patakaeja.id — Ada suasana dialogis dan hangat di Pusdam Gowa pada 7–8 November 2025. Di tengah udara sejuk malam itu, spirit pembaharuan kembali menyala di tubuh Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Se – UIN Alauddin.
Forum Musyawarah Komisariat, bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan ruang untuk menegaskan kembali jati diri gerakan yang berlandaskan intelektualitas, religiusitas, dan humanitas. Dengan tema “Rekontekstualisasi Peran IMM: Meneguhkan Kembali Spirit Gerakan,” para kader muda berdiskusi, berdebat, dan akhirnya bermufakat melahirkan para pemimpin baru sebagai simbol regenerasi yang penuh harapan.
Lahirnya Para Nahkoda Baru
Di penghujung musyawarah, terpilihlah tujuh sosok baru yang akan menakhodai setiap Pimpinan Komisariat di lingkungan UIN Alauddin. Mereka bukan sekadar “nama-nama baru” dalam struktur organisasi, tetapi wajah-wajah muda yang siap mengemban amanah besar: menjaga bara api perjuangan IMM agar terus menyala.
Inilah mereka:
- Fibriyanti – Ketua Umum PK IMM Fakultas Adab dan Humaniora (FAH)
- Hasnia Astuti – Ketua Umum PK IMM Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK)
- Shafi Akbar – Ketua Umum PK IMM Fakultas Sains dan Teknologi (FST)
- Muh. Rifa Fahreza – Ketua Umum PK IMM Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUIP)
- Mubarak – Ketua Umum PK IMM Fakultas Syariah dan Hukum (FSH)
- Firdaus – Ketua Umum PK IMM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
- Diki Candra – Ketua Umum PK IMM Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)
Tujuh nama ini menjadi simbol dari harapan baru, bahwa IMM UIN Alauddin akan terus tumbuh sebagai rumah ide dan gerakan intelektual mahasiswa Islam.
Amanat Musyawarah
Menjadi sebuah pemantik semangat saat Ketua Umum Pimpinan Cabang IMM Gowa Periode 2025–2026, Nurafni, memberikan ucapan selamat dan pesan. ia menegaskan makna sejati dari kepemimpinan dalam Ikatan.
“Selamat mengemban amanah kepada tujuh ketua umum baru. Ini bukan soal posisi, tapi soal tanggung jawab moral dan pelayanan. Mari kita pastikan setiap kader IMM UIN Alauddin mengimplementasikan slogan ‘Anggun dalam Moral, Unggul dalam Intelektual,” ujarnya penuh makna.
Sementara itu, Ketua Koordinator Komisariat IMM UIN Alauddin menambahkan bahwa tanggung jawab besar kini berpindah ke pundak para ketua terpilih.
“Amanah di tangan tujuh Ketua Umum ini adalah penentu masa depan IMM UIN Alauddin. Ukuran keberhasilan kita bukan hanya pada banyaknya program, tapi pada kualitas kader yang kita hasilkan,” ujarnya memberi semangat.
Ucapan itu bukan sekadar motivasi, melainkan pengingat bahwa gerakan IMM sejatinya hidup karena kerja nyata, bukan hanya dalam forum, tetapi dalam keseharian kader yang beraksi di tengah masyarakat kampus.
Menatap Langit, Berakar di Tanah
Musyawarah ini menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia adalah momen refleksi: tentang arah gerakan, relevansi ideologi, dan semangat keberlanjutan. Tema besar “rekontekstualisasi peran” mengandung pesan bahwa IMM tidak boleh kehilangan arah di tengah arus modernitas dan tantangan zaman.
IMM UIN Alauddin harus tetap hidup dalam gagasan, berakar pada nilai-nilai ideologis, dan tumbuh melalui kerja nyata.
Kini, tujuh nahkoda baru memikul tanggung jawab besar, menjaga bara semangat agar tak padam, menyalakannya kembali di ruang-ruang diskusi, di kampus, hingga ke tengah masyarakat.
Spirit yang Tak Akan Padam
Regenerasi bukan akhir, melainkan awal babak baru. Dengan semangat yang hangat dan tekad yang kuat, tujuh ketua umum baru IMM UIN Alauddin diharapkan mampu membawa pergerakan ini menuju masa depan yang lebih berdaya, lebih anggun, dan lebih unggul.
Karena di tubuh IMM, setiap pemimpin lahir bukan untuk sekadar memimpin, tetapi untuk menghidupkan kembali api perjuangan yang tak pernah padam.




