Oleh: Caca
Aku menyimpan luka yang enggan menutup,
ia tinggal di sudut ingatan,
tak lagi berteriak,
namun masih perih saat malam terlalu jujur.
Meski begitu, aku tetap belajar
menjadi tabib bagi diriku sendiri—
menyembuhkan tanpa janji lupa.
Jiwaku pernah rebah,
seperti lampu yang padam sebelum pagi.
Namun pelan-pelan aku meniup bara,
menghidupkan sisa hangat
dari harapan yang hampir kulepas.
Keluhku sering kembali sebagai tuduhan,
kata-kataku dipantulkan sebagai salah.
Aku diremehkan oleh suara-suara
yang tak pernah mau tinggal cukup lama
untuk mengerti.
Aku lelah berbincang dengan manusia,
maka kupeluk benda-benda kesukaanku—
mereka diam,
namun tak pernah menghakimi.
Di kamar yang sunyi,
aku belajar mengenali diriku
tanpa perlu menjelaskan apa-apa.
Meski begitu, aku masih membuka sedikit jendela,
membiarkan cahaya masuk dengan ragu.
Barangkali, suatu hari,
ada manusia yang datang
bukan untuk membenarkan atau menyalahkan,
melainkan menerima
bahwa aku ada—
dengan luka, resah,
dan doa-doa yang tak pernah bersuara.




