Oleh: Dito
Tahukah engkau bunyi semboyanku? “Aku Mau”.
– R.A Kartini.
R.A Kartini, mungkin kita tidak asing lagi dengan nama ini. Poster yang menampakkan wajahnya kerap kita jumpai di dinding ruang kelas semasa bersekolah. Lagu yang berjudul Ibu Kita Kartini karya WR Supratman sudah sering kita dengarkan, bahkan mungkin saja liriknya kita sudah hafal di luar kepala.
Tapi sejauh mana pengetahuan kita tentang seorang yang diangkat langsung sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno itu?. Dalam tulisan ini, saya akan mengajak teman-teman untuk berkenalan dengan sosok yang mempunyai pikiran dan cita-cita yang sangat jauh melampaui zamannya itu.
Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879. Ayahnya merupakan bupati Jepara bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya bernama M.A Ngasirah. Ibu berasal dari kalangan non bangsawan merupakan istri pertama dari Ario Sosroningrat.
Karena salah satu prasyarat untuk menjadi bupati pada zaman kolonialisme belanda saat itu harus mempunyai istri dari kalangan bangsawan, ayahnya kembali menikah dengan seorang perempuan dari kalangan bangsawan bernama RA Woerjan dan akhirnya diangkat menjadi Bupati Jepara.
Kartini berasal dari kalangan bangsawan. Selain karena ayahnya seorang bupati Jepara, beliau juga merupakan cucu dari Bupati Demak, Pangeran Ario Tjondronegoro. Kakeknya terkenal suka akan kemajuan. Beliaulah bupati pertama-tama yang mendidik anak-anaknya, baik itu laki-laki maupun perempuan dengan pendidikan barat dengan mendatangkan secara khusus seorang guru dari Belanda bernama CS Van Kesteren.
Beberapa tahun setelah pengangkatan ayahnya sebagai Bupati Jepara, Kartini masuk Sekolah Belanda di Jepara. Dalam Surat yang dikirimkan kepada sahabat penanya di Belanda yang bernama Estella Zeehandelaar pada tanggal 25 Mei 1899, beliau mengatakan bahwa dengan bersekolahnya seorang perempuan itu merupakan pengkhianatan besar terhadap kebiasaan negerinya.
Semasa bersekolah, Kartini dan anak-anak pribumi lainnya kerap mendapatkan tindakan diskriminasi, baik dari teman maupun gurunya. Melalui perantara surat, kembali diceritakan kepada Estella Zeehandelar bagaimana orang-orang Belanda menertawakan dan mengejek kebodohan serta mengambil sikap permusuhan terhadap anak-anak pribumi.
Kebanyakan guru di sekolahnya juga tidak rela memberikan angka tertinggi, sekalipun mereka berhak menerimanya. Meskipun mendapatkan tindakan demikian, semangatnya untuk bersekolah tidak pernah goyah.
Tahun demi tahun dilewatinya dengan bersekolah. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Saat usianya masih terbilang belia yaitu 12 tahun, Kartini dipaksa ayahnya untuk di pingit. Walaupun keluarganya sudah maju dalam berbagai bidang kehidupan, Keluarganya masih memegang teguh adat memingit.
Kurang lebih empat tahun lamanya terhitung sejak tahun 1892-1896 Kartini terkurung dalam kerangkeng pingitan. Menerima kenyataan harus menjalani pingitan tentu saja sangat menyakiti perasaan seorang yang baru lulus dari Europeesche Lagere School (Sekolah Dasar Untuk Orang Eropa) itu.
Pada Estella Zeehandelaar diceritakannya betapa putus asa menjalani pingitan yang mengerikan itu. Perlahan ia pun sadar bahwa berlarut dalam keputusasaan tiada guna dan bersyukur kegemarannya membaca sedari kecil tidak terbatasi oleh pingitan.
Dalam masa pingitan, rutinitas Kartini sangat tidak lazim bagi perempuan pada zamannya. Membaca buku, koran, dan majalah dari dalam dan luar negeri serta berkirim surat menjadi kegemarannya. Melalui surat-suratnya itulah kegelisahan akan kondisi ketidakadilan, perjuangan, dan cita-citanya disampaikan nya.
Ada banyak buku yang mempengaruhi pikirannya, di antaranya kemiskinan dan penjajahan di dapatkan dari karya Multatuli, emansipasi dan hak atas kerja dari karya Nyonya Goekopp, pengetahuaan akan pergerakan perempuan dari karya Marcel Prevost. Bahan bacaan di dapatkan dari kotak bacaan (Leertrommel) langganan ayahnya ataupun pemberian dari saudaranya, Sosrokartono.
Perkenalannya dengan berbagai ilmu pengetahuan barat tersebut telah menginsafinya akan situasi ketidakadilan yang dialami kaum perempuan dan mencita-citakan tatanan sosial yang lebih baik serta demokratis bagi kaum perempuan.
Berselang beberapa tahun setelah menjalani masa pingitan, Kartini dijodohkan oleh orang tuanya dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah pernah memiliki tiga istri, pada tanggal 12 November 1903. Berkat kegigihannya dan dibarengi dukungan dari sang suami, Kartini mendirikan sekolah khusus perempuan di Kabupaten Rembang.
Hanya berselang beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya, Kartini pun Wafat pada tanggal 17 September 1904 di Kabupaten Rembang.
Setelah wafatnya, temannya yang berasal dari Belanda, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan serta membukukan surat-surat Kartini yang pernah dikirimkan pada teman-temannya di Eropa. Buku yang berisi kumpulan surat-surat Kartini tersebut diterbitkan pada tahun 1911 yang diberi judul Door Duisternis tot Licht yang memiliki arti harfiah “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.
Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan buku itu dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Kemudian tahun 1938, keluarlah buku Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane.




