Pataka Eja – Di balik antrean panjang calon jemaah dan hiruk-pikuk informasi keberangkatan, ada satu peran yang jarang terlihat tapi sangat menentukan: komunikasi krisis. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Namira A’atifah, Andi Nabila Putri Bahtiar, dan Muh Zulfikar menelusuri bagaimana Humas Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Gowa menjaga kepercayaan masyarakat saat menghadapi persoalan-persoalan yang bisa muncul kapan saja.
Dalam wawancara langsung dengan Kepala Subbagian Tata Usaha, H. Rusli, ketiga mahasiswa tersebut mengungkap bahwa pengelolaan komunikasi dan penanganan krisis menjadi tulang punggung pelayanan publik di lembaga tersebut. Perubahan kebijakan mendadak, informasi keberangkatan yang berubah, persoalan visa, hingga keluhan jemaah adalah isu-isu yang tidak bisa diabaikan. Satu informasi yang salah atau lambat bisa memicu keresahan massal.
Humas di sini tidak hanya sekadar menyampaikan berita. Mereka dilatih mengidentifikasi isu sejak dini, merespons krisis dengan cepat, dan menjaga citra serta reputasi instansi di mata masyarakat. Keterbukaan informasi menjadi senjata utama. Penyampaian pesan yang jelas, sederhana, dan mudah dipahami diharapkan mampu memotong rantai kesalahpahaman sekaligus membendung beredarnya kabar bohong tentang penyelenggaraan haji dan umrah.
Hubungan yang baik dengan media lokal serta koordinasi intens dengan instansi di tingkat yang lebih tinggi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi ini. Komunikasi yang terarah dan konsisten memastikan masyarakat menerima informasi akurat, bukan spekulasi yang membingungkan.
Tak kalah penting adalah fase pemulihan reputasi. Setelah sebuah permasalahan terjadi, evaluasi menyeluruh, peningkatan kualitas pelayanan, dan penyampaian informasi secara transparan menjadi langkah wajib untuk membangun kembali kepercayaan jemaah.
Melalui wawancara ini, ketiga mahasiswa tidak hanya mempelajari teori komunikasi pemerintahan, tetapi juga melihat langsung betapa krusialnya komunikasi yang terbuka, responsif, dan bertanggung jawab. Karena di balik setiap jemaah yang berangkat dengan tenang, ada kerja keras Humas yang menjaga agar kepercayaan tidak pernah retak.


