Oleh: Caca
Label “terlalu sensitif” kerap dilekatkan pada perempuan setiap kali mereka menolak candaan seksis, mempertanyakan bahasa yang merendahkan, atau mengkritik ruang diskusi yang eksklusif dan maskulin. Istilah ini tampak sepele, bahkan rasional, namun sesungguhnya berfungsi sebagai alat pembungkam. Dengan menyebut perempuan sensitif, persoalan dilepaskan dari substansi ketidakadilan dan dialihkan menjadi persoalan emosi individu.
Perempuan dianggap tidak cocok berada di tongkrongan atau ruang diskusi bukan karena argumennya lemah, melainkan karena kehadirannya mengganggu kenyamanan struktur yang telah mapan. Ruang-ruang yang mengklaim diri sebagai arena intelektual sering kali dibangun di atas standar maskulinitas tertentu: dingin, kompetitif, tahan hinaan, dan kebal terhadap empati. Siapa pun yang menolak norma ini—terutama perempuan—dianggap tidak rasional.
Di sinilah kritik feminis menjadi relevan. Simone de Beauvoir menjelaskan bahwa perempuan sejak lama diposisikan sebagai “the Other”, pihak yang emosinya dianggap berlebihan dan pikirannya dianggap turunan. Ketika perempuan bereaksi terhadap pelecehan, reaksi itu tidak dibaca sebagai respons yang sah, melainkan sebagai bukti kelemahan. Padahal, yang disebut “sensitif” sering kali adalah kesadaran etis terhadap ketidakadilan.
Bell hooks menegaskan bahwa patriarki mempertahankan dirinya melalui normalisasi kekerasan simbolik. Candaan yang merendahkan perempuan dianggap wajar, sementara keberatan atasnya dianggap mengganggu. Dengan kata lain, perempuan tidak dinilai terlalu sensitif—masyarakatlah yang terlalu terbiasa dengan kekerasan.
Judith Butler kemudian membantu kita memahami bahwa suara perempuan yang dianggap “berisik” atau “emosional” justru menandakan adanya ketimpangan dalam relasi kuasa. Ketika perempuan berbicara, batas-batas kenyamanan patriarkal terguncang. Maka, alih-alih mendengar kritiknya, sistem memilih mendiskreditkan pembicaranya.
Jawaban atas judul ini menjadi jelas: perempuan selalu dianggap terlalu sensitif bukan karena mereka lemah, melainkan karena mereka berani menolak ketidakadilan yang telah lama dinormalkan. Label tersebut adalah mekanisme defensif untuk melindungi privilese, bukan penilaian objektif atas rasionalitas.
Ironisnya, mereka yang gemar melabeli perempuan sensitif sering kali adalah pihak yang paling rapuh terhadap kritik. Sedikit perlawanan dianggap ancaman, sedikit keberanian dianggap bencana. Di titik ini, feminisme tidak sedang merusak ruang diskusi, melainkan membersihkannya dari kemunafikan intelektual.
Solusi dari situasi ini tidak cukup dengan meminta perempuan “lebih kuat” atau “lebih santai”. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang: mengakui bahwa emosi bukan lawan dari rasionalitas, dan bahwa kritik perempuan adalah bagian sah dari diskursus publik. Selain itu, perempuan perlu terus membangun solidaritas, memperkuat literasi kritis, dan menciptakan ruang alternatif yang tidak menjadikan pelecehan sebagai harga masuk.
Sebab, kemanusiaan yang sejati tidak menuntut sebagian orang untuk kebal terhadap luka. Ia justru dimulai dari kesediaan mendengar mereka yang selama ini disuruh diam.




