Oleh: Levina Elysia Felda
Hidup adalah perjalanan tanpa peta,
namun alam selalu memberi arah.
Langit menatap lembut dari kejauhan,
seolah berbisik:
segala yang datang boleh pergi,
tapi yang tulus akan tetap tinggal.
Aku melihat hidup di daun yang gugur,
mengajarkan arti melepaskan tanpa kehilangan.
Aku mendengar hidup di bisik angin,
yang berlari tanpa tujuan,
namun selalu menemukan rumahnya di pelukan bumi.
Gunung berdiri tanpa ingin tinggi,
laut beriak tanpa ingin dikenal.
Mereka hanya ada,
dan dari keberadaan itu aku belajar—
bahwa tenang lebih berharga dari hebat.
Keindahan bukan selalu terang,
kadang ia bersembunyi di balik senja,
atau dalam langkah kecil
yang tetap maju meski dunia terasa berat.
Dan ketika malam datang membawa sepi,
aku tahu:
hidup bukan tentang berlari paling cepat,
tetapi tentang berjalan dengan hati yang penuh syukur.
*Penulis merupakan mahasiswa Universitas Sebelas Maret




