Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Esai

Jingara’ dan Genealogi Pengetahuan Islam: Membaca Ulang Kedaulatan Ekonomi-Politik Kerajaan Gowa-Tallo dalam Bingkai Dekolonisasi

Pataka Eja by Pataka Eja
8 Oktober 2025
in Esai
0
Whatsapp Image 2025 10 08 At 14 43

Dokumen Pribadi Edi Kurniawan

Oleh: Edi Kurniawan, M.Pd.,Gr.


Dalam lintasan sejarah maritim Nusantara, Kesultanan Makassar (baca: Gowa dan Tallo) menempati posisi strategis sebagai poros peradaban Islam di kawasan timur Indonesia. Di tengah geliat perdagangan internasional dan pertemuan antar budaya pada abad ke-16 hingga ke-17,  lahirlah sebuah entitas ekonomi dan simbol kedaulatan yang jingara’ koin. Namun, jingara’ koin tidak dapat dipahami sekadar sebagai instrumen moneter, melainkan sebagai artefak peradaban, simbol dominasi politik, dan penanda kejayaan Islam dalam konfigurasi geopolitik Nusantara.

Mata Uang (Jingara’ Coin) sebagai Representasi Peradaban Islam Maritim

Sumber Google: Gambar Jingara’ Koin

Dalam konteks historis, tolok ukur peradaban tidak hanya dipandang melalui sisi kemajuan dibidang sains dan teknologi ataupun kebesaran militer, tetapi juga melalui kemampuan suatu bangsa menciptakan sistem tatanan ekonomi yang bernilai spiritual. Kesultanan Gowa-Tallo menegaskan hal ini dengan mencetak mata uang logam sendiri (jingara’ coin) yang beredar luas di ibu kota kerajaan yang bernama Somba Opu, sebagai pusat pemerintahan sekaligus simpul perdagangan internasional di masanya.

Orang Makassar telah dikenal sudah lama menguasai ilmu teknik pertambangan dan perkapalan sejak era pemerintahan raja Gowa X I Mariwagau Daeng Bonto Karaeng Tunipallangga (1546-1565). Kerajaan Gowa memasuki fase penting dalam sejarah transformasi ekonomi dan teknologi maritimnya. Selain dikenal sebagai pelopor pembentukan sistem pemerintahan yang terstruktur dan hukum tertulis (ada’ dan bicara), kerajaan ini juga menorehkan capaian secara signifikan dalam bidang ilmu metalurgi seni dan teknologi pengolahan logam, terutama besi dan emas.

Bukti arkeologis dan historis menunjukkan bahwa bangsa Makassar telah menguasai teknik peleburan, penempaan, dan pencetakan logam yang berkembang di beberapa wilayah seperti Taeng dan Somba Opu. Aktivitas ini bukan sekadar produksi alat perang seperti badik, tombak, dan mesiu khas Makassar, tetapi juga mencakup produksi dibidang logam mulia yang digunakan dalam pembuatan perhiasan, mata uang lokal (jingara’ koin), serta ornamen istana dan perlengkapan ritual adat.

Kemampuan metalurgi tersebut menandai adanya sintesis antara pengetahuan lokal dan jaringan perdagangan Islam yang telah aktif sejak abad ke-15 melalui hubungan Gowa dengan Malaka, Aceh, dan Demak. Dari jalur inilah teknologi peleburan dan pencetakan logam, termasuk pengetahuan tentang nilai tukar moneter berbasis logam mulia, masuk dan berkembang pesat.

Selain itu, arsip Portugis dan catatan VOC juga mencatat bahwa emas dan besi dari Gowa memiliki mutu tinggi dan menjadi komoditas strategis dalam perdagangan kawasan Asia Tenggara. Hal ini menjelaskan mengapa pada masa Karaeng Tunipallangga, Gowa tidak hanya tumbuh sebagai kerajaan agraris-maritim, tetapi juga sebagai pusat produksi logam dan senjata regional, yang memperkuat supremasi militernya hingga ke wilayah Maluku dan Nusa Tenggara.

Pencetakan koin tersebut mengandung makna secara simbolis menandai kemandirian ekonomi dan politik, sebab hak mencetak uang adalah hak eksklusif penguasa berdaulat. Kedua, memuat dimensi simbol keagamaan, karena pada beberapa koin ditemukan tulisan beraksara Arab atau kalimat tauhid, menegaskan bahwa aktivitas ekonomi berada dalam naungan nilai-nilai tauhid. Dengan demikian, jingara’ coin menjadi representasi harmonis antara rasionalitas ekonomi dan spiritualitas Islam, dua unsur yang membentuk pondasi peradaban Islam di Makassar.

Menelaah lebih jauh, peradaban maritim Kerajaan Gowa-Tallo tidak hanya berdiri di atas perdagangan rempah dan logam, tetapi juga di atas etos kerja secara Islami yakni atas nilai kejujuran, amanah, dan keadilan. Setiap transaksi menjadi bagian dari ibadah, dan setiap koin yang berpindah tangan menjadi simbol mu‘amalah yang bernilai etik dan etos. Dalam kerangka ini, jingara’ coin adalah saksi bisu dari ekonomi spiritual yang tumbuh di pelabuhan Somba Opu suatu bentuk ekonomi religius yang menolak sekularisasi nilai dan monopoli.

Dominasi Kerajaan Gowa-Tallo dalam Sistem Geopolitik dan Ekonomi Maritim

Kesultanan Makassar dikenal sebagai negara maritim terkuat di kawasan timur Nusantara. Letaknya yang strategis di jalur pelayaran internasional menjadikannya simpul penting dalam jaringan perdagangan antara Malaka, Jawa, Maluku, dan Filipina hingga ke Tiongkok. Dari pelabuhan Somba Opu, berbagai komoditas rempah, logam, tekstil, dan hasil bumi mengalir dengan intensitas tinggi. Disinilah jingara’ koin memainkan fungsi geopolitik, sebagai alat kendali ekonomi dan simbol dominasi atas arus perdagangan regional.

Dominasi ini tidak bersifat semata-mata ekonomi, melainkan juga ideologis dan spiritual. Sejak masa Sultan Alauddin (1593-1639), Kerajaan Gowa-Tallo secara resmi menjadikan Islam sebagai dasar pemerintahan. Keputusan tersebut menjadi langkah pusat pendidikan keagamaan, strategi politik untuk memperkuat legitimasi dan memperluas pengaruh ke wilayah sekitar seperti Bone, Soppeng, Wajo, dan Luwu. Jaringan dan pola Islamisasi menjadi instrumen integrasi politik dan sosial yang efektif.

Dalam kerangka teori geopolitik Islam, hal ini mencerminkan pergeseran dari kekuasaan teritorial menuju kekuasaan simbolik, di mana jingara’ koin berperan sebagai tanda kehadiran dan kedaulatan Kerajaan Gowa-Tallo di ruang publik ekonomi. Dengan mengedarkan mata uang sendiri, Kesultanan Makassar memproyeksikan identitasnya sebagai pusat kekuasaan yang berdaulat, beradab, dan super power.

Jingara’ coin dan Simbol Kejayaan Islam

Dalam tradisi Islam klasik, dinar dan dirham bukan sekadar logam bernilai, melainkan sebagai simbol kesucian transaksi dan keadilan ekonomi. Kesultanan Gowa-Tallo mengadaptasi prinsip tersebut dalam konteks lokal dengan menciptakan sistem keuangan yang berbasis kejujuran dan tanggung jawab sosial. Setiap koin yang dicetak menjadi perwujudan ideologis dari konsep keadilan dalam Islam.

Selain itu, jingara’ koin memuat pesan teologis bahwa kekuasaan dan ekonomi adalah amanah Allah yang harus dijalankan dengan keadilan dan kemaslahatan. Di tangan para sultan Gowa-Tallo, Islam bukan sebatas dogma, tetapi doktrin sosial-politik yang melahirkan etika pemerintahan dan ekonomi yang berkeadaban.

Simbol-simbol Islam yang tertera pada koin memperlihatkan sinkretisme kreatif antara nilai universal Islam dan identitas lokal Makassar. Ini adalah bentuk nyata dari Islam Nusantara yang tidak menolak modernitas, melainkan menafsirkannya melalui kearifan maritim dan spiritualitas lokal.

Nalar Kritis atas Makna Simbolik Jingara’ Coin

Meninjau jingara’ coin dalam kerangka epistemologi Islam berarti membaca kembali jejak peradaban dengan nalar kritis dan kesadaran historis. Koin bukan sekadar benda arkeologis, melainkan sebagai teks peradaban “a text of civilization”. Ia mengandung narasi tentang kedaulatan, legitimasi, dan keberanian Gowa-Tallo dalam melawan hegemoni kolonialisme dan monopoli ekonomi Eropa terutama Portugis dan Belanda.

Dalam konteks kolonialisme, dominasi ekonomi suku Makassar menjadi ancaman bagi Portugis dan Belanda yang berupaya menguasai jalur maritim dan komoditas rempah. Maka, penghancuran Somba Opu dan perjanjian Bungaya (1667) tidak dapat dipisahkan dari upaya sistematis menghapus simbol kedaulatan Islam Makassar termasuk sistem keuangannya. Dengan demikian, jingara’ koin juga menjadi monumen perlawanan terhadap kolonialisme ekonomi dan kultural, simbol bahwa peradaban Islam di Nusantara pernah berdiri dengan sistem yang mandiri, rasional, dan spiritual.

Referensi

C. C. Macknight, The Early History of South Sulawesi: Some Recent Advances, Journal of Southeast Asian History, Vol. 10, No. 3 (1969).

Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce 1450–1680, Volume II: Expansion and Crisis (Yale University Press, 1993).

Syed Naquib al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM, 1978).

Leonard Y. Andaya, The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi in the Seventeenth Century (The Hague: KITLV Press, 1981).

M. Nur Alang, Kerajaan Gowa-Tallo: Kajian Sejarah dan Kebudayaan (Makassar: Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2015).

J. Noorduyn, “Origins of South Sulawesi Historical Writing,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 134 (1978).

Hasriadi, “Teknologi Logam Tradisional di Sulawesi Selatan,” Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara 6 (2012).

H. Rasyid Asba, Maritime Power and Islamization in Eastern Indonesia (Makassar: Universitas Hasanuddin Press, 2005)..

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Jakarta: Kencana, 2004).

Arsip VOC, Daghregister Batavia, Vol. 1620–1667.

Muhammad Nejatullah Siddiqi, Muslim Economic Thinking (Leicester: Islamic Foundation, 1981). Barbara Watson Andaya & Leonard Y. Andaya, A History of Malaysia (Palgrave Macmillan, 2001).

Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce, hlm. 211–230.

Mattulada, Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (Makassar: Hasanuddin University Press, 1998).

Pelras, Christian. The Bugis (Oxford: Blackwell Publishers, 1996).

Foucault, Michel. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977 (Pantheon Books, 1980).

Ibn Khaldun, Muqaddimah, diterjemahkan oleh Rosenthal (Princeton University Press, 1967)..

Syed Hossein Nasr, Islamic Life and Thought (Albany: SUNY Press, 1981).

M. Kamal Hasan, Islamization of Knowledge in Theory and Practice (Kuala Lumpur: IIUM Press, 2013).

Edward Said, Culture and Imperialism (New York: Vintage Books, 1993).

Leonard Andaya, The Heritage of Arung Palakka, hlm. 145–160.

Walter D. Mignolo, The Darker Side of Western Modernity: Global Futures, Decolonial Options (Duke University Press, 2011).

 

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2024
Esai

Sejarah Integrasi Agama dan Sains

2 Agustus 2024
48
Img
Esai

Lahan Kemunduran Pemuda

12 Juli 2024
89
Img 20250901
Esai

Bagaimana Islam dan Kristen Memulai Perjalanannya di Sulawesi Selatan

1 September 2025
121
Whatsapp Image 2025 10 26 At 00 46
Esai

Kembalikan Nama Benteng Jumpandang

25 Oktober 2025
184

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi