Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika Air Menjadi Barang Langka dan Nasib Petani Wajo Menghadapi Ancaman El Nino

Pataka Eja by Pataka Eja
4 November 2026
in Opini
0
Jgjghf

Oleh: Nahruddin


Kabupaten Wajo dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi pertanian cukup besar di Sulawesi Selatan. Bagi sebagian masyarakatnya, pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan sumber utama penghidupan. Namun, ketergantungan terhadap sektor pertanian juga menghadirkan kerentanan ketika perubahan iklim mulai mengganggu ketersediaan air. Fenomena El Nino yang berpotensi memperpanjang periode kering menjadi ancaman serius bagi petani, terutama mereka yang menggantungkan kebutuhan pengairan sawah pada curah hujan.

Persoalan ini bukan sekadar kekhawatiran. Pada Agustus 2026, kekeringan mulai dirasakan petani di sejumlah wilayah Kabupaten Wajo. Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo yang diberitakan media lokal pada 12 Agustus 2026 mencatat sekitar 9.851 hektare lahan sawah terdampak kekeringan. Kecamatan Belawa menjadi salah satu wilayah dengan dampak terluas. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan air bukan lagi persoalan yang dapat dianggap sepele, melainkan ancaman nyata terhadap keberlangsungan produksi pertanian dan pendapatan petani.

Jika ditelusuri lebih jauh, persoalan kekeringan di Kabupaten Wajo tidak dapat dilepaskan dari kondisi infrastruktur pengairan yang belum sepenuhnya menjangkau lahan pertanian. Berdasarkan dokumen RPJMD Kabupaten Wajo 2025–2029, proporsi sawah yang mendapatkan layanan irigasi pada 2024 tercatat sekitar 30,50%. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar lahan sawah belum tercakup dalam layanan irigasi tersebut. Kondisi ini membuat sebagian petani masih bergantung pada curah hujan dan sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan pengairan. Ketika El Nino menyebabkan berkurangnya curah hujan, keterbatasan tersebut semakin terasa dan menempatkan petani pada posisi rentan terhadap penurunan hasil produksi hingga ancaman gagal panen.

Situasi tersebut tentu menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten Wajo sebenarnya telah melakukan sejumlah upaya, salah satunya melalui pompanisasi untuk membantu mengalirkan air ke lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Namun, langkah tersebut perlu dikembangkan menjadi kebijakan jangka panjang. Pembangunan embung, rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan sumber air alternatif, serta pemerataan bantuan pompa perlu menjadi perhatian. Sebab, penanganan kekeringan tidak cukup hanya dilakukan ketika sawah mulai mengering, tetapi harus dipersiapkan sebelum musim kemarau tiba.

Selain pembangunan infrastruktur, diperlukan koordinasi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, dinas pertanian, dan kelompok tani dalam memetakan wilayah rawan kekeringan. Petani juga perlu mendapatkan informasi mengenai kondisi iklim dan penyesuaian kalender tanam agar dapat mengurangi risiko kerugian. Pemerintah perlu memastikan bahwa bantuan dan fasilitas pengairan benar-benar menjangkau petani yang membutuhkan, bukan hanya terpusat pada wilayah yang telah memiliki akses infrastruktur memadai. Dengan demikian, penanganan El Nino tidak hanya berorientasi pada bantuan darurat, tetapi juga pada upaya membangun ketahanan pertanian dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, El Nino memang merupakan fenomena alam yang tidak dapat dikendalikan. Namun, dampaknya terhadap kehidupan petani dapat diminimalkan melalui kebijakan dan pengelolaan sumber daya air yang tepat. Kabupaten Wajo tidak hanya membutuhkan program penanganan kekeringan yang bersifat sementara, tetapi juga sistem pengairan pertanian yang berkelanjutan. Sebab, ketika air menjadi barang langka, yang dipertaruhkan bukan hanya tanaman yang mengering di sawah, melainkan juga penghidupan petani dan ketahanan pangan daerah. Jika Kabupaten Wajo dikenal sebagai salah satu daerah pertanian, sudah sejauh mana pemerintah daerah memastikan petaninya tidak harus berjuang sendiri untuk mendapatkan air demi mempertahankan lahan pertanian mereka?

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Picture1
Opini

Guru: Pilar Peradaban yang Tak Pernah Padam

26 November 2025
Img 20250823
Opini

Meluruskan Nalar, Mengikis Subordinasi Gender

24 Agustus 2025

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi