Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika Senioritas Menjadi Alat Penindasan

Pataka Eja by Pataka Eja
21 September 2025
in Opini
0
Img 20250908 Wa0007

Oleh: Caca

Senioritas di kampus pada dasarnya adalah hal wajar: sebuah penghormatan terhadap mereka yang lebih dahulu menapaki jalan akademik dan organisasi. Senior mestinya menjadi teladan, pembuka jalan, sekaligus penunjuk arah bagi adik tingkat.

Sayangnya, makna luhur ini terlalu sering tereduksi menjadi ritual kuasa, di mana senior merasa berhak mengatur, memerintah, bahkan merendahkan atas nama “tradisi.” Senioritas pun bergeser dari bimbingan menjadi penindasan, dari teladan menjadi intimidasi.

Lebih parah lagi, praktik ini kerap dibungkus dengan jargon solidaritas. Mahasiswa baru dipaksa “kompak” melalui kepatuhan buta, bukan kesadaran. Solidaritas yang seharusnya lahir dari rasa saling percaya dan keinginan untuk menopang, justru dijadikan senjata untuk menormalisasi ketidakadilan.

Kebersamaan lalu dimaknai sebatas ikut aturan yang mengekang, bukan tumbuh bersama dalam ruang yang sehat. Akibatnya, kampus kehilangan roh kritisnya dan berubah menjadi arena pewarisan budaya feodal.

Padahal, senioritas dan solidaritas memiliki peran penting dalam menciptakan iklim kampus yang ideal. Senioritas yang sehat adalah tentang berbagi pengalaman, membuka ruang diskusi, dan memberi teladan yang memerdekakan, bukan menakutkan.

Seorang senior sejati mampu menuntun adik tingkat agar berani berpikir, berani berbeda, dan berani mengambil peran. Sementara itu, solidaritas yang sejati tidak pernah dibangun dari rasa takut, tetapi dari kesadaran kolektif untuk saling menopang. Solidaritas adalah ruang di mana setiap orang merasa aman untuk bersuara, bukan terpaksa diam agar dianggap kompak.

Senioritas dan solidaritas seharusnya menjadi dua pilar penting bagi kehidupan kampus: yang satu mengajarkan tanggung jawab moral bagi mereka yang lebih dahulu, yang lain menumbuhkan kekuatan kolektif untuk tumbuh bersama.

Ketika keduanya dipahami dengan benar, kampus akan menjadi ruang yang hidup—penuh diskusi, keberanian, dan kepekaan sosial. Tetapi ketika keduanya disalahgunakan, yang lahir hanyalah budaya bungkam, feodalisme terselubung, dan generasi yang terbiasa tunduk, bukan kritis.

Pada akhirnya, ukuran seorang senior tidak ditentukan oleh seberapa keras ia bisa memerintah, melainkan seberapa dalam ia mampu menumbuhkan kepercayaan.

Begitu pula solidaritas: tidak terletak pada barisan yang kompak dalam diam, melainkan pada keberanian untuk saling menopang dalam kebenaran. Jika kampus ingin tetap menjadi ruang merdeka untuk belajar, maka senioritas dan solidaritas harus dimaknai ulang—dari alat penindasan menjadi jembatan pertumbuhan.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Hhssss
Opini

Di Antara Layar dan Lembar Kosong: Digitalisasi Pendidikan dan Krisis Pembentukan Karakter Anak

10 Januari 2026
94
Whatsapp Image 2025 12 17 At 22 07 52
Opini

Melindungi Amanah Leluhur: Tanah dan Budaya Adat Kajang serta Toraja Harus Dijaga bukan di Rampas

17 Desember 2025
131
Img 20250820
Opini

Mengukir Mimpi di Gerbang Kampus: Suara Yang Tak Boleh Dibungkam Oleh Keterbatasan

20 Agustus 2025
48
266441604 1009201916604096 6903033586605320215 N
Opini

REFLEKSI HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL: DIMANA RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN?

2 Juli 2024
94

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi