Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Ilmu Pengetahuan: Dari Alat Pencerahan Menjadi Dogma Baru

Pataka Eja by Pataka Eja
28 Januari 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 01 27 At 09 39
Oleh : Asyraf

Ekosistem Filsafat di tengah Iklim Ilmu Pengetahuan

Pernyataan bahwa abad ke-21 adalah era ilmu pengetahuan merupakan kebenaran yang sulit mendapat penolakan. Era ilmu pengetahuan, sebenarnya, telah bergumul dan mendominasi kehidupan manusia sejak lahirnya Renaisans dan Reformasi Protestan di Barat.

Perbedaan Renaisans dan Reformasi Protestan terletak pada titik tolak kritik atas dominasi Gereja Katolik yang menguasai cakrawala berpikir para intelektual Eropa. Fondasi Renaisans terletak pada pendobrakan intelektual yang bertujuan memahami realitas berdasarkan akal budi. Prinsip rasionalitas dipercaya dapat menemukan kebenaran-kebenaran baru tanpa terikat doktrin-doktrin keagamaan.

Hadirnya Renaisans membentuk konstelasi berpikir baru dengan melahirkan ilmu pengetahuan berdasarkan pada kekuatan rasio. Bahkan, kemampuan akal budi manusia Renaisans juga melahirkan gerakan-gerakan kesenian yang mencoba keluar dari aturan-aturan estetika Gereja Katolik.

Gebrakan Renaisans dalam bidang kesenian, misalnya, dipelopori Leonardo da Vinci melalui karya-karyanya yang mengusung keindahan alam dan keharmonisan tubuh. Lukisan Leonardo mengisyaratkan bahwa mendekati realitas tidak menuntut dikte dari Kitab Suci. Bergumul dengan realitas dapat berasaskan pada kebebasan pikiran.

Dalam bidang politik kehadiran Niccolo Machiavelli turut memeriahkan intelektualisme Eropa dengan mengusung sistem politik yang sangat berbeda dari aturan-aturan kepausan Roma. Tak lupa pula dengan munculnya “Cogito ergo Sum” dari Descartes ikut serta mewarnai paradigma Renaisans dengan menegaskan bahwa pikiran manusia dapat menemukan kebenaran yang autentik.

Di sisi lain, Reformasi Protestan mengambil jalan berbeda dalam mengkritik otoritas Gereja Katolik. Martin Luther di Jerman menulis dan memajang 95 tesis di depan pintu gereja sebagai bentuk kritik atas kebijakan indulgensi Katolik Roma yang dinilai sangat menodai citra kekristenan. Di tempat lain, hadir pula tokoh-tokoh Reformis Protestan: John Calvin di Prancis dan Ulrich Zwingli di Swiss.

Ketiga tokoh Reformasi Protestan di atas menciptakan arah baru kekristenan dengan membentuk sistem teologi yang berbeda: Lutheranisme di Jerman, Calvinisme di Prancis, dan gerakan protestanisme lainnya. Gerakan Reformasi Protestan mendorong penafsiran Bible yang berlandaskan pada kebebasan interpretasi.

Jika Renaisans merupakan gerakan kebudayaan yang mendorong lahirnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kesenian, maka Reformasi Protestan merupakan gerakan teologi yang mengusung kebebasan interpretasi. Keduanya merupakan gerakan kritik terhadap otoritas gereja yang dinilai ketinggalan zaman. Dua gerakan ini pula yang menyebabkan kemajuan di Eropa Barat modern hingga sekarang.

Posisi Filsafat

Hadirnya ilmu pengetahuan, seni, dan teologi reformasi juga turut menyebabkan arus berfilsafat ikut berbenah. Sejak Abad Pertengahan filsafat berada di bawah payung teosentrisme. Keterarahan filsafat senantiasa terikat oleh doktrin keagamaan, bahkan membantu otoritas gereja menciptakan landasan filosofis bagi teologi.

Sikap mawas diri filsafat dengan melihat kemajuan ilmu pengetahuan berakibat pada tersusunnya sistem filsafat yang bebas dari kuasa teologi. Sejak saat itu, filsafat pun beralih pada sikap antroposentrisme, suatu sikap yang melihat kekuatan manusia terletak pada akal budi. Pada saat ini pula filsafat melahirkan beragam aliran: rasionalisme, empirisme, kritisisme, positivisme, idealisme, materialisme, dan aliran-aliran lainnya.

Pada saat yang sama corak antroposentrisme filsafat semakin mendorong kemajuan dalam ilmu pengetahuan itu sendiri. Antroposentrisme menghadirkan landasan filosofis bagi ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan pun mendapat momentum kuat dari teori-teori filsafat sehingga ilmu pengetahuan memperoleh legitimasi sebagai sistem pengetahuan yang terpisah dari teologi.

Perpisahan ilmu pengetahuan dari teologi disambut hangat oleh peradaban Barat modern. Jenis-jenis ilmu pengetahuan pun bermunculan, mulai dari natural science, hingga social science. Ilmu Alam dan Ilmu Sosial-Humaniora mendapat popularitas yang sangat gemilang. Hanya saja, popularitas ilmu pengetahuan tidak akan muncul ke permukaan tanpa landasan filosofis dari filsafat.

Di sini, filsafat berposisi sebagai fondasi bagi teori-teori ilmu pengetahuan. Berawal dari refleksi dan meditasi filosofis, filsafat dapat menciptakan corak berpikir baru. Pikiran spekulatif dan radikal dari filsafat membuka tabir yang selama ini tidak dilirik ilmu pengetahuan. Sebagaimana diketahui, ilmu pengetahuan menelusuri objek-objek berdasarkan pengamatan indrawi dan asas-asas rasionalitas.

Lingkup pembahasan ilmu pengetahuan hanya bergumul pada fenomena yang tampak. Ilmu Pengetahuan Alam mengkaji realitas fisik, sedang Ilmu Pengetahuan Sosial-Humaniora membahas realitas kemanusiaan. Kedua rumpun pengetahuan tersebut berusaha menemukan hukum-hukum realitas yang siap publikasi. Teori-teori diturunkan berdasarkan bukti-bukti. Dan, dapat dipastikan bahwa teori-teori tersebut memiliki landasan filosofis tertentu.

Puncak Problematika : Dogma Ilmu Pengetahuan

Saat filsafat memberi landasan filosofis kuat bagi kemajuan ilmu pengetahuan, maka peradaban manusia era sekarang absah disebut sebagai zaman ilmu pengetahuan. Namun, istilah “zaman ilmu pengetahuan” menuai polemik yang cukup serius. Pasalnya, keragaman ilmu pengetahuan melirik fenomena berdasarkan ‘kacamata’ yang berbeda. Setiap disiplin akan menilai suatu fenomena dengan kesimpulan yang berbeda walaupun objek pembahasannya serupa.

Sebagai contoh: Manusia adalah objek pembahasan biologi, psikologi dan sosiologi. Sistem keilmuan biologi hanya berfokus pada aspek fisik manusia. Adapun psikologi sibuk menelusuri sisi terdalam dari kesadaran manusia dan landasan bagi terbentuknya perilaku. Di sisi lain, sosiologi berusaha memahami proses interaksi masyarakat sebagai sesuatu yang vital bagi kehidupan dikarenakan manusia merupakan makhluk sosial yang hidup secara komunal.

Polemik ilmu pengetahuan tidak terletak pada objek formal setiap disiplin. Namun, polemik tersebut akan hadir ketika ilmu pengetahuan berada di puncak teoretis. Sebagai misal, ketika biologi berhasil membentuk ensiklopedia makhluk hidup yang dikumpulkan dalam tabel-tabel taksonomi, maka biologi membuka lahirnya Darwinisme.

Charles Darwin melihat dunia manusia sebagai gerombolan makhluk hidup yang berusaha untuk bertahan hidup: survive. Lahirnya Darwinisme, ketika itu membuat gusar, bukan hanya otoritas gereja, namun juga filsafat secara umum. Saat filsafat melirik manusia sebagai makhluk yang rasional, justru biologi Darwinisme meletakkan manusia setara dengan makhluk lainnya. Di sini, biologi Darwinisme naik pada level filosofis, bukan lagi teoritis.

Hal serupa terjadi dalam disiplin keilmuan lainnya: Fisika modern beranggapan bahwa manusia merupakan kumpulan atom-atom yang berkesadaran; Psikologi menyatakan pola pikir manusia tergantung pada sistem bawah sadar yang membentuknya; Sosiologi berargumen bahwa kehidupan manusia hanya sebuah kontrak sosial yang senantiasa berada dalam konflik berkepanjangan.

Akhirnya, keragaman disiplin keilmuan, pada level filosofis, akan melahirkan sistem filsafat yang baru. Di sini, ilmu pengetahuan turut mengembangkan cara pandang filosofis untuk memperkaya tradisi filsafat itu sendiri. Filsafat pun mendapat kontemplasi terbarukan untuk menciptakan analisis-analisis mendalam. Kontemplasi itu berasal dari ilmu pengetahuan.

Sejak ilmu pengetahuan ‘naik daun’, maka refleksi filsafat terkadang berangkat dari teori-teori ilmu pengetahuan yang telah menjabat sebagai sistem filosofis yang baru. Posisi ilmu pengetahuan pun berubah. Pada masa awal, filsafat menjadi basis bagi terbentuknya ilmu pengetahuan. Di era sekarang, ilmu pengetahuan berbalik arah menjadi fondasi bagi filsafat itu sendiri.

Adanya pembalikan arah ini turut membentuk cara pandang peradaban modern bahwa ilmu pengetahuan lebih superior ketimbang filsafat. Parahnya, cara pandang ini telah berwujud menjadi common sense. Akhirnya, analisis-analisis untuk menyelesaikan problematika kemanusian menjadikan ilmu pengetahuan sebagai referensi utama.

Bagi manusia modern, ilmu pengetahuan menawarkan pola pikir praktis dan teori-teorinya lebih mudah untuk dipahami. Di sisi lain, filsafat dianggap sebagai urusan orang-orang yang sibuk mengasingkan diri dan menarik diri ke universitas demi intelektualitas yang jumud.

Popularitas ilmu pengetahuan mengguncang otonomi filsafat. Berbagai disiplin keilmuan beralih menjadi ‘tuan’ bagi manusia modern. Filsafat pun seakan berdiri di sudut lain dunia modern. Filsafat mendapat tempat sunyi yang suara-suara kritis-nya ‘hampir’ terlupakan. Dalam posisi tersebut peradaban modern masuk dalam iklim ilmu pengetahuan. Di sinilah ilmu pengetahuan menjadi DOGMA.

Layaknya agama yang tersusun atas dogma-dogma tertentu, ilmu pengetahuan pun juga membentuk dogmanya sendiri. Namun, filsafat tidak bermaksud menafikkan sumbangsih ilmu pengetahuan yang begitu besar bagi peradaban. Hanya saja, jika ilmu pengetahuan tidak ‘membuka diri’, maka ilmu pengetahuan akan jatuh pada dogmatisme semata.

Sifat kritis ilmu pengetahuan yang dahulu diarahkan untuk keluar dari tradisionalisme Abad Pertengahan harus senantiasa konsisten dalam bersikap. Konsistensi semacam itu hanya dapat dilakukan jika filsafat turut serta ‘membongkar ulang’ arah ilmu pengetahuan. Jika ekosistem filsafat di tengah iklim ilmu pengetahuan tidak dikembalikan untuk memberi kritik terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, maka ilmu pengetahuan akan menjadi sebuah ‘agama baru’.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img
Opini

Transparansi sebagai Sandiwara: Pemerintahan Spektakel di Indonesia

22 Januari 2026
148
Whatsapp Image 2025 10 29 At 10 50 51
Opini

Menyumpahi Pemuda, Event Tahunan 28 Oktober

29 Oktober 2025
82
Foto Muh Thafdil Wirawan S
Opini

Menambang Data, Menjemput Masa Depan

30 Juli 2025
68
Whatsapp Image 2025 11 12 At 04 28
Opini

Bangun di Sepertiga Malam: Gaya Hidup Sehat dan Bernilai Ibadah

11 November 2025
45

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi