Bulukumba, Pataka Eja — Desa Lolisang, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, memiliki beragam potensi lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah bubu, alat penangkap ikan tradisional yang masih dikenal dan digunakan masyarakat setempat.
Bubu menjadi salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Desa Lolisang dalam memanfaatkan sumber daya perairan. Alat tangkap tradisional tersebut dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dan digunakan dengan cara sederhana untuk menangkap ikan.
Keberadaan bubu tidak hanya berkaitan dengan aktivitas mencari hasil laut. Lebih dari itu, bubu juga menjadi bagian dari pengetahuan dan keterampilan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Potensi tersebut turut diperkenalkan dalam kegiatan sosialisasi pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal yang dilaksanakan mahasiswa KKN Angkatan 79 UIN Alauddin Makassar Posko 15 di Desa Lolisang.
Dalam kegiatan tersebut, bubu diperkenalkan sebagai salah satu kekayaan lokal yang memiliki nilai budaya sekaligus peluang untuk dikembangkan dalam mendukung perekonomian masyarakat.
Mahasiswa KKN Angkatan 79 UIN Alauddin Makassar Posko 15 menjelaskan, potensi lokal seperti bubu tidak hanya memiliki nilai dari sisi pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga berkaitan dengan budaya dan identitas masyarakat Desa Lolisang.
“Bubu merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki Desa Lolisang. Keberadaannya menunjukkan bagaimana masyarakat sejak dahulu memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar dengan pengetahuan dan cara yang diwariskan secara turun-temurun,” ujar salah satu mahasiswa KKN Angkatan 79 UIN Alauddin Makassar Posko 15.
Menurut mahasiswa KKN, pengenalan bubu kepada generasi muda menjadi penting agar pengetahuan dan keterampilan dalam membuat maupun menggunakan alat tangkap tradisional tersebut tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
Selain sebagai bagian dari kearifan lokal, keberadaan bubu juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi dan budaya di Desa Lolisang.
Pengunjung dapat diperkenalkan dengan proses pembuatan bubu, bahan yang digunakan, cara penggunaannya, hingga nilai budaya yang terdapat di balik keberadaan alat tangkap tradisional tersebut.
Pengembangan tersebut juga dapat dikaitkan dengan potensi lokal lainnya yang dimiliki Desa Lolisang, seperti kawasan pantai, rumah adat, serta komoditas perkebunan kelapa dan kakao.
Jika dikembangkan secara terpadu, berbagai potensi tersebut dapat menjadi bagian dari konsep wisata berbasis masyarakat yang tidak hanya mengedepankan daya tarik alam, tetapi juga pengalaman budaya dan kehidupan masyarakat lokal.
Pengembangan potensi tersebut tetap perlu memperhatikan nilai budaya, kelestarian lingkungan, serta kehidupan masyarakat setempat agar pemanfaatannya dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Pelestarian bubu pada akhirnya bukan sekadar mempertahankan sebuah alat penangkap ikan tradisional. Di dalamnya terdapat pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Lolisang.
Dengan terus mengenalkan dan melestarikan kearifan lokal tersebut, masyarakat Desa Lolisang tidak hanya dapat menjaga warisan budaya, tetapi juga memiliki peluang untuk mengembangkan potensi ekonomi dan pariwisata yang bersumber dari kekayaan lokal desa.




