Sebuah dokumenter yang merehabilitasi memori kolektif peradaban Sulawesi Selatan.
Tim Jejak Sulsel telah menyelesaikan penelitian terkait penelusuran jejak ilmu pengetahuan di sulawesi selatan. Dikerjakan kurang lebih 8 bulan.
“Berlangsung sejak Januari sampai bulan juli, sedangkan juli pengambilan gambar/footage bahan pendukung film dokumenter dan bulan agustus editing filmnya” tulis Ziyad, ketua program dalam film ini.
Menurut Ziyad, Narasi sejarah sulawesi selatan kerap ditempatkan dalam koridor pertempuran dan resistensi politik. Pendekatan historiografi yang dominan menyisakan kekhawatiran bahwa peradaban di tanah ini (sulawesi-selatan) hanya dibentuk oleh peperangan dan heroisme fisik semata.
“Narasi dominan tentang sejarah Sulawesi Selatan selalu dianggap sejarah perang dan berdarah” menurutnya.
Menjawab hal tersebut, sebuah film dokumenter berjudul “The Land of Paradox” diperkirakan peluncurannya pada awal bulan November 2026.
Latar belakang Film ini merupakan hasil adaptasi penelitian Tim Jejak Sulsel dan Komunitas transisi melalui program “Menelusuri Jejak Ilmu Pengetahuan Sulawesi Selatan”, sebuah inisiatif yang bertujuan merekam ingatan warisan sejarah intelektual kawasan semenanjung ini.
Sulawesi berasal dari wilayah terisolir yang memiliki keunikan secara geografis, para sejarawan dan arkeolog menyebutnya Garis Wallacea. Lewat penemuan monumental para peneliti Melalui kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University (SCU). Sulawesi Selatan secara resmi mengukuhkan diri sebagai wilayah dengan peninggalan seni batu cadas tertua di dunia.
Dilansir pada website BRIN, “Seni gambar cadas yang diinterpretasikan sebagai lukisan therianthropes (figur setengah manusia, setengah hewan) yang tengah berburu babi rusa dan anoa.
Berada di garis Wallacea—wilayah unik yang terisolasi secara geografis—Semenanjung Sulawesi bagian selatan terbukti melahirkan kebudayaan, seni, dan warisan kepercayaan yang teramat tua dan kompleks.”
Dari penemuan para peneliti, memberikan kami alasan menelusuri imajinasi yang termanifestasi dari alam pikir manusia sulawesi, menemukan kepingan-kepingan pengetahuan tersebut.
“Sulawesi bagi saya adalah Sejarah perkembangan pemikiran kolektif Sulawesi Selatan, wujud perwajahan lain yang jarang diceritakan” itulah makna sulawesi selatan baginya.
Film ini mencoba mengurai pertanyaan mendasar, mengapa isu konflik dan perang kesukuan kerap menjadi pemicu kekhawatiran di tengah masyarakat? “yah, karena narasi sejarah mengabaikan dimensi budaya dan intelektual yang menopang peradaban masyarakat”
Sebab kehadiran penelitian dan film dokumenter tersebut, bukan hanya sebatas tontonan estetis atau glorifikasi narasi sejarah yang parsial.
“Melalui integrasi arsip, wawancara, lanskap budaya, hingga narasi personal yang selama ini terabaikan, kami ingin membuka ruang dialog untuk merehabilitasi memori kolektif kita,” ungkap Ziyad.
“Tujuannya jelas bahwa untuk memperkuat argumentasi narasi dan estetika dalam film dokumenter, bukan hanya estetis secara visual yang paling penting—juga mampu tersampaikan kepada khalayak luas, apa yang akan kami sampaikan,” tutup Ziyad.


