Oleh: Fika Kurnialin
Mengapa kau mencintainya, bila cinta takkan berbalas?
Seperti hujan jatuh mencintai bumi, meski dirinya menguap
ditelan rindu.
Lantas, mengapa kau bernapas, bila akhirnya kau mati?
Karena setiap hela adalah melodi, sebelum senyap abadi
menyergap.
Mengapa kau mengasihinya, bila hanya akan terluka?
Seperti mentari taburkan cahaya, walau malam pasti merayap
datang.
Lantas, mengapa kau hidup, bila ujungnya adalah fana?
Karena hidup bukan tentang akhir, tapi tentang merasakan
sepenuhnya.
Mengapa kau memegangnya erat, bila dia akan pergi?
Seperti lautan merangkul pantai, walau pasirnya terhanyut
ombak waktu.
Lantas, mengapa jantung berdetak, bila akhirnya akan berhenti?
Karena setiap detak adalah babak, yang hanya sekali terukir
abadi.
Mengapa kau tak melepasnya, walau tahu ini mungkin sia-sia?
Seperti akar mencengkeram tanah, walau pohon kelak ‘kan
tumbang.
Lantas, mengapa kita ada, bila semua fana belaka?
Karena cinta, napas, dan rasa itulah jawabnya, sebelum akhirnya
kembali menjadi debu dan cahaya.




