JAKARTA, Pataka Eja — Malam itu, kemerdekaan Indonesia tinggal selangkah lagi. Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Kekuasaan yang selama bertahun-tahun membelenggu Indonesia mulai runtuh. Bagi para pemuda, inilah momentum yang tidak boleh dilewatkan.
Tidak ada lagi alasan untuk menunggu. Tidak ada lagi alasan untuk berunding dengan Jepang. Kemerdekaan harus diproklamasikan sekarang juga.
Namun, di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, dua kehendak berbeda tengah berhadapan.
Di satu sisi, golongan muda mendesak agar Proklamasi segera dikumandangkan. Di sisi lain, Soekarno dan Mohammad Hatta memilih berhitung dengan keadaan. Mereka memahami bahwa satu langkah yang keliru dapat berubah menjadi pertumpahan darah.
Pertemuan malam 15 Agustus 1945 itu pun berubah menjadi perdebatan panas. Wikana menjadi salah satu pemuda yang berhadapan langsung dengan Soekarno. Ia menyampaikan tuntutan agar kemerdekaan diproklamasikan malam itu juga.
Nada pembicaraan semakin meninggi. Wikana bahkan mengeluarkan ancaman. Jika Soekarno tidak mengumumkan kemerdekaan malam itu juga, kata Wikana, akan terjadi pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran keesokan harinya.
Ancaman itu ternyata tidak membuat Soekarno gentar. Sebaliknya, Bung Karno meledak dalam kemarahan.
Ia berdiri. Tatapannya mengarah kepada Wikana. Lalu keluar kalimat yang menggambarkan betapa panasnya perdebatan menjelang Proklamasi:
“Seret aku ke pojok sana, bunuh aku malam ini juga. Tidak usah menunggu sampai besok!”
Kalimat tersebut dikutip dalam artikel Yang Hilang di Tengah Revolusi yang dimuat Historia.id.
Suasana seketika berubah. Nyali Wikana disebut menciut. Ancaman yang dimaksudkan untuk mendesak Soekarno justru berhadapan dengan keberanian yang tidak kalah keras.
Bung Karno bukan sedang menolak kemerdekaan. Ia hanya menolak cara yang dianggapnya gegabah.
Ketika Golongan Muda Kehabisan Cara
Perdebatan malam itu tidak menghasilkan kesepakatan. Golongan muda gagal meyakinkan Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun mereka tidak menyerah.
Jika Soekarno dan Hatta tidak dapat diyakinkan dengan kata-kata, maka langkah berikutnya adalah membawa keduanya menjauh dari Jakarta.
Dini hari 16 Agustus 1945, sekitar pukul 04.00, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai Peristiwa Rengasdengklok.
Bagi golongan muda, tindakan tersebut merupakan upaya menjauhkan Soekarno-Hatta dari pengaruh Jepang sekaligus memastikan Proklamasi tidak kembali ditunda.
Namun bagi Soekarno, tindakan tersebut bukan perkara sepele. Ia marah. Ia kecewa.
Tokoh yang selama bertahun-tahun memperjuangkan kemerdekaan itu kini justru dibawa pergi oleh para pemuda yang menginginkan kemerdekaan sesegera mungkin.
Rengasdengklok pun menjadi saksi bisu pertarungan dua cara pandang dalam perjuangan kemerdekaan.
Yang satu berkata: Sekarang atau tidak sama sekali.
Yang lain memilih berhitung: Kemerdekaan harus diproklamasikan dengan perhitungan yang matang.
Di Rengasdengklok, Kemerdekaan Dipertaruhkan
Soekarno dan Hatta akhirnya ditempatkan di rumah Djiaw Kie Siong. Namun membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok ternyata tidak serta-merta menyelesaikan persoalan.
Proklamasi tetap menjadi pertaruhan. Golongan muda menginginkan kemerdekaan segera. Sementara golongan tua berusaha memastikan momentum tersebut tidak berubah menjadi bencana.
Di tengah kebuntuan itu, Achmad Soebardjo bergerak. Ia datang ke Rengasdengklok dan memberikan jaminan bahwa Proklamasi akan dilaksanakan di Jakarta pada 17 Agustus 1945.
Jaminan tersebut akhirnya membuka jalan. Soekarno dan Hatta dibawa kembali ke Jakarta.
Malam harinya, sejarah memasuki babak terakhir. Di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta, teks Proklamasi dirumuskan.
Kalimat-kalimat yang kelak dibacakan kepada seluruh dunia itu lahir setelah sehari sebelumnya Soekarno dan Hatta dibawa secara paksa ke Rengasdengklok.
Pagi yang Mengubah Indonesia
Pagi 17 Agustus 1945 akhirnya tiba. Tidak ada lagi perdebatan. Tidak ada lagi ancaman. Tidak ada lagi penculikan. Sekitar pukul 10.00, Soekarno berdiri di Pegangsaan Timur Nomor 56. Di hadapan para tokoh dan rakyat yang berkumpul, Bung Karno membacakan teks Proklamasi. Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Ironisnya, kemerdekaan yang sehari sebelumnya hampir memecah para pejuang akhirnya lahir dari pertemuan dua kekuatan: keberanian golongan muda dan perhitungan golongan tua.
Namun ada satu adegan yang tidak boleh dilupakan. Sebelum Rengasdengklok. Sebelum teks Proklamasi dirumuskan. Sebelum Merah Putih dikibarkan.
Ada seorang Bung Karno yang berdiri dengan marah menghadapi ancaman. Ketika Wikana menyinggung kemungkinan pertumpahan darah, Bung Karno tidak mundur.
Ia justru menantang balik:
“Bunuh aku malam ini juga!”
Kalimat itu menjadi salah satu gambaran paling dramatis tentang panasnya detik-detik terakhir menuju kemerdekaan.
Rengasdengklok bukan sekadar kisah tentang penculikan Soekarno-Hatta. Ia adalah kisah tentang kemarahan, keberanian, perbedaan strategi, dan pertarungan kehendak.
Dan hanya sehari setelah pertarungan itu, sebuah bangsa akhirnya berdiri di hadapan dunia.
“Republik Indonesia”.




