Oleh: Tina Marlina
Ayah, legenda dalam hidupku.
PILAR, yang menopang langit dunia kecilku.
Lelaki terkuat yang kukenal.
Bahunya, tumpuan segala laraku.
Matanya, samudrapun tak pernah mengizinkan airnya tumpah.
Dia yang berdiri diantara aku dan dunia yang garang.
Melindungi dari hantaman badai yang ingin merenggut senyumku.
Dialah ayah.
Cinta pertamaku yang tak pernah tergantikan.
Dalam kesederhanaanya, terkandung kebijaksanaan abadi.
Dalam ketulusannya, terpancar cahaya yang hangat.
Dalam keheningannya, tersimpan samudra makna.
Ayah, Apa kabar disana?
Rindu ini menggerus rongga dadaku.
Merangkak pelan di setiap tulang rusukku.
Merindukan celoteh dan wejangan yang menjadi pelita langkahku.
Kini, yang tersisa hanyalah satu bentuk bisu.
Sebuah jasad yang kaku, berbalut kain putih.
Gundukan tanah merah itu akhirnya mengubur cinta pertamaku.
Menyimpan raga yang dulu begitu perkasa.
Terkadang, ingin rasanya tangan ini menggali gundukan tanah itu.
Meloloskan diri ke dalam buliran tanah.
Hanya untuk satu nafas yang mampu memelukmu sekali lagi, Ayah.
Ayah….
Ragamu mungkin telah pergi,
Namun, namamu telah menjadi mantra penggerak jiwaku.
Semangatmu adalah darah yang mengalir dalam nadi impianku.
Kau tetap hidup, bukan dalam mimpi,
Dalam setiap langkah keberanianku.




