Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Penggunaan Google Form dalam Ujian Semester: Mempermudah Evaluasi atau Memfasilitasi Kecurangan?

Pataka Eja by Pataka Eja
4 Februari 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 02 04 At 11 30

Oleh: Andi Tenri Candradewi Rumalutur


Ujian semester merupakan salah satu instrumen penting dalam proses pendidikan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik. Idealnya, ujian dilaksanakan dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas akademik. Praktik menyontek dalam ujian tidak hanya merusak validitas penilaian, tetapi juga berdampak buruk terhadap pembentukan karakter peserta didik. Peserta didik yang telah biasa menyontek berpotensi kehilangan sikap jujur, rasa tanggung jawab, serta kepercayaan diri terhadap kemampuan berpikirnya sendiri.

Dalam konteks pendidikan nasional, praktik kecurangan dalam ujian bertentangan dengan tujuan pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menegaskan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, cakap, dan bertanggung jawab. Selain itu, Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, menekankan bahwa penilaian hasil belajar harus dilakukan secara objektif, adil, dan jujur. Dengan demikian, menyontek bukan sekadar pelanggaran tata tertib sekolah, melainkan kesalahan serius yang telah menyimpang dari tujuan pendidikan itu sendiri.

Dalam praktik pelaksanaan ujian semester saat ini banyak sekolah telah menggunakan sistem digital, salah satunya melalui Google Form. Penggunaan Google Form pada dasarnya tidak menjadi persoalan apabila didukung oleh pengawasan yang profesional dan evaluasi sistem yang berkelanjutan. Platform ini menawarkan kemudahan teknis, efisiensi waktu, serta kepraktisan dalam pengolahan nilai. Namun, permasalahan muncul ketika kemudahan tersebut justru membuka celah kecurangan yang cukup sulit dikendalikan.

Penggunaan Google Form dalam ujian tidak hanya diterapkan di tingkat Sekolah Menengah, tetapi juga telah merambah ke jenjang pendidikan dasar. Penulis menyaksikan bahwa sejumlah sekolah dasar mulai melaksanakan ujian menggunakan Google Form, meskipun peserta didik masih berada pada tahap awal pembentukan karakter belajar dan integritas akademik.  

Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan, terdapat sejumlah sekolah dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah yang masih menggunakan penggunaan Google Form dalam ujian semester, meskipun telah mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Ironisnya, dalam konteks ujian, kekurangan Google Form terutama terkait peluang kecurangan justru lebih dominan dibandingkan kelebihannya. Kendati demikian, platform ini tetap digunakan tanpa evaluasi yang menyeluruh dan tanpa upaya serius untuk mengganti atau mencoba alternatif platform lain yang lebih menjamin integritas ujian.

Jika pengawasan ujian berbasis Google Form saja masih menghadapi banyak kendala pada jenjang sekolah menengah pertama dan menengah atas. Maka penerapan sistem yang sama pada tingkat sekolah dasar justru berpotensi menimbulkan persoalan yang lebih kompleks. Tanpa pengawasan yang ketat, penggunaan Google Form pada jenjang ini berisiko membiasakan peserta didik sejak dini untuk mengandalkan pencarian instan dibandingkan usaha belajar dan mengingat materi yang telah diajarkan.

Sejatinya tidak masalah jika ujian sedang berlangsung, semua dalam kendali dan kontrol, dalam arti bahwa ujian semester berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diamanatkan dalam regulasi yakni objektif, adil dan jujur. Kondisi ini patut menjadi perhatian serius, ketika terjadi suatu penyimpangan dari evaluasi tersebut. Mengingat peserta didik pada tingkat sekolah dasar dan menengah masih membutuhkan pendampingan yang kuat dalam memahami makna ujian, kejujuran, dan tanggung jawab akademik.

Sebagai guru sekaligus pengawas ujian, penulis menyaksikan bahwa ujian berbasis Google Form hanya dapat berjalan dengan baik apabila pengawas menjalankan tugasnya secara profesional. Mengambil ukuran satu ruang ujian yang diisi sekitar dua puluh atau lebih peserta didik saat ujian berlangsung, pengawas seharusnya aktif bergerak, mengamati perilaku peserta didik, serta memastikan tidak ada akses ke sumber lain selama ujian berlangsung. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pengawasan semacam ini sering kali tidak dilakukan secara konsisten.

Kondisi tersebut semakin memprihatinkan ketika pengawas ruangan bersikap pasif dan hanya duduk di tempat tanpa pengawasan aktif. Dalam situasi seperti ini, peserta didik dengan mudah membuka tab lain, mencari jawaban melalui Search engine atau mesin pencari, bisa juga memanfaatkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan seperti Chat GPT. Google Form yang seharusnya berfungsi sebagai alat evaluasi pembelajaran akhirnya berubah menjadi sarana yang memfasilitasi kecurangan secara sistematis. Jika praktik ini dibiarkan, maka ujian kehilangan makna akademiknya dan hanya menjadi formalitas administratif semata

Dampak dari kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh peserta didik, tetapi juga oleh guru. Guru telah bersusah payah menyusun soal ujian sebagai alat untuk mengukur pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah diajarkan selama proses pembelajaran berlangsung. Namun, dengan sistem ujian yang longgar, soal-soal tersebut dapat dijawab dengan sangat mudah tanpa menuntut siswa untuk mengingat kembali, memahami, atau merefleksikan materi yang telah dipelajari. Peserta didik cenderung mengandalkan mesin pencari, aplikasi kecerdasan buatan, atau sumber daring lainnya tanpa usaha akademik yang berarti.

Akibatnya, ujian tidak lagi mengukur pemahaman, daya ingat, dan proses berpikir siswa, melainkan hanya menguji kemampuan mencari jawaban secara instan. Hal ini secara tidak langsung melemahkan makna pembelajaran dan mengaburkan tujuan evaluasi pendidikan. Proses belajar yang seharusnya membangun pemahaman jangka panjang justru tereduksi oleh praktik ujian yang secara tidak langsung membiarkan kecurangan terjadi.

Semestinya, ketika kelemahan suatu sistem sudah diketahui tetapi tetap digunakan tanpa evaluasi dan perbaikan, maka persoalan tersebut bukan lagi terletak pada teknologinya, melainkan pada sikap penyelenggaranya. Saat ini tersedia berbagai platform ujian digital lain yang dirancang dengan sistem pengamanan lebih ketat, seperti pembatasan akses aplikasi lain atau penguncian layar. Ketidakmauan untuk berinisiatif mencari dan menggunakan alternatif tersebut menunjukkan rendahnya komitmen terhadap kualitas dan integritas evaluasi pembelajaran.

Dalam kondisi tertentu, hemat penulis menawarkan kembali pada sistem ujian tertulis berbasis kertas, yang dapat menjadi pilihan yang lebih relevan. Meskipun kecurangan masih mungkin terjadi, ujian tertulis lebih mudah diawasi secara langsung dan memungkinkan deteksi kecurangan dengan lebih cepat. Selain itu, ujian tanpa gawai dapat menumbuhkan kesadaran siswa bahwa ujian merupakan proses akademik yang menuntut kesiapan belajar, bukan sekadar kemampuan mencari jawaban secara instan.

Penulis menegaskan kembali kembali bahwa ujian digital bukanlah masalah utama. Permasalahan sesungguhnya muncul ketika kelemahan sistem sudah diketahui, tetapi tetap dipertahankan tanpa evaluasi dan inisiatif perbaikan. Sekolah seharusnya berani menempatkan integritas akademik di atas kenyamanan teknis dan membangun sistem evaluasi yang benar-benar mendidik.

Pada akhirnya, ujian bukan hanya tentang perolehan nilai, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan makna belajar peserta didik. Ketika praktik kecurangan dibiarkan dan sistem yang bermasalah terus digunakan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil ujian, melainkan kualitas pendidikan itu sendiri.

*Penulis merupakan seorang guru berstatus honorer di salah satu sekolah tingkat menengah, dengan masa pengabdian masih di bawah lima tahun.

 

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

61b6ef02999e9ll
Opini

Normalisasi kata-kata kasar di Media Sosial: Antara Candaan dan Ideologi Bahasa

27 Agustus 2025
304
Img 20251011
Opini

Ratapan Kedaulatan yang Terlupakan: Benteng Somba Opu Saksi Bisu yang Merana

10 Oktober 2025
104
Img 20251124
Opini

Dari Kelisanan ke Layar: Tantangan Komunikasi di Era Digital

25 November 2025
192
Sfsgsdgs
Opini

Ilusi Pengetahuan dan Senjakala Intelektual

28 Juli 2025
64

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi