Oleh: Ditootid
Entah harus bagaimana cara memulai tulisan ini. Penulis hanya tahu bahwa tidak boleh tidak, kalian semua, terlebih mahasiswa FEBI UIN Alauddin Makassar, harus tahu bahwa PBAK FEBI 2024 adalah PBAK yang paling kocak.
Ada baiknya kita melihat terlebih dahulu kondisi sebelum pelaksanaan PBAK di Fakultas orange tersebut. Beberapa hari sebelum pelaksanaan PBAK, tepatnya tanggal 20 Agustus 2024, seluruh Lembaga Kemahasiswaan (LK) FEBI memilih untuk tidak terlibat dalam kepanitiaan PBAK.
Bukan tanpa alasan, sikap LK FEBI tersebut merupakan bentuk akumulasi kemarahan mereka terhadap situasi kampus belakangan ini. Paling tidak ada empat alasan dibalik sikap LK FEBI menolak terlibat dalam penyambutan mahasiswa baru angkatan 2024.
Pertama, adanya intervensi dan intimidasi kepada panitia PBAK. Dari gosip tongkrongan mahasiswa yang beredar, salah satu mahasiswa yang ditunjuk oleh DEMA FEBI sebagai Steering Committee PBAK diduga dipersulit oleh salah satu Ketua Jurusan yang ada di FEBI jika tetap terlibat dalam kerja-kerja kepanitiaan PBAK.
Hal itu dilakukan karena beliau sebagai salah satu pimpinan jurusan merasa tersinggung dengan sebuah bentuk ekspresi yang dituangkan mahasiswa pada sebuah potongan spanduk bertuliskan “UINAM KAMPUS BIADAB”.
Tidak usah terlalu panjang membahas soalan ini. Menurut penulis, tak ada yang salah dari ungkapan ekspresi tersebut. Kita bisa berdebat panjang lebar, mulai dari kasus apa dan kapan tahun, bahwa kalimat tersebut benar adanya. Lagi pula, bentuk ekspresi dalam sebuah spanduk bukanlah sesuatu yang berbahaya, bukan? Spanduk bertuliskan ekspresi mahasiswa bukan bom yang dapat meluluhlantakkan kemegahan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Mengapa mesti merasa takut?
Selanjutnya, hingga keputusan LK FEBI untuk mangkat dari kepanitiaan PBAK, SK Kepanitian belum juga dikeluarkan oleh Pimpinan Fakultas. Tanpa SK Kepanitiaan berarti tidak ada anggaran yang dapat digunakan untuk kerja-kerja kepanitiaan. Sedangkan PBAK kurang dari dua minggu lagi.
Alasan yang terakhir, adanya pembatasan kreativitas mahasiswa pada kepanitiaan. Pembatasan disini tidak begitu penulis pahami, sebab penulis juga sama sekali tidak terlibat dalam kepanitiaan. Tapi satu yang pasti, penulis jauh lebih percaya pada kawan yang ada di LK FEBI ketimbang apa yang dikatakan oleh pimpinan fakultas. Omon-omon saja kalau kita pinjam istilah Prabowo.
Tiba hari dimana PBAK FEBI Di Mulai
3 September 2024 pagi, setelah mendapatkan kabar bahwa LK FEBI akan berdemonstrasi di fakultas, penulis langsung bergegas menuju kampus. Setiba di kampus, penulis merasa aneh. Mulai dari jalan depan fakultas, halaman fakultas, hingga aula fakultas, sama sekali tak nampak suasana PBAK FEBI sebagaimana biasanya. Suasananya justru sangat jauh dari nuansa kemahasiswaan.
Untuk aksi demonstrasi LK FEBI, penulis juga sudah mewartakan dalam tulisan lain.
Yahh, PBAK FEBI tahun ini memang sangat jauh dari nuansa kemahasiswaan. Justru nuansanya lebih mirip pesta perkawinan. Gerbang masuk forum PBAK yang berwarna warni, di belakangnya berjejer tenda pernikahan, di tambah photobooth pula. Jika di pintu masuk forum PBAK harus mengisih buku tamu lalu mendapat gantungan kunci, maka fix konsepnya sudah sangat mirip acara pernikahan yang kerap dilangsungkan di gedung-gedung.

Pemandangan yang paling mengelitik bagi penulis adalah melihat dosen-dosen fakultas yang penuh gelar di belakang namanya justru bertugas mendampingi, mengawasi, dan mengkoordinir mahasiswa baru. Untungnya yang disebut dengan mahasiswa baru adalah manusia, jika itu diganti dengan hewan mereka tidak lagi tampak seperti seorang dosen, melainkan lebih mirip seorang pengembala.
Sampai malam ini, jika penulis kembali membayangkan dosen-dosen fakultas mengkoordinir mahasiswa baru yang lucu lugu lagi imut, itu masih saja mampu membuat penulis tertawa.
Tiga kata lucu: Dosen Pendamping Maba.
Ok, mari kita lihat bagaimana suasana PBAK tanpa lembaga kemahasiswaan. Gampang saja menebaknya, dua hari PBAK berlangsung isinya hanyalah gagasan yang berdimensi indoktrinasi. Menyampaikan gagasan tanpa memberikan ruang pada narasi pembanding adalah suatu bentuk indoktrinasi.
Dua hari PBAK FEBI adalah ruang yang sangat besar bagi pimpinan fakultas jika digunakan untuk menghancurkan marwah lembaga kemahasiswaan yang memilih tidak terlibat dalam PBAK dan mengkampayekan narasi pembenaran tak masuk akal tentang Surat Edaran (SE) 259 dan SK Skorsing mahasiswa.
Siapapun mereka yang menyampaikan narasi pembenaran itu, jika ada di antara meraka yang berani menantang, maka penulis siap menerima tantangannya untuk berbantah-bantahan di ruang-ruang akademis.
Penulis betul-betul dibuat heran, bagaimana mungkin mereka yang bertumpuk gelar di belakang namanya tidak memahami prinsip-prinsip demokrasi, pembeda antara orang tua biologis dan sekedar orang tua di kampus, beda antara yang mana kritik terhadap kebijakan serta jabatan fungsional dan yang mana penghinaan terhadap harkat martabat seorang individu.
Kekonyolan apa yang ditampilkan dihadapan mahasiswa baru menjadi sempurna menurut penulis ketika siang hari tadi, aula fakultas yang menjadi tempat PBAK disulap menjadi tempat konser dangdutan. Mahasiswa baru bersama dengan panitia berkaraoke ria di dalam aula.
Lagu-lagu dangdut seperti Rungkad yang dipopulerkan oleh Happy Asmara dan Bumi Semakin Panas milik Cucu Cahyati menguncang megahnya aula FEBI. Beberapa panitia dan mahasiswa baru, baik laki-laki maupun perempuan, naik ke atas panggung berjoget dengan lincahnya. Ada pula di antara mahasiswa yang mengibas-ngibaskan uang bak seorang yang sedang mabuk tuak nyawer biduan.
Sementara ratusan mahasiswa lain yang ada di bawah berjoget tak kalah hebohnya. Para pembaca bisa bayangkan betapa menggelegarnya suasana dangdutan dadakan di aula fakultas yang diikuti oleh sekitar 800 orang mahasiswa baru.
Tak ada yang salah dengan orang dangdutan. Namun menurut penulis, dangdutan di forum akademis seperti PBAK adalah sesuatu yang sangat kocak. Ruang PBAK mahasiswa baru yang harusnya dimaksimalkan dengan nuansa akademik dan memperkenalkan budaya akademik sebagai kebudayaan baru yang harus dimiliki oleh mahasiswa baru, justru disulap menjadi konser dangdut dadakan.
Kembali penulis merasa heran. Bagaimana mungkin PBAK yang panitianya para dosen-dosen fakultas sangat-sangat tidak mencerminkan sebagai masyarakat ilmiah.
Ada tenda pengantin dan ada pula dangdutan? Sudah hampir mirip acara perkawinan yang kerap penulis jumpai di kampung-kampung atau di lorong-lorong. Kurangnya hanya satu, yaitu tenda atau tempat khusus bagi para peminum ballo.
Jika tempat khusus bagi para peminum ballo juga disediakan, maka sudah mirip acara pernikahan dan sudah barang pasti penulis juga akan ikut nimbrung di tempat tersebut.




