Gowa, Pataka Eja — Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat sorotan dalam laporan Rapor Kinerja 2 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran yang disusun Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan.
Laporan tersebut memuat penilaian masyarakat dan ahli terhadap sejumlah aspek pemerintahan, mulai dari kondisi ekonomi, kebijakan perpajakan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga penguatan peran militer di ranah sipil.
Dalam penilaian masyarakat, Prabowo memperoleh nilai 4,6, sedangkan Gibran mendapat 4,9. Nilai akhir keduanya tercatat sebesar 4,7.
Sementara itu, dalam penilaian ahli, Prabowo memperoleh nilai 2,8 dan Gibran 2,2, dengan nilai akhir 2,9.
Salah satu temuan yang menonjol dalam penilaian masyarakat adalah persoalan pajak dan pungutan. Sebanyak 82 persen responden menilai pajak dan pungutan sangat membebani masyarakat.
Selain itu, 53 persen responden menyatakan kondisi ekonomi mereka memburuk dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 21 persen menyebut kondisi ekonominya tidak mengalami perubahan.
Pada aspek ketenagakerjaan, 62 persen responden memberikan penilaian buruk terhadap kebijakan pemerintah dalam mengatasi pengangguran dan menyediakan lapangan kerja. Angka tersebut terdiri atas 24 persen yang menilai kebijakan pemerintah sangat buruk dan 38 persen yang menilainya buruk.
Kritik juga mengarah pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 76 persen responden dalam kelompok masyarakat menyatakan setuju apabila program tersebut dihentikan.
Sementara itu, 66 persen responden menilai utang pemerintah berpotensi membebani generasi mendatang. Persentase yang sama menilai kunjungan luar negeri Presiden belum membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam aspek tata kelola pemerintahan, 60 persen responden menilai penguatan peran pemerintah pusat merugikan pemerintah daerah. Sebanyak 51 persen juga menilai terdapat penguatan peran militer ke ranah sipil.
Temuan lainnya berkaitan dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebanyak 96 persen responden menilai pemerintah tidak efektif dalam menangani persoalan tersebut, dengan rincian 74 persen menyatakan sangat tidak efektif dan 22 persen tidak efektif.
Laporan itu juga mencatat bahwa 75 persen responden merasakan stres akibat kebijakan pemerintah, sedangkan 67 persen menyatakan stres akibat perilaku Presiden Prabowo Subianto.
Di sisi lain, 55 persen responden yang memilih Prabowo pada Pemilu 2024 menyatakan kecewa dan tidak akan memilihnya kembali pada pemilu berikutnya.
Penilaian Ahli Lebih Kritis
Kritik terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran juga terlihat dalam kelompok ahli yang memberikan penilaian terhadap sejumlah kebijakan dan arah pemerintahan.
Sebanyak 93 persen ahli meragukan kapasitas kepemimpinan Presiden dalam mengambil keputusan strategis. Persentase yang sama menyatakan kekhawatiran terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Presiden.
Sebanyak 92 persen ahli menyatakan kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah. Sementara itu, 84 persen menilai kewenangan pemerintahan semakin tersentralisasi dan 89 persen menilai penguatan peran pemerintah pusat merugikan ekonomi daerah.
Dalam isu hubungan sipil dan militer, 80 persen ahli menilai terdapat peningkatan peran militer ke ranah sipil.
Program MBG kembali menjadi sorotan. Sebanyak 87 persen ahli menyatakan setuju program tersebut dihentikan. Adapun 91 persen meragukan kecukupan rancangan Koperasi Desa Merah Putih dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Seperti halnya penilaian masyarakat, penanganan karhutla menjadi salah satu aspek dengan angka kritik tertinggi. Sebanyak 96 persen ahli menilai pemerintah tidak efektif dalam menangani kebakaran hutan dan lahan.
Sementara itu, 66 persen ahli menilai diplomasi dan kunjungan luar negeri Presiden belum menghasilkan manfaat yang terverifikasi. Sebanyak 59 persen juga menilai utang pemerintah berpotensi membebani generasi mendatang.
Berbagai temuan tersebut menempatkan persoalan ekonomi, tata kelola pemerintahan, program prioritas, serta kepemimpinan sebagai sejumlah aspek yang mendapat sorotan dalam rapor dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran versi CELIOS.
Laporan ini disusun oleh tim Kabinet Bayangan CELIOS yang mencantumkan Media Wahyudi, Askar Isnawati Hidayah, Bhima Yudhistira Adhinegara, Yoby Afis, Aulia Lianasari, M. Satria Riza Permana, M. Bakhrul Fikri, dan Galau D Muhammad.


