Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan: Diskusi dan Bedah Buku Pendidikan Kaum Tertindas

Pataka Eja by Pataka Eja
19 Desember 2025
in Opini
0
Hjvghjvfjghf

Oleh : Aldi Tri Putra


Tulisan ini tidak lahir dari ruang kelas yang formal dan kaku. Ia tumbuh dari sebuah lingkaran sederhana: papan tulis mini, duduk melingkar, buku di tangan, dan keberanian untuk saling mendengar. Inilah praktik kecil dari apa yang Paulo Freire sebut sebagai pendidikan pembebasan.

Foto di atas telah merekam sebuah kegiatan diskusi dan bedah buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire. Tidak ada jarak antara pemantik diskusi dan peserta. Tidak ada mimbar yang lebih tinggi. Semua duduk sejajar, membawa pengalaman, kegelisahan, dan pertanyaan masing-masing.

Jika kita perhatikan lebih dalam, ruang diskusi seperti ini mencerminkan kritik Paulo Freire terhadap pendidikan gaya bank. Tidak ada satu suara yang dianggap paling benar. Pengetahuan tidak diturunkan dari atas ke bawah, melainkan dibangun bersama melalui dialog.

Peserta diskusi tidak hadir sebagai objek yang harus diisi, tetapi sebagai subjek yang aktif berpikir. Pengalaman hidup, realitas sosial sekitar, serta bacaan menjadi bahan utama pembelajaran. Di ruang seperti inilah pendidikan kembali menemukan wajah manusianya.

Diskusi ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan pembebasan tidak membutuhkan fasilitas mewah. Ia justru tumbuh dari kesadaran kolektif dan keberanian untuk bertanya: mengapa realitas sosial kita seperti ini, dan apa peran kita di dalamnya?

Lingkaran diskusi ini menjadi simbol kecil dari pendidikan hadap masalah (problem-posing education). Setiap peserta bebas menyampaikan pandangan, menguji gagasan, dan mengaitkan teori Paulo Freire dengan kondisi nyata pendidikan dan ketimpangan sosial di Indonesia.

Bayangkan jika pendidikan berani mengajak kita mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan nyata: mengapa kemiskinan masih ada di sekitar sekolah kita, mengapa akses pendidikan berbeda antara kota dan desa, dan mengapa suara pemuda sering diabaikan.

Di titik inilah pendidikan terasa hidup. Ia tidak lagi sekadar pelajaran, tetapi alat untuk memahami dunia yang sedang kita jalani. Dalam konteks inilah, Pendidikan Kaum Tertindas tidak berhenti sebagai teks bacaan, tetapi berubah menjadi praktik hidup. Buku dibedah bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipertanyakan, dirasakan, dan dihubungkan dengan realitas sekitar.

Kegiatan diskusi seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan pembebasan bisa dimulai dari ruang paling sederhana. Dari duduk melingkar, mendengar dengan jujur, dan keberanian untuk berpikir bersama, lahir kesadaran kritis yang menjadi fondasi perubahan sosial.

Sebagaimana diyakini Paulo Freire, pendidikan sejatinya adalah tindakan harapan. Dan harapan itu sering kali bermula dari ruang-ruang kecil seperti ini.

Bagi banyak pemuda dan mahasiswa, ruang-ruang kecil seperti inilah yang justru membuat pendidikan terasa paling manusiawi.

Kita hidup di Indonesia yang tidak lepas dari ketimpangan. Perbedaan kualitas pendidikan antara kaya dan miskin, kota dan desa, masih nyata di depan mata. Dalam situasi ini, pendidikan seharusnya tidak hanya menyiapkan kita menjadi tenaga kerja, tetapi juga manusia yang sadar.

Kesadaran kritis, menurut Paulo, bukanlah sikap melawan tanpa arah. Ia adalah kemampuan memahami struktur sosial dan bertindak secara bertanggung jawab untuk mengubahnya. Pendidikan yang membebaskan tidak melahirkan kekacauan, tetapi kesadaran dan kepedulian.

Membaca Pendidikan Kaum Tertindas hari ini sejatinya adalah membaca diri kita sendiri. Buku ini mengajak kita bertanya ulang: untuk siapa pendidikan diselenggarakan, dan dimana ia membawa kita?

Jika pendidikan hanya berhenti pada pencetakan lulusan, kita mungkin akan kehilangan kemanusiaan kita. Namun jika pendidikan diarahkan untuk membangun kesadaran, dialog, dan keberanian berpikir, maka ia menjadi tindakan harapan.

Perubahan besar tidak selalu lahir dari ruang kelas mewah, tetapi dari percakapan kecil, diskusi jujur, dan keberanian kita untuk terus bertanya dan menyuarakan realitas.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Nur Arifah
Opini

Menemukan Suara: Menyelami Perjalanan Menuju Pemulihan bagi Korban Kekerasan Seksual

29 Juli 2024
113
Img 20250910
Opini

Tantangan dan Harapan Generasi Muda di Era Digital

10 September 2025
218
Whatsapp Image 2025 08 04 At 14 38
Opini

Mengapa Harus Ada Lembaga Pendidikan yang Independen?

5 Agustus 2025
102
Img 20250901
Opini

Jangan Biarkan Provokator Merampas Perjuangan Kita

1 September 2025
30

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi