Oleh: Imran
Dalam lintasan sejarah Sulawesi Selatan, Kerajaan Gowa dikenal sebagai salah satu kerajaan besar yang meninggalkan jejak panjang dalam kebudayaan dan peradaban masyarakat Makassar. Namun jauh sebelum Gowa menjadi kerajaan maritim yang disegani, rakyat di wilayah itu hidup dalam perkampungan kecil yang terpisah-pisah. Mereka hidup berdasarkan kesepakatan adat masing-masing, tanpa satu kepemimpinan tunggal yang dapat menyatukan kehendak dan arah kehidupan bersama. Dari masa itulah, legenda tentang Tumanurung Bainea lahir, sebuah kisah yang bukan hanya menjadi dasar legitimasi politik, tetapi juga simbol awal terbentuknya tatanan sosial dan nilai budaya orang Makassar.
Menurut tradisi lisan masyarakat Gowa, Tumanurung Bainea adalah sosok perempuan yang turun dari langit di Tamalate (Takabassia), suatu wilayah yang kini termasuk dalam kawasan Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Kata tumanurung dalam bahasa Makassar bermakna “yang turun dari tempat tinggi” atau “yang diturunkan dari alam atas,” sementara bainea berarti “seorang perempuan.” Dalam pandangan kosmologis orang Makassar, dunia terdiri atas tiga lapisan: alam atas (langi’), alam tengah (lino), dan alam bawah (uri’). Maka, kehadiran Tumanurung Bainea diyakini sebagai peristiwa sakral yang menandai bersatunya unsur langit dan bumi dalam diri seorang perempuan yang membawa misi keseimbangan dan peradaban.
Dikisahkan bahwa pada masa sebelum kehadirannya, wilayah Gowa sering dilanda pertikaian antar kelompok. Masing-masing perkampungan dipimpin oleh tokoh adat yang berpegang pada aturan sendiri-sendiri. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, langit dikisahkan “merasa iba” kepada manusia di bumi. Lalu, pada suatu pagi yang diselimuti kabut, tampak cahaya lembut turun dari langit. Dari dalam cahaya itu muncul seorang perempuan berwajah teduh dan berbusana putih, berdiri di atas batu besar di bawah pohon beringin. Penduduk yang menyaksikan peristiwa tersebut tertegun dan segera berlutut, karena mereka yakin perempuan itu bukan manusia biasa. Dialah Tumanurung Bainea, yang dipercaya sebagai utusan langit untuk menuntun manusia kepada kehidupan yang teratur dan beradab.
Kedatangan Tumanurung Bainea disambut oleh para Bate Salapang, yakni sembilan pemimpin perkampungan yang kelak menjadi fondasi pemerintahan Gowa. Mereka memohon agar perempuan itu bersedia memimpin dan menjadi pemersatu bagi rakyat yang tercerai-berai. Dengan kelembutan dan kebijaksanaannya, Tumanurung Bainea menerima permintaan tersebut. Sejak saat itu, Tamalate menjadi pusat pemerintahan pertama Kerajaan Gowa, dan Tumanurung Bainea dipandang sebagai penguasa suci yang menandai lahirnya sistem kerajaan di tanah Makassar.
Sebagai pemimpin, Tumanurung Bainea tidak memerintah dengan kekerasan, melainkan dengan ajaran yang mengandung nilai-nilai moral dan sosial. Ia menanamkan prinsip-prinsip hidup yang kelak menjadi dasar falsafah orang Makassar, yaitu yaitu Sipakatau (memanusiakan manusia), Sipakalabbiri’ (saling menghargai sesama manusia), dan Sipakainga (saling mengingatkan antar sesama manusia). Di bawah kepemimpinannya, rakyat belajar bahwa kekuasaan sejati bukanlah tentang memerintah, tetapi tentang menata kehidupan agar manusia saling menghormati dan saling menguatkan.
