Setiap ada kritikan selalu dianggap hal yang tidak baik. Dianggap sesuatu yang merendahkan, menjatuhkan kehormatan dan lain sebagainya. Jadi banyak yang tidak ingin di kritik karena mereka menganggap kritikan itu merupakan hal yang tidak baik, merendahkan mereka.
Namun, kritikan itu sebenarnya adalah sebuah cinta. Misalnya Bima cinta Daerah Lampung makanya Bima mengkritik pembangunan di Lampung, agarsupaya Lampung bisa lebih baik. Seperti anak SMP di kota Jambi yang cinta akan nenek dan semua tentang neneknya, makanya siswa berbicara soal hak-hak yang dilanggar oleh orang lain. Tapi, sayang suara yang disebut dengan kata kritik selalu ditakut-takuti oleh UU ITE.
Kita bisa lihat bagaimana Bima di Lampung, bagaimana anak SMP di Jambi yang baru-baru viral pasti kritikannya akan dibenturkan oleh UU ITE. Karena kritikan selalu dianggap hal-hal yang tidak baik, karena merendahkan atau menjatuhkan kehormatan.
Kritikan yang dianggap berbahaya bagi kedudukan seseorang sebenarnya sudah ada dalam zaman Yunani Kuno. Pada zaman itu, terdapat sebuah kaum yang namanya kaum Shopis, kaum yang menganggap dirinya sebagai orang yang bijaksana, orang yang mengetahui segala sesuatu yang dianggap benar. Tokohnya adalah Gorgias dan Protagoras dan kawan-kawannya.
Gorgias dan Protagoras ini adalah seorang pengajar yang selalu kemana-mana mengajarkan Retorika untuk digunakan dalam Politik, Gorgias inilah yang mengajarkan bahwa retorika itu bukan soal kebenaran tetapi soal bagaimana memenangkan berdebatan. Bagi Gorgias, gagasan itu bisa dianggap benar ketika memenangkan perdebatan.
Gorgiaslah yang mengajarkan bagaimana berpidato tanpa persiapan.
Di sinilah peran pemerintah yang harus mampu melihat kritikan itu dari banyak pandangan. Bukan cuma melihat kritikan lewat pandangan pemerintah belaka tapi bagaimana mampu memahami pandangan si pengkritik. Makanya pemerintah harus mengunakan ilmu Filsafat.
Ilmu filsafat adalah ilmu cinta kebijaksanaan. Dimana orang yang berfilsafat mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Pemerintah harus menguasai Ilmu filsafat supaya mampu meramu soal benar salah, baik buruk dan bermanfaat atau merugikan supaya mampu menghasilkan sesuatu yang adil dan bijak.
Dalam filsafat ada tokoh yang dianggap bijaksana yaitu Socrates. Socrates dalam berfilsafat dia dikenal sebagai tokoh yang suka berdialektika untuk mencapai sebuah kebenaran. Karena bagi Socrates, sesuatu yang dia tahu bahwa dia tidak tahu. Dalam artian bahwa kalau kita ingin mengetahui soal pertanian, kita harus berdialek dengan petani. Kalau kita ingin tahu soal nelayan ya kita butuh berdialek dengan nelayan dan seterusnya.
Ilmu yang diterapkan oleh Socrates seharusnya diterapkan juga oleh pemerintah. Supaya pemerintah sadar bahwa yang dia tahu bahwa dia tidak tahu. Untuk mengetahui, ya butuk berdialek. Misalnya ingin mengetahui soal pertanian, ya berdialek dengan petani. Ingin mengetahui persoalan-persoalan yang dialami oleh rakyat, ya berdialek dengan rakyat dan lain sebagainya.
Ketika ilmu Socrates diterapkan akan mengasilkan saling memahami, saling kerja sama, dan saling mengisi kekurangan masing-masing. Karena yang diketahui oleh pemerintah belum tentu diketahui oleh rakyat dan yang diketahui rakyat belum tentu diketahui oleh pemerintah. Untuk saling mengetahui dan tidak ada kesalahpahaman, ya butuh berdialek.
Pemerintah seperti itulah yang dicita-citakan oleh Plato. Plato ini murid langsungnya Socrates. Dimana pemikiran Plato menganggap bahwa majunya sebuah negara Ketika dipimpin oleh seorang yang berjiwa Filsuf. Filsuf itu adalah seseorang yang cinta kebijaksanaan. Kenapa harus ada cinta kebijaksanaan? Kenapa bukan kebijaksanaan itu sendiri?
Dalam secara Yunani Kuno, ada kaum shopis yang menganggap dirinya sebagai orang bijaksana atau orang yang pintar pada waktu itu. Tokohnya Gorgias, Protagoras dan kawan-kawanya. Gorgias ini adalah dosen selalu kemana-mana mengajarkan Retorika yang digunakan dalam politik. Bagi Gorgias, Inti dari Retorika itu bukan soal kebenarannya tapi soal memang berdebat. Katanya gagasan itu akan dianggap benar Ketika kita menang debat.
Gorgias inilah yang mengajarkan kebenaran itu Relatif tergantung kondisinya. Bukan absolut. Tetapi dimasa kaum shopis ini dia tidak mau di kritik. Bagi dia kritik itu adalah sebuah hal yang membahayakan bagi kedudukannya.
Muncullah Socrates sebagai anti thesis dari kaum shopis ini. Dengan mengunakan metode dialek itu. Bahwa kebenaran itu ada di setiap orang dan untuk mengetahui kebenaran itu butuh dialek.
Dari refleksi sejarah Yunani kuno tersebut. Pemerintah bisa ambil sebuah pelajaran bahwa Ketika kita sebagai pemerintah yang takut di kritik karena menganggap hal itu tidak baik, bisa merendahkan atau menjatuhkan kehormatan. Bisa jadi kita bagian dari kaum Shopis yang menganggap kritikan itu sesuatu hal yang membahayakan kedudukan kita.
Tetapi Ketika kritikan setiap orang kita anggap hal yang harus di diskusikan bersama karena dianggap bahwa kritikan itu mengandung sebuah kebenaran yang tidak kita ketahui berarti kita siap mengikuti sosok Socrates.




