Oleh: Aul
Pesan tersebut tentu tidak disampaikan melalui surel ataupun pesan WhatsApp, toh pada masa Kajao Laliddong peralatan-peralatan modern yang menghubungkan individu-individu belum secanggih hari ini. Dapat diterka pula pesannya tidak akan berisi “Berhenti menanam sawit”, sebab pada masa itu juga Sawit belum menjadi komoditas dengan harga tinggi dan juga belum dikategorikan sebagai pohon seperti hari ini. Jadi jangan heran jika kelak kita akan melihat pengalihan fungsi hutan dengan berbagai macam pepohonannya menjadi hutan “pohon” sawit.
Siapa Kajao Laliddong?
Kajao Laliddong Lamellong merupakan salah seorang yang pernah menjabat sebagai penasihat kerajaan Bone, ia lahir pada tahun 1507 dimana Bone pada masa itu dipimpin oleh seorang perempuan yang bernama We Benrigau arumpone ke-4.
Kajao Laliddong atau Lamellong berasal dari keluarga menengah namun terhormat, sebab sifat-sifat kemanusian yang dimilikinya. Ia jujur, berani dan gemar membela hak-hak rakyat kecil sehingga diberi gelar sebagai “Tau Tongeng ri Gauna”.
Bagi Lamellong tidak ada pertanyaan yang tidak memiliki jawaban, setiap pertanyaan yang ditujukan kepadanya dijawab dengan penuh simbol-simbol dan metafora sehingga yang mendengarnya merasa kagum akan kecerdasan Kajao Laliddong. Wawasannya luas dan pengetahuannya jauh melampaui anak-anak seusia nya, namun tidak serta merta membuat Kajao Laliddong tidak bergaul dengan teman-teman seusianya.
Dalam berbagai catatan, Semasa Kecil Kajao Laliddong telah menjadi panutan bagi teman-temannya, ia memiliki sifat cerdas, berani dan jujur. Dalam pertikaian diantara teman-temannya Kajao Laliddong kerap hadir sebagai penengah yang adil sehingga dianggap sebagai penasihat yang bijak.
Kajao Laliddong diangkat sebagai diplomat kerajaan Bone pada masa Raja Bone ke-VII La Tenri Rawe Bongkang’e. Ia menjadi negosiator mendampingi Raja Bone dalam perjanjian Ulu Kanaya ri Calepa pada tahun 1565 yang merupakan sebuah perjanjian untuk memitigasi peperangan antara Gowa dan Bone serta menetapkan batas-batas antara kedua kerajaan. Kajao Laliddong juga terlibat dalam perumusan perjanjian antara tiga kerajaan, Bone, Soppeng dan Wajo yang dikenal dengan Lamumpatue ri Timurung atau perjanjian Tellumpoccoe tahun 1582.
Semasa hidupnya Kajao Laliddong telah merumuskan Pangadereng yang selanjutnya menjadi pedoman bagi setiap kerajaan di Sulawesi Selatan. Masuknya Islam menambah kelengkapan Pangadereng yang sebelumnya hanya berisi : (1) Ade’/Ada’ (2) Rappang (3) Bicara, dan (4) Wari kemudian dengan dianutnya Islam bertambah menjadi lima, yakni (5) Syara’.
Pesan dari Kajao Laliddong
Masa lalu tidak boleh dikurung dalam kungkungan zaman dan dilihat sebatas kisah usang yang tak lagi bermanfaat, Masa lalu kerap menyimpan pengetahuan yang jauh telah melampaui zamannya. Salah satunya adalah ajaran-ajaran dari Kajao Laliddong To Sualle Lamellong yang telah menjadi penasehat dan negosiator ulung bagi kerajaan Bone.
Bagi Indonesia yang begitu luas dan memiliki kekayaan kebudayaan yang melimpah, sejarah pula tidak boleh dikotak-kotakan berbasis wilayah, setiap pengetahuan yang dimiliki perlu dikomparasikan menjadi satu pengetahuan yang menjadi dasar bernegara. Dan begitupun setiap individu untuk tidak lagi melakukan glorifikasi kedaerahan yang justru menimbulkan perpecahan, sebab Sejarah harus menceritakan apa adanya bukan ada apanya, “Katakanlah Kebenaran walaupun pahit” – HR. Ahmad.
Kajao Laliddong menyampaikan Pappaseng kepada Raja Bone bahwa ada sifat yang harus dimiliki oleh seorang Raja dan juga manusia diantaranya adalah, (1) Lempu (Kejujuran), (2) Acca (Kecendekiaan), (3) Assitinajang (Kepatutan), (4) Getteng (Ketegasan), (5) Reso (Usaha Keras), dan (6) Siri’ (Kehormatan). Sepatutnya ini menjadi kriteria wajib yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang juga merupakan representatif dari sebuah negara, bukan sekedar menjadi perwakilan dari kelompok yang memenangkannya dalam pemilu namun semua rakyat tanpa memandang kasta maupun golongan. Ketika seorang pemimpin tidak lagi mampu memenuhi kriteria dasar sebagai pemimpin, maka kehancuran suatu negara hanya menunggu waktu.
Pesan yang lain dari Kajao Laliddong yang sepatutnya direfleksikan oleh bapak Prabowo Subianto yang bertindak selaku pemimpin negara as a Presiden kita semua adalah Tidak memejamkan mata siang dan malam serta pemimpin harus mampu bertutur kata dengan baik serta mampu menjawab pertanyaan sesuai konteksnya. Salah satu statement Prabowo yang cukup klimaks akhir-akhir ini adalah terkait Aceh dan Sumatera Barat yang akhir tahun kemarin terkena bencana alam, “Buktinya saya kalah di Sumatera Barat, Benar? Tetapi tetap MBG sampai ke Sumatera Barat. Saya juga kalah di Aceh kan? Tapi tetap kami bangun Aceh habis-habisan” Kata Prabowo (Tempo.co).
Selain itu, Prabowo juga sempat melontarkan kalimat aneh dan lucu : “Kalau tidak suka Prabowo, silakan 2029 bertarung” (Kompas.com). Dua kalimat yang dilontarkan oleh seorang Presiden cukup membuat kita geleng-geleng kepala. Santai aja kali pak, bapak masih punya chance kemenangan yang tinggi kok kalau melihat hasil survey kepuasan dan kebahagian masyarakat, kan pak Prabowo sendiri yang seringkali lontarkan, jadi gak usah takut pak.
Menjadi seorang pemimpin dalam identitas kebudayaan Indonesia yang majemuk seharusnya merangkul siapapun, Pemilihan umum adalah hak bagi setiap individu untuk memilih siapa yang menurutnya mumpuni menjadi pemimpin mereka dalam lima tahun kedepan. Prabowo sepatutnya tidak lagi membeda-bedakan setiap wilayah hanya berdasarkan suara yang ia peroleh dalam pemilihan umum. Kajao Laliddong berpesan “jangan membiarkan rakyat bercerai berai”.
Kritik terhadap Prabowo dan konco-konconya dalam pemerintahan adalah hal lumrah itupun jika negara ini masih menganut pemerintahan berbasis demokrasi. Namun jika berubah jadi Neo-Orba, otoriter atau bun militeristik yah wassalam, atur saja sebaiknya bagaimana, adalah pokoknya.
Kita sebagai rakyat Indonesia bukanlah bangsa yang sekedar kaya akan Sumber daya alamnya yang seenak jidat untuk dieksploitasi sedemikian rupa dan itupun hanya untuk segelintir orang. Kita juga kaya akan pengetahuan dari kebudayaan yang telah ada sejak zaman dahulu kala, sejak sebelum kolonialisme menancapkan kakinya di bumi ibu pertiwi. Namun tampaknya kolonialisme telah mengakar kuat jauh dalam pikiran, cap pribumi sebagai orang bodoh telah membawa kita bahkan lupa untuk mengenali kebudayaan sendiri.
“Akuilah dengan yang putih bersih, bahwa kamu sanggup dan mesti belajar dari orang Barat. Tapi kamu jangan jadi peniru orang Barat, melainkan seorang murid dari Timur yang cerdas, suka memenuhi kemauan alam dan seterusnya dapat melebihi kepintaran guru-gurunya di Barat” – Tan Malaka, Aksi Massa 1926.




