Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Syair Using Menyebrang Zaman: Tradisi Lisan yang Bertransformasi

Pataka Eja by Pataka Eja
25 November 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 11 25 At 19 26

Potret Fhatika Dwi Putri

Oleh : Fhatika Dwi Putri


Tradisi lisan adalah salah satu harta budaya terbesar yang dimiliki Nusantara. Dari cerita rakyat sampai tembang, semuanya menjadi cara masyarakat menyampaikan nilai, nasihat, dan pengalaman hidup dari generasi ke generasi. Masyarakat Using di Banyuwangi adalah salah satu contoh yang masih memegang kuat warisan tersebut. Bagi mereka, syair lagu bukan hanya hiburan.

Ada cerita, simbol, dan pesan moral yang diselipkan di dalamnya. Penelitian Saputra, Hariyadi, dan Maslikatin (2022) bahkan menunjukkan bahwa syair Using kini memasuki fase baru. Tradisi lisan itu tidak hilang. Ia justru bertransformasi menjadi bentuk baru yang hidup di ruang digital.

Teori kelisanan yang dikemukakan Ong (1989) dan Lord (1987) menjelaskan bahwa tradisi lisan punya ciri khas, seperti penggunaan pengulangan dan pola yang mudah diingat. Ini membantu masyarakat mengingat syair secara turun-temurun. Jika kita melihat syair-syair Using seperti “Gelang Alit” dan “Randha Kembang”, jejak tradisi ini masih jelas.

“Gelang Alit” menggunakan frasa paralel seperti wedang kopi, raina bengi, dan gelang alit. Pengulangannya membuat syair terasa puitis sekaligus mudah diingat. “Randha Kembang” juga memakai repetisi seperti Emong-emong dan Kari-kari yang menonjolkan ritme dan alunan khas tradisi lisan. Kedua syair ini menunjukkan bahwa keindahan kelisanan tetap terjaga meskipun kini hadir dalam bentuk baru.

Tidak hanya soal bentuk, syair Using juga menyimpan makna budaya yang kuat. “Gelang Alit” memakai simbol gelang kecil sebagai tanda kesetiaan. Bagi masyarakat Using, simbol ini mencerminkan hubungan yang tidak hanya mengikat dua orang, tetapi juga menyambungkan mereka dengan nilai budaya.

“Randha Kembang” membawa isu sosial tentang seorang janda muda dan tekanan yang ia hadapi. Syair ini membuka ruang untuk melihat bagaimana masyarakat memandang perempuan, status pernikahan, dan dinamika rumah tangga. Melalui syair-syair ini, tradisi lisan menjadi cermin yang memperlihatkan kehidupan masyarakat Using.

Yang menarik, syair-syair tersebut tidak lagi hanya terdengar di acara adat atau panggung tertentu. Kini mereka hidup di platform digital. Dalam konsep Ong, perubahan ini disebut sebagai kelisanan sekunder. YouTube, Facebook, dan berbagai aplikasi musik membuat syair-syair Using bisa didengar siapa saja, kapan saja.

Tradisi yang dulu hanya dinikmati secara lokal kini bisa melintas ruang dan waktu. Bahkan penikmatnya tidak hanya dari Banyuwangi, tetapi juga dari luar daerah hingga luar negeri.

Perubahan ini membawa dampak nyata. Para pelantun dan seniman Using bisa memperoleh penghasilan dari platform digital. Masyarakat pun memiliki akses lebih luas untuk mempelajari budayanya sendiri. Lebih penting lagi, dokumentasi digital membantu tradisi lisan tetap hidup dan terjaga.

Di tengah derasnya budaya populer, digitalisasi menjadi cara ampuh untuk memastikan tradisi tidak tenggelam. Justru lewat dokumentasi itu, generasi muda bisa tetap mengenal syair-syair yang pernah menghidupi ruang sosial leluhur mereka.

Bagi dunia akademik, terutama dalam mata kuliah Kelisanan dan Keaksaraan, fenomena ini sangat menarik. Mahasiswa dapat melihat langsung bagaimana tradisi lisan beradaptasi dengan dunia modern. Mereka bisa memahami bahwa kelisanan dan keaksaraan tidak saling menggeser.

Keduanya bisa berdampingan, saling melengkapi, dan memunculkan praktik budaya yang baru. Syair Using menjadi bukti bahwa teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi budaya lama. Teknologi bisa menjadi jembatan untuk memperkuat dan melestarikannya.

Transformasi syair Using ke ranah digital menunjukkan satu hal penting. Tradisi lisan punya kemampuan beradaptasi yang kuat. Ia tidak hanya bertahan, tetapi berkembang.

Teknologi memberikan ruang untuk memperluas nilai-nilai budaya, memperkenalkan identitas Using kepada dunia, dan menjaga warisan leluhur tetap hidup. Tradisi yang dulu terasa sangat lokal kini bisa menjadi pengetahuan global. Ini membuktikan bahwa kelisanan tetap relevan, bahkan di tengah derasnya arus teknologi.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2026 01 11 At 21 06
Opini

Kakistokrasi dan Evil Soul, ‘Benalu Mematikan’ dalam Demokrasi

11 Januari 2026
112
Gemini Generated Image Y1qmt0y1qmt0y1qm
Opini

Dari Tradisi ke Teknologi: Masa Depan Kelisanan dan Keaksaraan

25 November 2025
22
Whatsapp Image 2025 09 27 At 22 54
Opini

Dari Pengakuan ke Peran: Warisan 27 September 1950 dan Suara Indonesia di PBB Era Prabowo

28 September 2025
101
Ousabdjkasyghjf
Opini

Generasi Kritis atau Apatis? Peran Mahasiswa dalam Menyikapi Isu Kebangsaan dalam Perspektif Islam

7 Februari 2026
178

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi