Oleh: Sri Wahyuni Syukur, S.Pd., M.Pd.
Indonesia kembali ramai dengan berbagai berita yang sangat meresahkan rakyatnya. Segala penjuru melalui layar televisi, hingga media sosial, kini disuguhkan berbagai kabar problematika Tubuh DPR, pertanda bangsa kita tidak sedang baik-baik saja.
Adanya perdebatan pada kebijakan para pemangku kekuasaan dan menciutnya suara rakyat yang kian menggema dijalanan. Pora-poranda , api, asap hingga nyawa berdatangan silih berganti. Ini bukti bahwa kegaduhan mencerminkan dinamika demokrasi, tetapi juga menimbulkan tanda Tanya. Kemanakah arah bangsa ini akan di bawa?
Sangat meresahkan.
Sebagai seorang tenaga pengajar, saya merasakan keheningan, bahkan tatapan kosong kerap kali berdatangan, kegelisahan yang sama juga tentu dirasakan oleh masyarakat, ironi nya demikian, bahwa bangsa kita tidak sedang tidur. Kegaduhan politik bukan hanya sekedar pertarungan kepentingan di perlemen.
Namun juga berdampak pada suasana kebangsaan , bentuk kepercayaan masyarakat kepada perwakilan rakyat, bahkan menyedihkannya menjadi tanda Tanya bagi saya apa kabar generasi muda saat ini melihat fenomena yang terjadi? Yang dimana setiap hari saya temui mereka di ruang kelas dan kampus.
Tentu ini bukanlah hal yang tabuh dengan polemik yang melibatkan DPR dan rakyat. Segala keputusan-keputusan yang dianggap tidak berpihak, perdebatan yang berlarut-larut , hingga tiba pada sikap yang kerap dinilai menjauh dari aspirasi masyarakat. Hal ini mengakibatkan rakyat kekurangan kepercayaan, lantas kepada siapa lagi kami menitipkan harapan masa depan bangsa?
Namun, dalam keriuhan dan kedukaan kita oleh beberapa nyawa yang telah hilang, menjadi sebuah hal yang tentu tidak hilang dari sebuah harapan kita. Bahwa, bangsa ini tidak hilang harapan, tidak tidur dan akan tetap bersinar. Karena jika rakyat pesimis, apabila generasi muda hilang kepercayaan maka sesungguhnya kita sedang menuju pada proses kehancuran moral dan peradaban.
Disinilah pendidikan menjadi tombak utama harapan bangsa. Seringkali saya menyampaikan narasi berikut kepada mahasiswa saya bahwa: politik boleh gaduh, hak kita boleh dijajah, tetapi hati kita harus tetap jernih. Rakyat boleh bersuara lantang tetapi nurani kita tidak boleh bisu.
Sebagai seorang dosen, saya tentu menyadari bahwa tugas saya tidak hanya mengajar teori melainkan juga menanamkan nilai agar generasi muda kelak bisa menjadi pemimpin yang memiliki hati yang bersih dan sikap yang jujur, terlebih mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi,
Dari problematika yang kita saksikan hari ini, saya ingin murid dan mahasiswa belajar satu hal penting: politik yang gaduh harus menjadi cermin, bukan tontonan. Mereka harus bercermin agar kelak tidak mengulang kesalahan yang sama.
Saya berharap mereka tumbuh menjadi generasi yang kritis, tetapi tetap santun. Generasi yang tidak sekadar pintar secara akademik, tetapi juga cerdas secara moral. Generasi yang berani bersuara ketika melihat ketidakadilan, tetapi juga bijak dalam menawarkan solusi.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa DPR dan rakyat akan terus bergulat dalam dinamika politik. Namun, sebagai pendidik, saya percaya bahwa tugas kita jauh lebih besar: menyalakan harapan dari ruang kelas. Harapan itu menyala ketika murid belajar arti kejujuran, ketika mahasiswa berani berpikir kritis, ketika generasi muda mau peduli pada lingkungannya.
Indonesia boleh gaduh hari ini, tetapi esok tidak boleh lagi. Dari sekolah dan kampuslah harapan itu tumbuh. Dari tangan murid dan mahasiswa, bangsa ini akan menemukan jalannya kembali.Karena sesungguhnya, di tengah gaduhnya negeri, pendidikanlah yang akan selalu menjadi jalan harapan.
*Penulis merupakan dosen pendidikan seni di STAI DDI Maros




