Oleh: Temannya Hajrah
Respon ini saya tulis setelah membaca tulisan sahabat saya tentang mikroplastik, lalu tersenyum, karena sebagian besar isi tulisannya sebenarnya sudah lama kami bahas di beberapa meja kopi dan perkaderan. bedanya, kami membahasnya sambil tertawa.
Ada satu jenis lelucon yang abadi dan tidak pernah mati: lelucon yang sebenarnya tidak lucu, tapi terus diulang. Dalam lingkar pertemanan kami, lelucon itu bernama mikroplastik.
Setiap kali ada gelas plastik, sedotan, atau bungkus kopi instan, pasti ada ada saja celetukan, “hati-hati mikroplastik.” Tidak ada punchline, Semua tertawa setengah sadar, setengah pasrah. Anehnya, lelucon ini tidak pernah benar-benar basi.
Kalau dilihat sepintas, ini hanyalah jokes receh khas anak nongkrong yang kebanyakan minum kopi sachet. Tapi kalau ditelusuri lebih dalam dengan kacamata sok akademis tapi tetap waras lelucon ini adalah penanda relasi sosial yang cukup matang. Ia bukan ejekan, bukan pula ceramah. Ia lahir dari kesadaran bersama bahwa ada sesuatu yang salah, tapi terlalu kompleks untuk diselesaikan.
Mikroplastik, dalam konteks ini, bukan sekadar serpihan plastik berukuran mikro yang sering muncul di jurnal ilmiah dan berita lingkungan. Ia sudah berubah menjadi simbol. Simbol dari gaya hidup praktis yang kita peluk erat, sambil sesekali pura-pura merasa bersalah. Dan di sinilah jokes bekerja. Ia menjadi cara paling jujur untuk mengakui kontradiksi itu tanpa harus berlagak suci.
Yang menarik, lelucon mikroplastik ini justru paling rajin muncul di momen perkaderan organisasi. Ruang yang katanya serius, ideologis, dan penuh nilai. Di antara materi berat, diskusi panjang, dan kopi yang terus diisi ulang, jokes ini hadir seperti intermezzo. Bukan untuk mencairkan suasana semata, tapi untuk menyelipkan ingatan kecil: bahwa kita sedang hidup di dunia yang tidak baik-baik saja, bahkan saat sedang membicarakan perubahan.
Kenapa harus diulang-ulang? Jawabannya sederhana dan agak menyedihkan: karena kita mudah lupa. Dalam tradisi perkaderan, pengulangan adalah metode utama. Materi diulang, jargon diulang, bahkan kesalahan pun diulang.
Maka jokes mikroplastik ikut diulang, agar kesadaran soal dampaknya tidak kalah oleh kepraktisan plastik itu sendiri. Ia menjadi semacam ritual verbal, tanda bahwa kami sadar, meski belum sepenuhnya mampu berubah.
Di titik ini, humor tidak lagi berdiri sebagai hiburan. Ia berubah fungsi menjadi alat tegur sosial paling sopan. Tidak ada yang merasa diserang. Tidak ada yang merasa paling bersalah. Semua tertawa, tapi tawa itu menyimpan jeda kecil, ruang hening sepersekian detik tempat pikiran bekerja. “Oh iya, ini sebenarnya bermasalah.” Dalam bahasa yang lebih akademis, ini bisa disebut sebagai mekanisme refleksi kolektif berbasis kedekatan emosional. Kalau mau lebih sok, sebut saja pedagogi bercanda.
Persahabatan memberi ruang aman untuk model teguran semacam ini. Dalam relasi yang tidak kaku, kritik bisa datang tanpa mimbar.
Jokes mikroplastik adalah bentuk cinta paling sederhana: saling mengingatkan tanpa perlu merasa lebih sadar dari yang lain. Tidak ada hierarki moral di dalamnya. Yang ada hanya pengakuan jujur bahwa kita semua sama-sama bagian dari masalah.
Tentu saja, ada risiko. Jokes bisa berhenti hanya sebagai jokes. Kesadaran bisa mentok di tawa, lalu pulang bersama gelas plastik yang dibuang sembarangan. Tapi justru di situlah tantangannya.
Jokes ini bukan solusi, melainkan pengingat. Ia tidak menyelesaikan apa-apa, tapi memastikan kita tidak sepenuhnya lupa. Dalam dunia yang penuh ceramah, barangkali mengingat adalah langkah awal yang paling realistis.
Kami tidak naif. Kami tahu mikroplastik tidak akan menghilang hanya karena kami tertawa di ruang perkaderan. Sistem produksi global tidak runtuh karena satu jokes garing. Tapi setidaknya, lelucon ini menjaga satu hal penting: rasa tidak nyaman yang sehat. Rasa tidak nyaman yang tidak mematikan diskusi, tapi cukup mengganggu untuk direnungkan.
Pada akhirnya, mikroplastik, jokes, dan persahabatan bertemu di satu titik yang sama: kesadaran bahwa perubahan besar sering kali berawal dari hal kecil, bahkan dari sesuatu yang terlihat tidak serius.
Di tengah ketergantungan yang sulit diputus, mungkin inilah bentuk perlawanan paling jujur yang bisa kami lakukan saat ini, dengan menertawakan diri sendiri, sambil pelan-pelan belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Atau setidaknya, tidak mengulangnya tanpa sadar.




