Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Kampus, Kopi, dan Kebodohan yang Terencana

Pataka Eja by Pataka Eja
15 Oktober 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 10 15 At 23 36

Oleh: Muh. Nur Akbar


Berbicara tentang mahasiswa memang tak pernah kehilangan daya tarik. Mereka adalah makhluk unik yang hidup di antara idealisme dan kemalasan, antara ingin jadi agen perubahan dan agen rebahan. Dari rambut klimis penuh minyak pomade, kebiasaan “studi banding” ke kosan pacar, hingga ritual tak mandi sebelum kuliah semuanya adalah potret kehidupan kampus yang terlalu absurd untuk diabaikan. Namun di balik segala kebodoran itu, ada sisi reflektif yang layak kita cermati, mengapa mahasiswa sering kali tampak konyol, bahkan kadang begitu “gblk”?

Mari kita mulai dari mahasiswa wisatawan. Mereka ini adalah spesies kampus yang menjadikan perkuliahan sebagai alasan untuk eksplorasi dunia luar, bukan dunia ilmu pengetahuan, tapi dunia jalan-jalan. Tiap akhir pekan mereka bisa tiba-tiba menghilang, lalu muncul lagi di story Instagram sedang menikmati senja di pantai, atau nonton film terbaru di bioskop dengan uang kiriman orangtua yang seharusnya cukup untuk makan sebulan. Ironinya? Di akhir bulan, mereka bertransformasi jadi pengemis modern yang mengetuk pintu kamar teman kost, meminjam uang dengan istilah andalan “adakah seratus.” Tragis tapi lucu. Mereka lupa satu hal sederhana bahwa jalan-jalan itu memang menyenangkan, tapi utang itu bikin stres.

Lalu ada mahasiswa fashionista, spesies kampus yang menjadikan ruang kuliah bukan tempat menuntut ilmu, tapi ajang fashion show versi ekonomi menengah. Mereka datang dengan outfit yang serba “niat” sepatu putih kinclong, totebag estetik berisi hanya ponsel dan charger. Rambut klimis, parfum menembus radius dua meter, dan ekspresi “aku sibuk tapi fotogenik” menjadi identitas khasnya. Di kepalanya, kuliah hanyalah latar belakang dari panggung eksistensi diri, tempat membuktikan bahwa tampil keren jauh lebih penting daripada paham materi. Kampus baginya bukan ruang belajar, tapi ruang validasi. Ironisnya, gaya yang megah itu tak pernah berbanding lurus dengan isi kepala.

Naik level, kita bertemu mahasiswa rajin, yang secara paradoks justru konyol. Mereka mencatat isi PowerPoint dosen dengan rapi, setiap kata, setiap koma, bahkan titik. Setelah itu, di akhir kelas, mereka mendekati dosen dan berkata dengan sopan, “Pak, boleh minta file PowerPoint-nya?” Nah, kalau ujung-ujungnya minta file, buat apa capek menulis? Rajin memang baik, tapi kadang rajin tanpa logika justru jadi bentuk kemalasan yang tersamar. Lebih baik mendengarkan, memahami, lalu membaca ulang di kamar. Tapi mungkin bagi mereka, mencatat adalah bentuk eksistensi seolah mereka berkata, “Lihat, aku mahasiswa yang serius!” Padahal serius tak selalu berarti efektif.

Dan jangan lupakan mahasiswa aktivis. Mereka biasanya nongkrong di warung kopi sampai larut malam, berdiskusi tentang negara, revolusi, dan keadilan sosial, tapi lupa besok paginya ada kelas jam tujuh. Ketika bangun kesiangan, mereka malah berdoa protes, “Ya Tuhan, kenapa Engkau tak membangunkanku?” Lucu tapi menyedihkan. Aktivisme memang penting, tapi apa jadinya kalau idealisme tak sejalan dengan kedisiplinan? Lebih parah lagi, mereka sering ke kampus tanpa mandi, dengan aroma perjuangan yang menusuk hidung. Entah itu aroma kopi basi, keringat revolusi, atau mungkin celana dalam yang belum diganti sejak rapat terakhir.

Namun sebelum kita terlalu keras menghakimi, mari jujur pada diri sendiri. Bukankah kita semua pernah jadi bagian dari kekonyolan itu? Mungkin bukan mahasiswa wisatawan, tapi pernah juga menunda tugas demi nongkrong. Mungkin bukan fashionista, tapi pernah berpakaian necis hanya demi gebetan di kelas. Mungkin bukan aktivis, tapi pernah merasa paling kritis setelah tiga gelas kopi dan satu kutipan Karl Marx di kepala.

Mahasiswa memang tempat segala paradoks. Mereka bisa jadi pemikir yang kritis, tapi juga pelupa yang kronis. Mereka bisa berdebat soal demokrasi, tapi rebutan kursi di kantin. Mereka bisa menulis puisi tentang kemiskinan rakyat, tapi tetap minta uang jajan lebih ke orangtua. Tapi justru di situlah letak pesonanya. Mahasiswa adalah fase di mana kebodohan dan kecerdasan berjalan beriringan, fase di mana “gblk” bukan akhir dari segalanya, tapi bagian dari proses belajar menjadi manusia yang lebih sadar.

Jadi, jangan terlalu serius menertawakan kekonyolan mahasiswa. Karena di balik setiap kekonyolan, ada pelajaran kecil yang menunggu disadari. Mungkin tentang tanggung jawab, mungkin tentang kedewasaan, atau mungkin sekadar tentang bagaimana cara mengatur uang agar tidak kelaparan di akhir bulan. Dan jika kau merasa tak termasuk dalam daftar mahasiswa konyol itu, selamat! tapi jangan terlalu sombong. Sebab bisa jadi, kekonyolanmu hanya belum terekspos.

Pada akhirnya, mahasiswa bukan hanya soal indeks prestasi atau organisasi. Ia adalah perjalanan lucu dan penuh kegagalan menuju kedewasaan. Kadang gblk, kadang brilian. Tapi dari situlah manusia belajar tumbuh, dari kebodoran yang diakui, bukan dari kepintaran yang pura-pura.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 12 16 At 14 15
Opini

Mikroplastik, Jokes, dan Sirkel yang Terlalu Akrab untuk Sok Serius

15 Desember 2025
162
Whatsapp Image 2026 01 16 At 20 42
Opini

Analisis Peran Perempuan dalam Representasi Politik Indonesia

16 Januari 2026
52
Img 20250822
Opini

Negara dalam Cengkeraman Elit

22 Agustus 2025
89
Img 20250816 Wa0002
Opini

Organisasi Mahasiswa: Tempat Belajar atau Tempat Kabur Belajar? 

16 Agustus 2025
56

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi