan dan merebut hak atas tanahnya. Serta kehadiran aparat Keamanan harus bersikap netral dan tidak mengintimidasi ataupun melakukan tindakan represif terhadap warga.

“Para petani memiliki hak atas tanah yang dijamin dan dilindungi oleh Konstitusi, Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kehadiran negara harusnya hadir untuk melindungi dan memenuhi hak warga negaranya. Termasuk dalam hal ini TNI Polri sebagai Aparat Penegak Hukum, tidak hanya menjadi pengamanan perusahaan dan pemerintah tetapi dapat menghadirkan untuk melindungi petani yang memperjuangkan hak atas tanahnya,” ujar Melisa Ervina Anwar.

Dalam kegiatan ini selain diskusi dan refleksi kemerdekaan dari Warga, yang ditanggapi oleh solidaritas, juga digelar Panggung Bebas Ekspresi dan kegiatan kesenian. Terdapat perwakilan petani yang memainkan gendang dan sinrili yang merupakan kesenian tradisional di Takalar. Selain itu juga terdapat kegiatan, puisi dan Teater dari Forum Diskusi Mahasiswa Topoyo (FDMT). Teater ini mengangkat tema “Tanda Tanya Untuk Rakyat” yang menampilkan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat mulaidari Perampasan Tanah hingga Korupsi. Kegiatan ditutup dengan membacakan Pernyataan Sikap dari Petani Pa’bentengang Gowa dan Polongbangkeng Takalar, sebagai refleksi kemerdekaan, dengan berdaulat atas tanahnya.

***

Narahubung:

+62 813-4295-3475 – Desy (SPAM)

+62 812-5286-8330 – Razak (LBH Makassar)

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 01 27 At 20 32
Liputan Khusus

IMM Luwu Utara: Aksi Mahasiswa Bukan Penghambat Pembangunan, Tapi Suara Rakyat Luwu Raya

27 Januari 2026
369
Whatsapp Image 2025 11 13 At 19 19
Liputan Khusus

Kasus Hilangnya Bilqis Ungkap Lemahnya Keamanan Bandara, HMI Sulsel Desak Evaluasi Total

13 November 2025
28
Ilustrasi Gemini
Liputan Khusus

Kasus Penganiayaan di Gowa, Profesionalisme Aparat Dipertanyakan

13 Desember 2025
80
Logo Uin Alauddin
Liputan Khusus

Kronologi Dua Mahasiswa UIN Alauddin Makassar di Drop Out

31 Juli 2024
2k

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi