Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

KRITIK ITU BUKAN BENCI, TAPI CINTA

Oleh: Firdaus

Pataka Eja by Pataka Eja
3 Juli 2024
in Opini
0
Img Firdaus Ii

Setiap ada kritikan selalu dianggap hal yang tidak baik. Dianggap sesuatu yang merendahkan, menjatuhkan kehormatan dan lain sebagainya. Jadi banyak yang tidak ingin di kritik karena mereka menganggap kritikan itu merupakan hal yang tidak baik, merendahkan mereka.

Namun, kritikan itu sebenarnya adalah sebuah cinta. Misalnya Bima cinta Daerah Lampung makanya Bima mengkritik pembangunan di Lampung, agarsupaya Lampung bisa lebih baik. Seperti anak SMP di kota Jambi yang cinta akan nenek dan semua tentang neneknya, makanya siswa berbicara soal hak-hak yang dilanggar oleh orang lain. Tapi, sayang suara yang disebut dengan kata kritik selalu ditakut-takuti oleh UU ITE.

Kita bisa lihat bagaimana Bima di Lampung, bagaimana anak SMP di Jambi yang baru-baru viral pasti kritikannya akan dibenturkan oleh UU ITE. Karena kritikan selalu dianggap hal-hal yang tidak baik, karena merendahkan atau menjatuhkan kehormatan.

Kritikan yang dianggap berbahaya bagi kedudukan seseorang sebenarnya sudah ada dalam zaman Yunani Kuno. Pada zaman itu, terdapat sebuah kaum yang namanya kaum Shopis, kaum yang menganggap dirinya sebagai orang yang bijaksana, orang yang mengetahui segala sesuatu yang dianggap benar. Tokohnya adalah Gorgias dan Protagoras dan kawan-kawannya.

Gorgias dan Protagoras ini adalah seorang pengajar yang selalu kemana-mana mengajarkan Retorika untuk digunakan dalam Politik, Gorgias inilah yang mengajarkan bahwa retorika itu bukan soal kebenaran tetapi soal bagaimana memenangkan berdebatan. Bagi Gorgias, gagasan itu bisa dianggap benar ketika memenangkan perdebatan.

Gorgiaslah yang mengajarkan bagaimana berpidato tanpa persiapan.

Di sinilah peran pemerintah yang harus mampu melihat kritikan itu dari banyak pandangan. Bukan cuma melihat kritikan lewat pandangan pemerintah belaka tapi bagaimana mampu memahami pandangan si pengkritik. Makanya pemerintah harus mengunakan ilmu Filsafat.

Ilmu filsafat adalah ilmu cinta kebijaksanaan. Dimana orang yang berfilsafat mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Pemerintah harus menguasai Ilmu filsafat supaya mampu meramu soal benar salah, baik buruk dan bermanfaat atau merugikan supaya mampu menghasilkan sesuatu yang adil dan bijak.

Dalam filsafat ada tokoh yang dianggap bijaksana yaitu Socrates. Socrates dalam berfilsafat dia dikenal sebagai tokoh yang suka berdialektika untuk mencapai sebuah kebenaran. Karena bagi Socrates, sesuatu yang dia tahu bahwa dia tidak tahu. Dalam artian bahwa kalau kita ingin mengetahui soal pertanian, kita harus berdialek dengan petani. Kalau kita ingin tahu soal nelayan ya kita butuh berdialek dengan nelayan dan seterusnya.

Ilmu yang diterapkan oleh Socrates seharusnya diterapkan juga oleh pemerintah. Supaya pemerintah sadar bahwa yang dia tahu bahwa dia  tidak tahu. Untuk mengetahui, ya butuk berdialek. Misalnya ingin mengetahui soal pertanian, ya berdialek dengan petani. Ingin mengetahui persoalan-persoalan yang dialami oleh rakyat, ya berdialek dengan rakyat dan lain sebagainya.

Ketika ilmu Socrates diterapkan akan mengasilkan saling memahami, saling kerja sama, dan saling mengisi kekurangan masing-masing. Karena yang diketahui oleh pemerintah belum tentu diketahui oleh rakyat dan yang diketahui rakyat belum tentu diketahui oleh pemerintah. Untuk saling mengetahui dan tidak ada kesalahpahaman, ya butuh berdialek.

Pemerintah seperti itulah yang dicita-citakan oleh Plato. Plato ini murid langsungnya Socrates. Dimana pemikiran Plato menganggap bahwa majunya sebuah negara Ketika dipimpin oleh seorang yang berjiwa Filsuf. Filsuf itu adalah seseorang yang cinta kebijaksanaan. Kenapa harus ada cinta kebijaksanaan?  Kenapa bukan kebijaksanaan itu sendiri?

Dalam secara Yunani Kuno, ada kaum shopis yang menganggap dirinya sebagai orang bijaksana atau orang yang pintar pada waktu itu. Tokohnya Gorgias, Protagoras dan kawan-kawanya. Gorgias ini adalah dosen selalu kemana-mana mengajarkan Retorika yang digunakan dalam politik. Bagi Gorgias, Inti dari Retorika itu bukan soal kebenarannya tapi soal memang berdebat. Katanya gagasan itu akan dianggap benar Ketika kita menang debat.

Gorgias inilah yang mengajarkan kebenaran itu Relatif tergantung kondisinya. Bukan absolut. Tetapi dimasa kaum shopis ini dia tidak mau di kritik. Bagi dia kritik itu adalah sebuah hal yang membahayakan bagi kedudukannya.

Muncullah Socrates sebagai anti thesis dari kaum shopis ini. Dengan mengunakan metode dialek itu. Bahwa kebenaran itu ada di setiap orang dan untuk mengetahui kebenaran itu butuh dialek.

Dari refleksi sejarah Yunani kuno tersebut. Pemerintah bisa ambil sebuah pelajaran bahwa Ketika kita sebagai pemerintah yang takut di kritik karena menganggap hal itu tidak baik, bisa merendahkan atau menjatuhkan kehormatan. Bisa jadi kita bagian dari kaum Shopis yang menganggap kritikan itu sesuatu hal yang membahayakan kedudukan  kita.

Tetapi Ketika kritikan setiap orang kita anggap hal yang harus di diskusikan bersama karena dianggap bahwa kritikan itu mengandung sebuah kebenaran yang tidak kita ketahui berarti kita siap mengikuti sosok Socrates.

 

“Penulis merupakan Ketua bidang Penalaran dan Penelitian DPP HIPMA Gowa
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20251124
Opini

Dari Kelisanan ke Layar: Tantangan Komunikasi di Era Digital

25 November 2025
169
Img 20250501
Opini

Di Lautan Perang Tarif Antara AS dan China, Akankah Indonesia Tenggelam atau Belajar Lebih Jauh?

1 Mei 2025
74
266441604 1009201916604096 6903033586605320215 N
Opini

REFLEKSI HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL: DIMANA RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN?

2 Juli 2024
92
Img 20250818 Wa0017
Opini

Tanah Air Yang Berumur 80 Tahun

20 Agustus 2025
101

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi