Oleh: Renaldy Pratama
Kau adalah teka-teki yang sulit dimengerti
Meski sulit, tetap kucoba mengerti
Dan pada akhirnya perlahan mulai beradaptasi
Karena sulit tak pantas dijadikan alasan untuk berhenti
Kau adalah kopi yang diseduh di pagi hari
Rasa pahit dan nuansa embun pagi yang tak lagi murni
Kugodok menjadi satu dalam bingkai toleransi
Dengan pahit dan pagi mari ciptakan harmoni
Kau adalah manifestasi dari puisi
Puisi bak mentari yang terus teguh menyinari
Meski ia tak selalu menyejukkan hati
Tapi yakinlah, ia tak akan pernah mengingkari
Tak perlu mengabdi
Cukup mengerti
Sebab pengabdian hanya untuk sang ilahi
Kita adalah muda mudi dalam pencarian jati diri
Pencarian yang tak urung bersua jalan pasti
Tak perlu ucap janji
Sebab janji berpotensi saling mengingkari
Cukup katakan apa yang tidak kamu sukai
Lalu kukatakan pula apa yang tidak kusukai
Dan mari saling menyukai
Teruslah melangkah kemana kaki membawa pergi
Yakinlah di muara langkah kaki
Menunggu pelangi abadi
Samata, 5 Juni 2020




