Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Menghias Angka, kehilangan Makna

Pataka Eja by Pataka Eja
16 Desember 2025
in Opini
0
1212

Oleh: Nur’alim

Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh konten oknum guru yang secara terbuka seakan mempertontonkan praktek mendongkrak nilai semester siswa. Narasi yang dibangun tampak penuh empati demi kelulusan, demi masa depan anak-anak, namun dibalik simpati itu tersembunyi persoalan serius yang patut dikritisi secara jujur dan berani. Apa yang terlihat sebagai kebaikan, perlahan berubah menjadi pembiasaan yang meninabobokan nurani.

Mendongkrak nilai sejatinya bukan sekadar urusan administratif, melainkan cermin dari kegagalan yang lebih dalam dan sunyi. Ketika angka harus dinaikkan agar tampak “tuntas”, maka yang layak dipertanyakan bukan kecerdasan siswa, melainkan keberhasilan proses pembelajaran itu sendiri.

Guru, dalam martabat profesional dan amanah keilmuannya, bukanlah penjahit angka di rapor, melainkan penuntun jalan belajar. Ketika nilai dimanipulasi, yang sesungguhnya terjadi adalah penutupan cahaya: cahaya kejujuran, cahaya evaluasi diri, dan cahaya perbaikan.

Lebih jauh, praktik ini menyingkap wajah sistem pendidikan yang kurang sehat. Sekolah terjebak pada budaya angka: KKM harus tercapai, rapor harus rapi, statistik kelulusan harus aman.

Dalam kegaduhan itu, kejujuran akademik perlahan dikorbankan demi citra. Anak-anak pun belajar diam-diam bahwa kegagalan bukan untuk direnungi, tetapi untuk dirapikan; bahwa usaha tidak selalu sejalan dengan hasil. Di sinilah pendidikan karakter mengalami luka yang tak kasatmata,  rusak bukan karena niat buruk, melainkan karena kebiasaan yang dibiarkan.

Namun kritik semata tidaklah cukup. Dalam tradisi kebijaksanaan, setiap kesalahan adalah undangan untuk bertobat dan memperbaiki jalan. Fenomena ini harus dijawab dengan solusi yang sistemik sekaligus manusiawi. Evaluasi pembelajaran perlu dikembalikan pada ruhnya: menilai proses, bukan sekadar hasil. Penilaian formatif, refleksi belajar, dan asesmen diagnostik semestinya menjadi ruang bercermin, bukan sekadar ritual administrasi.

Guru pun perlu diberi ruang untuk bertumbuh. Tekanan target administratif yang kaku sering kali mematikan kreativitas dan kejujuran pedagogik. Maka pelatihan yang kontekstual, pendampingan profesional, dan ekosistem belajar bagi guru harus menjadi prioritas, bukan pelengkap. Guru yang ditumbuhkan dengan baik akan lebih berani jujur pada proses, termasuk mengakui keterbatasan diri.

Lebih dari itu, kebijakan pendidikan harus berani jujur pada realitas kelas. Ketuntasan belajar tidak selalu bisa diseragamkan, dan kegagalan siswa memahami materi bukan aib, melainkan data berharga untuk perbaikan. Di sinilah kebijaksanaan diuji: apakah kita memilih menutup kekurangan dengan angka, atau membukanya sebagai jalan menuju perbaikan.

Di era media sosial, literasi publik juga memegang peran penting. Apa yang ditampilkan guru ke ruang publik bukan sekadar konten, melainkan teladan. Ketika praktik keliru dinormalisasi dan diviralkan, generasi muda belajar makna belajar dari arah yang keliru pula. Pendidikan akhirnya kehilangan kesakralannya, berubah menjadi tontonan, bukan tuntunan.

Mendongkrak nilai mungkin menyelamatkan angka, tetapi tidak menyelamatkan pendidikan. Yang kita butuhkan bukan rapor yang indah, melainkan proses belajar yang jujur, adil, dan memanusiakan.

Sebab pendidikan yang sehat tidak lahir dari manipulasi, melainkan dari keberanian mengakui kekurangan dan kesetiaan untuk terus memperbaiki diri. Di sanalah ilmu kembali bernilai, dan pendidikan kembali menjadi jalan penyucian, bukan sekadar pencapaian.

 

 

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

1q
Opini

Makna dan Semangat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober: Menyatukan Langkah Menuju Indonesia Emas

28 Oktober 2025
155
Whatsapp Image 2025 11 28 At 10 54
Opini

DUNIA SEMAKIN MAJU, AKHLAK SEMAKIN MUNDUR?

1 Desember 2025
88
Whatsapp Image 2026 01 31 At 21 01
Opini

Dehumanisasi: Saat Kita Lebih Memilih Algoritma demi Menghindari Dosa Sesama

31 Januari 2026
68
Whatsapp Image 2025 09 04 At 08 17
Opini

17+8 Tuntutan: Alarm Reformasi Demokrasi dari jalanan

4 September 2025
104

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi