Oleh: Yessi Alma’wa
Bagi masyarakat di kampung itu, cerita tentang pandak telah raib menjadi cerita pengantar para ibu untuk anak mereka sebelum tidur, yang tidak tau kebenarannya. Ia tertumpuk di antara helaian-helaian kitab di surau-surau tua. Dalam bilik-bilik kayu ulin yang masih mengkilap lengkap dengan kunci-kunci yang sudah berkarat tergantung rapi.
Orang-orang yang hidup di kampung itu, hidup dalam balutan dinding-dinding kokoh yang menjulang tinggi, bukan hanya dinding-dinding itu, di luarnya masih dilapisi oleh tanaman rambat duri yang berbisa, tiada ampun melenyapkan apa saja yang melewatinya. Di tengah-tengah kampung itu, terlihat sebuah masjid dengan kubah mengkilap. Tak jauh dari masjid berdiri seorang laki-laki di tengah hamparan sawah yang mulai gemerlap.
Karmin, lelaki kurus tinggi dengan kumis tipis tampak kebingungan. “Kenapa para tetua belum datang?” Keluh Karmin sambil berjalan ke arah masjid meninggalkan sawah-sawah itu. Karmin adalah seorang pemuda yang terkenal di kampung itu. Hidung mancung dengan bibir tipis kemerahan itu membuat semua para perempuan di kampung ingin menjadi istrinya. Meski memiliki keelokan rupa, wajah karmin selalu murung karena kesedihan akan kematiaan istrinya yang kian berlarut. Namun, di balik kemurungannya itu Karmin dikenal sebagai sosok yang shaleh. Dalam beberapa tahun terakhir ia menjadi guru ngaji yang terpandang dan disegani di kampungnya. Hari-harinya selalu dihabiskan di masjid sebagai guru ngaji.
***
Ketika Karmin telah sampai di teras masjid, ia terkejut para tetua telah berada di ruang utama masjid.
“Maaf sebelumnya, para guru. Kenapa tiba-tiba guru-guru memanggil saya?”
Salah satu dari tetua itu berbicara. “Karmin, apakah kamu masih ingat dengan cerita pandak? Beberapa hari yang lalu kami menemukan lobang besar di tembok barat, semak berdurinya pun telah dibakar sebagian, kita ketahui bersama bahwa api tidak bisa membuat tanaman itu terbakar”.
Wajah Karmin seketika tercengang mendengar perkataan para tetua. Ia ingat para kiai-kiai di kampung itu pernah becerita bahwa dinding-dinding dan tanaman berduri itulah yang menyelamatkan mereka semua dari para pandak. Namun, lubang itu telah ditutup kembali oleh para tetua. Para tetua melarang Karmin memberitahu para warga tentang hal ini. Karmin pun mengangguk dan pulang ke rumahnya, kemudian berjalan pelan seorang diri, di tengah gelap malam. Ditatapnya langit yang bersih malam itu, tidak ada bintang-bintang yang bertebaran seperti biasanya, bahkan bulan tak kunjung tampak. Hati Karmin makin gelisah “Aneh, tidak biasanya langit malam begini, apakah pandak itu telah masuk ke tanah suci kami?”.
Ketika Karmin menundukkan wajahnya, dan kembali menatap ke depan ia kaget bukan kepalang. Sesosok perempuan berdiri di depannya, terlihat dua bola matanya menebar kebahagiaan. Wajahnya makin bercahaya, indah sekali. Bak berlian, bercahaya di tengah gemerlap. Perempuan yang berdiri di hadapannya itu mengundang hati Karmin untuk jatuh cinta. Tetapi, sesekali Karmin mengucap istighfar, ia langsung menangis, dan ketakutan juga. Sosok itu adalah pandak. Ia tak menyangka wujud pandak yang diceritakan para tetua dan kitab-kitab putih itu jauh lebih cantik
Tertulis di kitab-kitab tua di kampung itu, pandak adalah sesosok manusia bertubuh pendek, sekitar seratus empat puluh sentimeter, mereka adalah nenek moyang kaum-kaum tercela dan dilaknat Tuhan. Semua dari mereka berjenis kelamin laki-laki yang menyukai sesama jenisnya. Kemolekan wajah dengan dua bibir mungil merah yang mereka punya membuat kaum lelaki menjadi buta, akan kesesatan itu. Dunia manusia, tempat Karmin sebenarnya sudah lama punah, Tuhan memberikan satu tempat yang Ia sisakan di dunia ini, yaitu kampung Karmin. Dinding-dinding dan semak belukar itulah yang menyelamatkan orang-orang di kampung Karmin dari kesesatan para pandak. Pada waktunya ketetapan Tuhan untuk mengakhiri dunia ini tidak bisa dipungkiri. Tuhan berencana menguji Karmin dan orang-orang taat di kampung itu. Pada saat itulah Tuhan akan melihat sejauh mana keimanan dan batas ketaatan Karmin dan lainnya. Tetapi ada suatu hal yang membuat Karmin tak bisa mengalihkan pandangannya malam itu. pandak itu serupa dengan mendiang istrinya, Halimah. “Tidak, Halimah engkau kah itu?” gumam Karimin tak percaya.
Setelah pertemuan itu, Karmin membawa pandak itu kerumahnya, ia telah jatuh cinta. Di dalam hatinya, sesosok ini bukan pandak tapi istrinya yang telah meninggal. Halimah yang telah tiada dua tahun yang lalu. Istri yang amat dicintainya itu meninggal terkena duri semak tembok yang menutupi kampung mereka. Karmin yakin bahwa istrinya telah hidup kembali. Bersama dengan kejadian bolongnya tembok dan kebakaran semak itu, Karmin yakin itu mukjizat dari Tuhan yang telah menghidupkan istrinya. Ia amat terharu doa-doa nya dikabulkan oleh Tuhan.
Seminggu telah berlalu suatu hari Karmin sudah hilang akal, ia membawa pandak itu ke masjid meminta para tetua menikahkan mereka kembali.
“Demi Tuhan, sungguh tindakanmu ini telah sesat Karmin!” Bentak salah satu tetua dengan wajah murka.
“Cepat, nikahkan kami sekarang juga para tetua”, Minta Karmin dengan tegas.
“Tidak, kau telah menyalahi ajaran Tuhan Karmin, ingat dia itu pandak!”
Di tengah keributan itu para warga berbondong-bondong ke masjid. Mereka tidak percaya Karmin membawa pandak. Orang-orang takut melihat pandak itu. Berkali-kali Karmin menyatakan bahwa sosok itu bukan pandak tetapi Halimah istrinya. Tuhan telah melahirkan Halimah kembali untuk datang kepadanya.
Para warga sontak kaget, mendengar pernyataan Karmin. Mereka tidak habis pikir Karmin mempunyai pikiran seperti itu, luka lama atas kerinduan ditinggal sang mendiang istri telah menyesatkan pikiran Karmin.
“Kau telah menyalahi ajaran Tuhan Karmin, Tuhan telah menciptakan laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan, kenapa kau beranggapan pandak itu istrimu? Orang yang telah mati tidak akan hidup lagi Karmin! Bagimana ini, tetua? Karmin ingin menikahi pandak itu, sebentar lagi tanah ini akan dilaknat Tuhan” Tutur salah satu warga.
Para warga berteriak, mereka semua ingin membunuh Karmin dan pandak itu, para warga kemudian memisahkan mereka berdua. Mereka mengikat Karmin dan pandak itu dengan seutas tali pada sebuah tiang besi yang berbeda. Dilemparkan minyak-minyak ke tubuh, wajah dan kaki Karmin dan pandak itu. Sampai lupa di sekitar mereka terdapat semak-semak kering dan ikut terbakar, api mulai menjalar luas, mereka tidak bisa lari, dinding-dinding itu mendekap mereka semua. Habis sudah manusia pada malam itu. Tuhan menguji batas kesabaran Karmin dan orang-orang desa itu. Tetapi umat terakhir itu memilih binasa demikian.




