Patakaeja.id – Sejumlah kelompok massa yang terdiri dari mahasiswa dan pedagang kaki lima (PKL) menggelar aksi unjuk rasa di Kota Makassar,Rabu (17/6/2026).
Massa menyampaikan berbagai tuntutan mulai dari persoalan ekonomi indonesia hingga kebijakan penataan dan penertiban pedagang yang dilakukan pemerintah daerah.
Berdasarkan pantauan yang dipublikasikan sejumlah media sosial dan media lokal, aksi berlangsung di beberapa titik.
Pertama, aksi Demo penolakan relokasi pedagang kaki lima (PKL) yang berlangsung kawasan kantor sementara DPRD Kota Makassar jalan Hertasning.
Kedua, Aksi Demonstrasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM) di jalan Andi Pangerang Pettarani, Kecamatan Rappocini.
Demo terkait penolakan relokasi pedagang kaki lima (PKL)
Dilansir dari detikSulsel.com , Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) berakhir dengan ricuh di karenakan salah satu Massa aksi mengaku dipukul oleh oknum Satpol PP yang berjaga.
Menurut penjelasan detikSulsel massa aksi dengan satpol PP sempat terlibat saling dorong hingga salah satu demonstran mengaku dipukul.
“Teman-teman berupaya masuk, dan harusnya ditahan dengan baik, bukan disambut dengan pukulan. Itu melanggar hukum” ungkap Iswandi yang merupakan massa aksi demonstrasi kepada wartawan detikSulsel. Rabu, 7/06/2026.
Dalam aksi tersebut massa Menuntut DPRD Makassar segera menggelar RDP terkait penolakan relokasi PKL di kawasan Benteng Rotterdam.
Menurut massa aksi pihaknya sempat diterima oleh salah satu anggota DPRD Makassar. Namun hingga kini surat permohonan RDP disebut belum ditandatangani pimpinan DPRD.
Demo terkait Kebijakan Pemerintah oleh BEM Universitas Negeri Makassar
Dilansir dari Beritasatu.com, Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar aksi unjuk rasa dengan memblokade Jalan Andi Pangerang Pettarani, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar.
Aksi tersebut mengakibatkan kemacetan panjang akibat dari blokade jalan oleh massa aksi. Massa hanya menyisakan satu lajur yang dapat dilalui kendaraan sehingga antrean kendaraan mengular hingga hampir 1 kilometer.
Pelaksana Tugas Presiden BEM UNM, Nur Intan Maharani, menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kritik mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat.
“Harapannya kita adalah Reformasi Jilid II dan untuk memperluas kembali jaringan konsolidasi. Jadi hari ini kita turun dulu dari internal kampus (Universitas Negeri Makassar),” ujar Nur Intan kepada wartawan Beritasatu.com
Dalam aksi tersebut Mahasiswa menyoroti sejumlah isu nasional, mulai dari penggunaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG), pembentukan koperasi merah putih, hingga pengesahan Rancangan Undang-Undang Kepolisian (RUU Polri).
Menurut massa aksi, berbagai kebijakan tersebut perlu mendapat pengawasan publik karena berpotensi menimbulkan persoalan dalam tata kelola pemerintahan dan kehidupan demokrasi.
Dalam perkembangan terpisah dari pantauan media sosial Instagram, sejumlah mahasiswa juga sempat menggelar aksi di kawasan Jalan AP Pettarani dan Hertasning dengan membawa tuntutan terkait kebijakan ekonomi pemerintah dan penolakan terhadap sejumlah regulasi yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat laporan resmi mengenai bentrokan besar ataupun gangguan keamanan yang signifikan dalam pelaksanaan aksi demostrasi tersebut.




