Oleh : Aldi Tri Putra
Pendidikan sering dipahami sebagai urusan kurikulum, capaian akademik, dan administrasi sekolah. Ukurannya jelas: nilai, kelulusan, dan laporan.
Namun, di balik keteraturan itu, pendidikan kerap kehilangan fungsi dasarnya membentuk manusia yang mampu memahami realitas sosialnya sendiri. Sastra, melalui buku, menawarkan ruang belajar lain yang kerap terabaikan oleh sistem pendidikan formal.
Diskusi buku Namaku Alam karya Leila S. Chudori yang digelar di Kecamatan Bontomarannu, Kelurahan Borongloe, Mawang, menjadi salah satu ruang untuk kembali pada realitas pendidikan yang mampu memahami diri sendiri dan orang lain.
Novel ini dibaca bukan semata sebagai karya sastra, melainkan sebagai cermin tentang bagaimana seseorang belajar memahami dunia dari pengalaman hidup, ingatan keluarga, dan realitas sosial yang tidak selalu dijelaskan secara gamblang.
Tokoh Alam dalam novel digambarkan tumbuh dengan cerita keluarga yang tidak pernah sepenuhnya terbuka. Ia belajar dari sikap orang-orang di sekitarnya, dari pertanyaan yang dibiarkan menggantung, dan dari ingatan yang diwariskan tanpa penjelasan.
Cara belajar semacam ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk formal. Ia justru sering berlangsung dalam keseharian, melalui proses memahami kenyataan yang tidak rapi.
Pembacaan ini terasa relevan dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Sistem pendidikan cenderung menekankan keteraturan dan kepatuhan terhadap kurikulum, sementara realitas sosial yang kompleks sering disederhanakan.
Sejarah diajarkan sebagai narasi resmi, terpisah dari pengalaman manusia yang mengalaminya. Akibatnya, peserta didik tumbuh dengan pengetahuan yang tertata, tetapi minim ruang refleksi dan empati.
Masalah pendidikan semakin kentara ketika dikaitkan dengan ketimpangan sosial. Akses terhadap pendidikan bermutu masih lebih mudah dijangkau oleh kelompok ekonomi atas. Bagi mereka, pendidikan menjadi ruang pengembangan diri dan kebebasan berpikir.
Sebaliknya, bagi kelompok ekonomi menengah ke bawah, pendidikan sering kali hanya menjadi kewajiban administratif: hadir, mengikuti ujian, lalu lulus. Proses belajar jarang memberi pemaknaan, bahkan dalam beberapa kasus menghadirkan pengalaman diskriminatif yang lebih menonjolkan keterbatasan ekonomi dibandingkan nilai kemanusiaan.
Ketimpangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kondisi tenaga pendidik. Banyak guru, terutama di daerah, masih menghadapi persoalan kesejahteraan. Upah yang tidak sebanding dengan beban kerja, status kerja yang tidak pasti, serta tuntutan administratif yang tinggi membuat profesi pendidik kehilangan ruang untuk bekerja secara optimal.
Di sisi lain, kebijakan pendidikan kerap ditentukan melalui mekanisme birokrasi yang jauh dari realitas ruang kelas. Pendidikan pun berisiko berubah menjadi urusan tanda tangan dan laporan, bukan relasi manusia.
Dalam konteks ini, Namaku Alam bekerja sebagai pengingat. Novel tersebut tidak menawarkan solusi instan, tetapi memperlihatkan dampak dari pendidikan yang menghindari realitas. Diam yang diwariskan kepada Alam menjelma menjadi kebingungan yang dibawa hingga dewasa.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa pendidikan yang tidak memberi ruang untuk memahami masa lalu dan realitas sosial justru mewariskan persoalan baru kepada generasi berikutnya.
melalui buku, membuka kemungkinan lain dalam memaknai pendidikan. Ia mengajak pembaca berhenti sejenak, merefleksikan pengalaman, dan melihat manusia sebagai subjek, bukan angka statistik.
Namun refleksi semacam ini tidak akan berdampak luas jika berhenti pada pembacaan individual. Diskusi buku dan forum literasi menjadi jembatan agar gagasan tersebut hadir di ruang publik.
Peran organisasi menjadi sangat penting dalam konteks ini. Melalui diskusi dan kegiatan-kegiatan yang mengembangkan sumber daya manusia baik kader ataupun masyarakat, organisasi menciptakan ruang belajar alternatif yang lebih inklusif dan terbuka.
Kritik terhadap sistem pendidikan tidak disampaikan melalui konfrontasi, melainkan melalui dialog dan kegiatan edukatif yang dekat dengan masyarakat. Dengan cara ini, organisasi dapat menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penyampai kritik.
Belajar dari buku, sebagaimana ditunjukkan dalam diskusi Namaku Alam, adalah upaya mengembalikan pendidikan pada makna dasarnya. Pendidikan tidak hanya soal apa yang diajarkan, tetapi bagaimana manusia belajar memahami dirinya, orang lain, dan realitas sosial yang dihadapinya. Dari buku dan ruang-ruang diskusi itulah, pendidikan menemukan kembali fungsinya sebagai proses memanusiakan manusia.