Kisah Tumanurung Bainea juga menunjukkan bagaimana masyarakat Gowa memandang kepemimpinan sebagai amanah yang bersifat sakral. Seorang raja tidak hanya berkuasa atas rakyat, tetapi juga bertanggung jawab menjaga harmoni antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Itulah sebabnya para penguasa Gowa yang lahir setelah Tumanurung dianggap suci, campuran antara dunia langit dan dunia manusia yang menjadikan mereka berhak memerintah dengan restu leluhur.
Dalam beberapa versi lontara Gowa, disebutkan bahwa Tumanurung Bainea kemudian menikah dengan seorang bangsawan bumi bernama Karaeng Bayo. Dari pernikahan inilah lahir keturunan yang menjadi raja-raja Gowa, termasuk Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna, yang kelak memperluas pengaruh Gowa hingga ke wilayah pesisir dan menjadikannya kerajaan besar di Sulawesi Selatan. Dengan demikian, garis keturunan kerajaan Gowa diyakini berasal dari dua unsur yang menyatu: unsur langit yang suci melalui Tumanurung Bainea, dan unsur bumi yang bijak melalui Karaeng Bayo.
Dalam konteks sejarah dan kebudayaan Makassar, kisah Tumanurung Bainea bukan semata-mata legenda mitologis, melainkan juga simbol legitimasi sosial dan spiritual. Legenda ini memperlihatkan bahwa fondasi awal kerajaan tidak dibangun di atas kekuatan militer, melainkan pada nilai-nilai moral dan kesepakatan kolektif masyarakat. Tumanurung Bainea menghadirkan model kepemimpinan yang menekankan keseimbangan antara kekuasaan dan kemanusiaan, antara adat dan spiritualitas, antara langit dan bumi.
Selain itu, legenda ini juga menjadi cermin pandangan dunia orang Makassar terhadap perempuan. Dalam kisah asal-usul Gowa, tokoh yang menurunkan garis keturunan raja bukanlah seorang pria, melainkan seorang perempuan yang memiliki wibawa, kebijaksanaan, dan kesucian. Hal ini menunjukkan penghormatan tinggi terhadap peran perempuan dalam struktur sosial dan spiritual masyarakat Makassar, jauh sebelum hadirnya pengaruh luar dan sistem patriarki modern.
Kini, meskipun masa telah berganti dan Gowa telah menjadi bagian dari sejarah yang panjang, kisah Tumanurung Bainea tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Makassar. Nama Tamalate masih disebut dengan hormat sebagai tempat turunnya sang Tumanurung, dan setiap upacara adat Gowa selalu diawali dengan doa untuk mengenang kehadirannya. Bagi orang Makassar, Tumanurung Bainea bukan hanya leluhur, melainkan simbol jati diri: perempuan suci yang mengajarkan tentang kesetiaan pada nilai, tentang pentingnya kehormatan (siri’), dan tentang kepemimpinan yang lahir dari ketulusan.
Legenda Tumanurung Bainea juga menegaskan bahwa kebesaran Gowa tidak lahir dari ambisi, melainkan dari kesadaran untuk hidup dalam harmoni. Dari perempuan langit itu, masyarakat Gowa belajar bahwa peradaban tidak dibangun oleh kekuatan semata, melainkan oleh kearifan dan rasa saling percaya.
Dengan demikian, Tumanurung Bainea tidak hanya dikenang sebagai sosok mitologis dalam sejarah Gowa, tetapi juga sebagai lambang lahirnya identitas budaya Makassar yang menjunjung tinggi siri’, kejujuran, dan tanggung jawab moral. Dari kisahnya, kita belajar bahwa kepemimpinan sejati berawal dari kesucian niat dan kasih terhadap sesama. Ia adalah pertemuan antara langit dan bumi yang menjelma dalam sosok Perempuan, sebuah cahaya yang menuntun manusia dari kegelapan menuju kehidupan yang beradab.




