Oleh: Nazzun Muhtar
Malam turun seperti rahasia,
menyapu riuh yang gagal kupahami.
Di bawah lampu yang setia menunggu,
pikiranku akhirnya menemukan rumah.
Siang terlalu gaduh untuk percaya,
terlalu banyak arah memanggil nama.
Hanya di gelap yang jujur ini
aku bisa duduk utuh dengan kesadaran.
Aku belajar perlahan,
seperti mengeja luka dan harapan.
Kata demi kata menetap lebih lama,
sebab malam tak pernah tergesa.
Jika kelak aku sampai pada terang,
biarlah malam tahu lebih dulu.
Di saat dunia memilih bermimpi,
aku memilih tumbuh dalam sunyi.




