Oleh: Caca
Kami bukan bayang-bayang di balik nama,
bukan hiasan di panggung dunia,
kami adalah nyala,
api kecil yang tumbuh dari luka dan tanya.
Kami menolak tunduk pada sistem yang timpang,
pada budaya yang menuntut kami diam dan sopan,
kami tak dicipta hanya untuk dipuja,
kami ada untuk berpikir, bertanya, dan menggugat makna.
Kecantikan kami bukan senjata,
melainkan kecerdasan yang menyalakan bara.
Kami melawan bukan dengan amarah,
tapi dengan suara —
yang mereka takutkan karena jujur adanya.
Kami perempuan,
yang menulis di atas luka,
yang berbicara meski dibungkam stigma,
yang berdiri di atas puing tradisi buta,
dan berkata:
“Cukup sudah, kami bukan alat produksi dunia!”
Kami menolak menjadi simbol kesucian,
menolak menjadi alasan bagi penindasan.
Kami tidak meminta belas kasih,
kami menuntut pengakuan —
bahwa kami manusia, seutuhnya.
Kami bukan angin yang lewat,
kami adalah badai yang sadar arah,
kami bukan bunga di taman wacana,
kami adalah akar yang mencengkeram makna.
Maka dengarlah, dunia—
kami tidak butuh pujian,
kami butuh ruang.
Ruang untuk berpikir, bersuara,
dan menulis ulang sejarah dari sudut pandang perempuan.
Sebab kami,
tak lagi tunduk pada ketakutan,
tak lagi diam dalam keterbatasan.
Kami, perempuan yang melawan,
dengan akal, dengan pena,
dan dengan keberanian untuk berkata—
kami ada, dan kami tidak akan lagi diam.




